Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
INILAH hari-hari yang membuat kita mangkak dan terharu. Hari-hari ketika perolehan medali terus meninggi di ajang Asian Games 2018 ini.
Perhelatan belum usai, masih enam hari lagi, tapi tim Indonesia menorehkan sejarah gemilang perolehan medali emas di ajang olahraga multicabang terbesar di Asia ini. Hingga hari ke-9, Indonesia meraih 22 medali emas, 15 perak, dan 27 perunggu.
Masih ada enam hari lagi, tentu terbuka menganga peluang merebut berkeping-keping emas lagi. Banggalah kita delapan emas diraih cabang pencak silat dan dua emas diraih panjat tebing beregu putra-putri dalam waktu sehari. Pencak silat olahraga khas Indonesia yang baru kali ini dilagakan di Asian Games. Tentu atas usul--dan jadi privilese--Indonesia sebagai tuan rumah.
Tangis haru para atlet, kibaran tertinggi merah putih, berkumandangnya lagu Indonesia Raya, berkali-kali, seperti menjadi iringan gelora kebangkitan bangsa ini yang telah lama tertidur dalam dunia olahraga. Terlebih capaian di panggung Asian Games yang merupakan olahraga multicabang terbesar di benua Asia yang berpenduduk lebih dari separuh populasi dunia ini.
Tentu selain bara semangat para atlet dan tim, doa hening dan teriakan nyaring para penonton di berbagai laga juga serupa 'multivitamin' yang menguatkan. Ia menancapkan sugesti pada mereka yang berlaga di berbagai arena. "Tanpa penonton, laga (olahraga/sepak bola) tak berarti apa-apa.
Ia serupa sampah," kata pesepak bola Korea Selatan, Soon-hak, yang merumput di liga Indonesia. Para atlet kita pun selalu berucap, mempersembahkan medali bagi para penonton dan bangsa Indonesia.
Para peraih medali ialah para bahadur, pahlawan, para wira, dalam cerita epik berjudul 'Pesta Olahraga Bangsa-Bangsa Asia'. Banyak di antara mereka ialah anak-anak muda dengan prestasi luar biasa. Merekalah yang hidup 'tak umum' karena hari-harinya habis untuk latihan dan bertanding, dunia yang terpisah dari keluarga dan orang ramai seperti galibnya.
Ada pula beberapa cabang yang baru pertama kali mendulang emas atau yang menunggu berpuluh tahun. Menembak, misalnya, yang harus menunggu 52 tahun, setelah Asian Games 1966 di Bangkok. Petembak Muhammad Sejahtera Dwi Putra, peraih medali perak nomor 10 meter running, contoh manis dari proses yang pahit.
Muhammad harus menyepi di kamar tunggu menjelang laga final. Ia gugup dan muntah-muntah karena stres. Ini problem psikologis karena minimnya uji tanding. Pokok soalnya ialah minimnya dana yang dikucurkan untuk olahraga ini. Padahal, menembak menyediakan 20 medali.
Peraih emas ganda campuran tenis lapangan, Christopher B Rungkat/Aldila Setiadji, dan atlet karate Rifki Ardiansyah Arrosyid yang menanti selama dua windu. Rifki yang berlaga di kelas 60 kg kalah pengalaman dibandingkan seterunya, Amir Mahdi Zadeh dari Iran, peringkat ketiga dunia. Namun, Rifki yang juga prajurit TNI, mampu mengalahkannya.
Kini target 16 emas jauh terlampaui. Haruslah perolehan medali Asian Games 2018 menjadi modal menatap Olimpiade 2020 yang akan dihelat di Jepang. Negeri dengan kultur prestasi, tapi tak segan akan menimba ilmu pada Indonesia tentang pentas seni dalam upacara pembukaan Asian Games di Indonesia yang megah, tapi kental muatan lokal. Di negeri itu kejayaan kita akan diuji lagi.
Seluruh cabang olahraga mesti berbenah. Pemerintah pun jangan setengah-setengah berinvestasi di bidang olahraga yang terbukti membanggakan; terbukti membangun karakter disiplin dan kerja keras. Tak ada perkara instan di olahraga. Semuanya perlu keseriusan, kejujuran, kesabaran, dan tangguh dalam menjalani proses. Tak ada yang bisa menolong diri sendiri kecuali prestasi.
Dunia olahraga hari-hari ini ialah sebuah kontras dengan dunia politik. Dunia olahraga yang terus kerja untuk meninggikan prestasi bangsa, dunia politik seperti membelahnya saban hari. Layaklah kita berguru ilmu pada sportivitas olahraga. Bahwa setelah para pengadil memutuskan nilai, ia menjadi sesuatu yang final dan mengikat, betapa pun ada yang menilai tak adil. Seperti wasit yang memimpin timnas sepak bola Indonesia melawan Uni Emirat Arab, yang dinilai merugikan kita.
Sukses Indonesia di Asian Games 2018 mestinya membesarkan hati kita bersama. Adanya klaim olahraga tertentu yang berjaya meraih medali berkat tokoh tertentu pula, akan menjadi perang klaim yang tak sehat. Jika ada yang sinis bahkan terus 'menggoreng' perhelatan Asian Games ini, mereka juga gagal menerapkan arti penghargaan terhadap perjuangan bangsa sendiri, ya para olahragawan itu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved