Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Turki

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
15/8/2018 05:30
Turki
()

TERBAYANG bagaimana sibuknya pemerintahan Turki hari-hari ini. Tekanan perdagangan yang harus dihadapi dari AS membuat perekonomian mereka terhuyung. Aliran modal yang sebelumnya deras masuk ke negeri itu, kini mulai berbalik arah. Mata uang lira pun terjerembap dengan depresiasinya sudah lebih dari 40%.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan boleh mengajak negara-negara Eropa untuk tidak menjadikan dolar AS sebagai mata uang rujukan dunia. Namun, keputusan seperti itu tidak bisa diputuskan sendiri. Apalagi AS pun pasti tidak mau kehilangan hegemoni atas mata uang mereka.

Peraih Hadiah Nobel Ekonomi Paul Krugman memang menyebutkan adanya ketidakadilan dalam sistem mata uang dunia. Sementara negara lain harus berjuang dengan fluktuasi nilai tukar yang selalu bergejolak, AS menjadi satu-satunya negara yang tidak pernah terimbas karena mata uang yang mereka pergunakan ialah dolar AS.

Krugman menunjuk banyak negara akhirnya menjadi korban dari gejolak nilai tukar. Salah satunya ia sebut pengalaman Indonesia pada krisis keuangan 1997. Utang Indonesia yang sebelumnya masih di bawah 60% dari produk domestik bruto tiba-tiba melonjak menjadi 170% dari PDB hanya karena penurunan nilai mata uang yang tajam dalam beberapa bulan.

Hari-hari ini pekerjaan rumah Erdogan menjadi lebih berat karena ia harus mengendalikan kepanikan publik. Ketidakpercayaan pasar terhadap perekonomian Turki bisa memperburuk keadaan. Namun, langkah penyelamatan harus segera dilakukan karena setiap hari keadaan bisa menjadi lebih buruk.

Krugman mengatakan langkah yang harus segera ditempuh ialah menstabilkan nilai mata uang lira. Salah satu langkah yang biasanya dilakukan ialah menaikkan tingkat suku bunga. Namun, kebijakan itu bisa menciptakan persoalan baru karena akan menyebabkan kredit macet dan dampaknya berpengaruh terhadap sistem perbankan.

Indonesia pernah merasakan pahitnya salah resep yang diberikan Dana Moneter Internasional. Usul IMF untuk menutup 48 bank dan kebijakan Bank Indonesia untuk meningkatkan suku bunga sampai 80% justru memperburuk keadaan. Perusahaan-perusahaan pun bertumbangan karena tercekik oleh tingginya tingkat suku bunga.

Oleh karena itu, Krugman lebih condong untuk mengikuti langkah yang pernah dilakukan Malaysia, yaitu diterapkan kebijakan kontrol devisa untuk sementara waktu. Langkah itu setidaknya efektif untuk mencegah berkembangnya spekulasi yang semakin memurukkan nilai tukar. Langkah lain yang perlu dilakukan ialah menghentikan pinjaman luar negeri.

Namun, dalam kasus Turki sekarang ini, keadaannya menjadi bertambah rumit karena adanya unsur nepotisme. Penunjukan menantu Erdogan sebagai menteri keuangan menurunkan kredibilitas pemerintah. Itulah yang membuat warga Turki tidak sepenuhnya mendukung langkah Erdogan untuk menyelamatkan perekonomian negaranya.

Satu yang dikhawatirkan dari krisis yang dihadapi Turki ialah dampaknya yang menular. Sekarang ini seluruh dunia merasakan tekanan pada nilai tukar mata uang mereka. Hal yang sama terjadi di pasar modal karena indeks harga saham berada pada zona merah.

Indonesia pun tidak terkecualikan dari terkena dampak krisis yang terjadi di Turki. Nilai tukar rupiah bahkan sempat menembus angka 14.600 per dolar AS. Sementara itu, indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia tertekan sampai di bawah 5.800.

Memang, ada koinsiden ketika krisis yang tengah melanda Turki bersamaan dengan laporan Bank Indonesia tentang kondisi neraca transaksi berjalan. Defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal II meningkat tajam hingga mencapai US$8 miliar. Dengan tambahan defisit itu, defisit neraca transaksi berjalan pada semester I sudah di atas US$13 miliar. Inilah yang membuat pasar nervous dan akibatnya nilai tukar rupiah ikut tertekan.

Pemerintah perlu berhati-hati dengan keadaan ini. Apalagi BI sudah memperingatkan, kalau pemerintah tidak pandai menjaga belanja dan neraca keuangan, defisit neraca transaksi berjalan pada tahun ini bisa mencapai US$25 miliar.

Presiden Joko Widodo sudah tepat menghentikan proyek infrastruktur yang tidak mendesak dan dibiayai dari pinjaman. Pemerintah harus mengendalikan pinjaman luar negeri karena akan semakin menekan neraca pembayaran. Selama ini badan usaha milik negara terlalu berani mencari pinjaman luar negeri untuk membiayai proyek-proyek mereka. PT Jasa Marga dan PT Wijaya Karya mengeluarkan komodo bond di Bursa London masing-masing Rp4 triliun dan Rp5,4 triliun dengan bunga 7,5% dan 7,7%.

Penawaran obligasi di luar negeri memang terlihat prestisius dan menggambarkan tingginya kepercayaan asing kepada Indonesia. Tidak mengherankan apabila PT Perusahaan Listrik Negara, PT Telkom Indonesia, dan PT Hutama Karya bersiap-siap untuk ikut menjual obligasi. Namun, dengan kondisi global seperti sekarang, eksposur utang luar negeri yang berlebihan akan membahayakan perekonomian nasional. Inilah yang harus kita hindari bersama.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.