Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Hanifan sang Divo

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
31/8/2018 05:30
Hanifan sang Divo
()

INILAH pesta olahraga sarat makna. Asian Games ini tak semata melahirkan banyak bintang peraih medali, tapi juga merekatkan tokoh bangsa yang berseteru. Itulah yang dilakukan pesilat Hanifan Yudani Kusumah. Ia meraih medali emas sekaligus menorehkan sejarah: menyatukan Joko Widodo dan Prabowo Subianto dalam satu pelukan hangat. Ia serupa kanak-kanak yang cemas melihat 'kedua orangtuanya' terus berseteru.

Pesilat berusia 20 tahun itu tak semata cakap menundukkan lawan, tapi mafhum ihwal bangsa yang terbelah. Rabu (29/8) lalu, ia melakukan tugas yang muskil dilakukan para tokoh mana pun di negeri ini. Ia melakukan tugas seorang 'negarawan'. Ia bukan sekadar bintang, melainkan divo, adibintang.

Saya menyaksikan pertarungan seru Hanifan melawan pesilat Vietnam, Thai Linh Nguyen, lewat layar televisi. Baku serang ganti berganti sejak awal. Terlihat jelas serangan Hanifan lebih dominan. Namun, aksi tricky berkali-kali dilancarkan lawan. Berulang kali pula protes diajukan pelatih kedua kubu. Nilai Hanifan kerap dikurangi. Padahal, kemenangan telak sudah di depan mata. Namun, tim juri menilai ia menyerang bagian tubuh yang pantang.

Karena itu, ketika wasit menyatakan dirinya menang, Hanifan pun jadi sangat emosional. Ada perasaan kemenangan di depan mata hendak digagalkan. Ia berteriak nyaring dengan air mata berderai. Dengan tubuh berselubung bendera, ia berselebrasi dengan rasa bangga. Ia bersujud beberapa saat, bersyukur pada Sang Ilahi.

Lalu, ia berlari ke atas tribune kehormatan. Di deretan depan ada Wakil Presiden Jusuf Kalla, Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, Presiden Joko Widodo, dan Ketua Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia Prabowo Subianto. Dengan spontan ia memeluk kedua calon presiden itu dengan wajah berlawanan arah. Jadilah wajah kedua tokoh itu yang terlihat bersatu menghadap ke penonton. Ada kecerdasan spontan Hanifan agar kedua tokoh itu bersatu.

Tempik sorak pun menggema. Ada perasaan sesak di dada seperti terbebaskan. Ada gairah bersama yang dihunjamkan ke dalam sukma bangsa ini. Di situ kecemasan berganti harapan, kerinduan bersua kenyataan. Hanifan jadi oasis paling menyejukkan.

"Saya hanya ingin melalui pencak silat, bangsa ini bisa bersatu. Terutama karena pencak silat adalah budaya bangsa," kata Hanifan seusai memeluk kedua tokoh itu. Ini pernyataan sarat makna: aktual, kultural, dan amat terasa sublimasinya.

Pencak silat memang lahir dari dari Bumi Nusantara. Cabang olahraga yang baru dipertandingkan di Asian Games 2018 ini memang paling berjaya mendulang emas. Ia menangguk 14 emas dari 16 emas yang ada; atau emas ke-30 yang diperoleh kontingan Indonesia tiga hari menjelang penutupan. Inilah medali emas paling melimpah Indonesia sepanjang sejarah Asian Games.

Sebentar lagi pesta olahraga ini segera usai. Layaklah prestasi itu memompakan gairah berkompetisi dengan penuh percaya diri dan saling menghargai. Hanifan, anak muda itu, setidaknya telah mengajarkan kapan saat bersaing dan kapan harus bersanding.

Di hari-hari persaingan politik yang akan kian memanas, saya membayangkan gambar Hanifan mendekap Jokowi dan Prabowo akan terus menjadi bergerak hidup dalam setiap kesadaran kita. Bahwa keduanya akan bertarung untuk sama-sama memuliakan Indonesia. Hanya cara mencapai yang ditawarkan yang berbeda.

Karena itu, ganjil dan abnormallah jika kita mengalami defisit persaudaraan dalam proses meyeleksi dan memilih kedua tokoh itu. Sungguh malu pada Hanifan, sang divo olahraga yang berjiwa 'negarawan' itu.

 



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.