Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Mari Bangga Bersama

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
28/8/2018 05:30
Mari Bangga Bersama
(MI/Tiyok)

INILAH hari-hari yang membuat kita mangkak dan terharu. Hari-hari ketika perolehan medali terus meninggi di ajang Asian Games 2018 ini.

Perhelatan belum usai, masih enam hari lagi, tapi tim Indonesia menorehkan sejarah gemilang perolehan medali emas di ajang olahraga multicabang terbesar di Asia ini. Hingga hari ke-9, Indonesia meraih 22 medali emas, 15 perak, dan 27 perunggu.

Masih ada enam hari lagi, tentu terbuka menganga peluang merebut berkeping-keping emas lagi. Banggalah kita delapan emas diraih cabang pencak silat dan dua emas diraih panjat tebing beregu putra-putri dalam waktu sehari. Pencak silat olahraga khas Indonesia yang baru kali ini dilagakan di Asian Games. Tentu atas usul--dan jadi privilese--Indonesia sebagai tuan rumah.

Tangis haru para atlet, kibaran tertinggi merah putih, berkumandangnya lagu Indonesia Raya, berkali-kali, seperti menjadi iringan gelora kebangkitan bangsa ini yang telah lama tertidur dalam dunia olahraga. Terlebih capaian di panggung Asian Games yang merupakan olahraga multicabang terbesar di benua Asia yang berpenduduk lebih dari separuh populasi dunia ini.

Tentu selain bara semangat para atlet dan tim, doa hening dan teriakan nyaring para penonton di berbagai laga juga serupa 'multivitamin' yang menguatkan. Ia menancapkan sugesti pada mereka yang berlaga di berbagai arena. "Tanpa penonton, laga (olahraga/sepak bola) tak berarti apa-apa.

Ia serupa sampah," kata pesepak bola Korea Selatan, Soon-hak, yang merumput di liga Indonesia. Para atlet kita pun selalu berucap, mempersembahkan medali bagi para penonton dan bangsa Indonesia.

Para peraih medali ialah para bahadur, pahlawan, para wira, dalam cerita epik berjudul 'Pesta Olahraga Bangsa-Bangsa Asia'. Banyak di antara mereka ialah anak-anak muda dengan prestasi luar biasa. Merekalah yang hidup 'tak umum' karena hari-harinya habis untuk latihan dan bertanding, dunia yang terpisah dari keluarga dan orang ramai seperti galibnya.

Ada pula beberapa cabang yang baru pertama kali mendulang emas atau yang menunggu berpuluh tahun. Menembak, misalnya, yang harus menunggu 52 tahun, setelah Asian Games 1966 di Bangkok. Petembak Muhammad Sejahtera Dwi Putra, peraih medali perak nomor 10 meter running, contoh manis dari proses yang pahit.

Muhammad harus menyepi di kamar tunggu menjelang laga final. Ia gugup dan muntah-muntah karena stres. Ini problem psikologis karena minimnya uji tanding. Pokok soalnya ialah minimnya dana yang dikucurkan untuk olahraga ini. Padahal, menembak menyediakan 20 medali.

Peraih emas ganda campuran tenis lapangan, Christopher B Rungkat/Aldila Setiadji, dan atlet karate Rifki Ardiansyah Arrosyid yang menanti selama dua windu. Rifki yang berlaga di kelas 60 kg kalah pengalaman dibandingkan seterunya, Amir Mahdi Zadeh dari Iran, peringkat ketiga dunia. Namun, Rifki yang juga prajurit TNI, mampu mengalahkannya.

Kini target 16 emas jauh terlampaui. Haruslah perolehan medali Asian Games 2018 menjadi modal menatap Olimpiade 2020 yang akan dihelat di Jepang. Negeri dengan kultur prestasi, tapi tak segan akan menimba ilmu pada Indonesia tentang pentas seni dalam upacara pembukaan Asian Games di Indonesia yang megah, tapi kental muatan lokal. Di negeri itu kejayaan kita akan diuji lagi.

Seluruh cabang olahraga mesti berbenah. Pemerintah pun jangan setengah-setengah berinvestasi di bidang olahraga yang terbukti membanggakan; terbukti membangun karakter disiplin dan kerja keras. Tak ada perkara instan di olahraga. Semuanya perlu keseriusan, kejujuran, kesabaran, dan tangguh dalam menjalani proses. Tak ada yang bisa menolong diri sendiri kecuali prestasi.

Dunia olahraga hari-hari ini ialah sebuah kontras dengan dunia politik. Dunia olahraga yang terus kerja untuk meninggikan prestasi bangsa, dunia politik seperti membelahnya saban hari. Layaklah kita berguru ilmu pada sportivitas olahraga. Bahwa setelah para pengadil memutuskan nilai, ia menjadi sesuatu yang final dan mengikat, betapa pun ada yang menilai tak adil. Seperti wasit yang memimpin timnas sepak bola Indonesia melawan Uni Emirat Arab, yang dinilai merugikan kita.

Sukses Indonesia di Asian Games 2018 mestinya membesarkan hati kita bersama. Adanya klaim olahraga tertentu yang berjaya meraih medali berkat tokoh tertentu pula, akan menjadi perang klaim yang tak sehat. Jika ada yang sinis bahkan terus 'menggoreng' perhelatan Asian Games ini, mereka juga gagal menerapkan arti penghargaan terhadap perjuangan bangsa sendiri, ya para olahragawan itu.



Berita Lainnya
  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.

  • Melindungi Konsumen

    06/2/2026 05:00

    LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.