Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH yang akan terjadi dengan penghitungan suara pada pemilu legislatif jika semua partai tidak memiliki saksi di semua TPS? Siapakah yang percaya bahwa hasil penghitungan suara jujur?
Pertanyaan serupa, apakah yang bakal terjadi dengan penghitungan suara di TPS jika pasangan capres-cawapres tidak menempatkan saksi di semua TPS? Siapakah yang percaya bahwa hasil penghitungan suara jujur?
Tanpa saksi partai sebagai peserta pemilu, tanpa saksi capres-cawapres, maka penghitungan suara di TPS sepenuhnya dipercayakan kepada KPU dan Bawaslu, dua lembaga negara yang bekerja dengan anggaran negara yang antara lain berasal dari pajak. Tugasnya ialah menyelenggarakan pemilu yang jujur, adil, dan bersih. Akan tetapi, percayakah pembayar pajak khususnya masyarakat umumnya bahwa tiga kualitas moral itu (jujur, adil, bersih) dapat ditegakkan KPU dan Bawaslu?
Sedikitnya ada dua cara untuk menjawab pertanyaan itu. Pertama, melalui survei yang langsung menanyakan kepada masyarakat yang punya hak pilih.
Kedua, meneliti putusan-putusan Mahkamah Konstitusi selama 2004-2018 mengenai sengketa pemilu dan pilkada. Seberapa jauh apa yang ditetapkan penyelenggara pemilu ternyata memang sesuai dengan putusan-putusan MK? Atau malah sebaliknya? Tentu dengan catatan semua perkara yang ditangani hakim MK yang korupsi, Akil Mochtar dan Patrialis Akbar, tidak ikut dikaji.
Namun, dalam skenario yang paling optimistis sekalipun sebagai hasil dua cara di atas, kiranya tidak ada peserta pilkada/pemilu/pilpres yang berani mempertaruhkan penghitungan suara di semua TPS, di seluruh daerah pemilihan kepada penyelenggara pemilu tanpa saksi di TPS. Kenapa? Di tengah materialisme, tidak ada akal sehat yang bersedia berkorban mempertaruhkan kejujuran itu untuk diuji.
Kiranya hanya pikiran tolol yang mau mempertaruhkan kejujuran penghitungan suara di TPS tanpa saksi peserta pemilu. Kejujuran tidak tegak dengan sendirinya. Bahkan, ada saksi di TPS pun orang berani mencurangi hasil penghitungan suara.
Seyogianya rakyat ingin suaranya dihitung dengan jujur. Namun, siapa anak bangsa yang sukarela, demi mengawal suara rakyat itu, bersedia tanpa dibayar menjadi saksi di 801.291 TPS di seluruh Indonesia?
Sekarang muncul tawaran, peserta pemilu bisa menekan biaya saksi dengan memanfaatkan salinan data daring yang diunggah KPU ataupun data pengawas TPS. Pada Pemilu 2019, pengawas TPS ada di setiap TPS. Mereka punya hasil penghitungan suara di tingkat TPS. Pokok perkara muncul kembali, siapa percaya kejujuran mereka?
Pertanyaan dipertajam, di TPS mana saja pengawas TPS dapat dipercaya sehingga parpol dapat menghemat biaya saksi? Bisakah Bawaslu merekomendasikannya?
Tentu tawaran Bawaslu itu tidak menafikan mental wani piro, berani bayar berapa. Transaksi yang terjadi berpotensi malah bukan menghemat ketimbang uang saksi yang diandaikan Rp100 ribu untuk satu saksi di TPS. Formulir C1 yang dipegang pengawas itu jelas dan tegas punya nilai ekonomi.
Tingginya tingkat politik uang dalam pemilu sedemikian rupa sehingga rasanya tidak ada lagi anak bangsa ini yang menjadi malaikat sejati yang tidak memperhitungkan 'saya mendapatkan apa'. Sebetulnya demokrasi kita berkekuatan untuk menenggelamkan perilaku terpuji anak bangsa.
Kepercayaan di TPS urusan mikro yang berdampak sangat makroskopis, dapat berakibat terbunuhnya sebuah partai karena tidak lulus ambang batas parlemen. Karena itu, kepercayaan di TPS harus dibela dengan ongkos sangat mahal.
Urusan menjadi bertambah kompleks karena pileg dan pilpres serentak menimbulkan persoalan sharing ekonomi pembiayaan saksi pilpres di semua TPS, di antara partai-partai pengusung/pendukung capres-cawapres. Di tengah buruknya kepercayaan publik kepada partai, mungkinkah saksi capres sebagai komoditas punya nilai ekonomi lebih rendah, bahkan tanpa bayar demi punya presiden pilihan hati? Masih adakah malaikat sejati khusus untuk pilpres?
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved