Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah palagan politik yang riuh rehatlah sejenak. Tataplah lapangan sepak bola. Di sana ada oasis yang membasahi kita. Di medan politik yang membelah-belah dan membuat kita lelah, sepak bola terus merekatkan dengan caranya. Ia serupa magnet: penonton berdatangan, berkumpul, dan bersatu demi menebar energi kemenangan bagi tim yang didukungnya.
Meminjam amsal John F Kennedy, "Jika politik kotor, puisi yang membersihkannya," saya izin mengubahnya menjadi, "Jika politik riuh dan keruh, biarlah sepak bola menyatukannya dan menjernihkannya."
Yang terbaru ialah performa timnas Indonesia U-16 di final Piala AFF 2018 di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur. Tim yang dilatih Fakhri Husaini itu tampil mengalahkan Thailand lewat adu penalti. Sejak fase grup, total 'Garuda Muda' mengoleksi 23 gol plus 4 gol adu penalti.
Inilah juara untuk pertama kalinya bagi timnas U-16 di level Asia Tenggara. Kini mereka bersiap untuk berlaga di Piala Asia 2018 yang hasilnya sebagai pintu masuk Piala Dunia 2019 U-17 di Peru.
Lewat televisi, saya selalu menonton timnas U-16 berlaga di AFF 2018. Bukan berarti ini tim sempurna, tapi saya terpesona akan permainan mereka yang cepat, padu, terampil mengolah bola, dan punya naluri mencetak gol berkelas. Mereka juga piawai melakukan transisi negatif, yakni usai menyerang menjadi bertahan. Emosi mereka pun terjaga sehingga sedikit menerima kartu. Kesuksesan adu penalti ialah bukti kematangan emosi mereka.
Selalu saya perhatikan timnas menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum laga. Tak ada skuat begitu khidmat menyanyi lagu kebangsaan selain timnas Indonesia. Mereka menyadari betul, atas nama Merah Putih, 'tugas negara' harus ditunaikan dengan memberikan suguhan terbaik, sebagai kado terindah bagi Indonesia yang bulan ini berulang tahun ke-73.
Tak jauh dari para pemain, juga begitu para penonton di tribune. Begitu khidmatnya mereka bernyanyi. Ada sekian banyak tulisan yang intinya dukungan setia. Salah satunya, 'Menang Kita Sanjung, Kalah Kita Dukung'. Inilah ikrar kesetiaan penuh dari para suporter. Para pemain pun selalu memuliakan penonton, 'pemain ke-12' itu, dalam setiap selebrasi seusai mencetak gol.
Wajarlah tangis para pemain pun pecah tak tertahankan ketika kemenangan diraih. Di tribune, juga tak berbeda; selain sorak-sorai kemenangan, tak sedikit para lelaki bersimbah air mata. Kemenangan sebuah timnas selalu diidentikkan bahwa negara telah merebut sesuatu yang amat berharga.
Saya menyebutnya nasionalisme dalam sepak bola, terutama yang direpresentasikan penonton sebagai nasionalisme autentik. Mereka menjaga dan memuliakan Indonesia dengan membiayai diri sendiri, kesadaran sendiri. Bandingkan dengan para elite negara yang mendapat privilese tinggi, tapi masih korupsi juga. Merekalah para perobek tenun keindonesiaan yang senyatanya.
Benarlah Jan Michael Kotoewski dalam Reflection on Football, Nasionalism, and National Identity, ada tiga aspek keterkaitan sepak bola dan nasionalisme: sebagai ekspresi atau refleksi identitas nasional; bagian dari praktik nasionalisme dan politik, dan pembawa gagasan kebangsaan (lihat saja ketika Piala Dunia 2018 dihelat di Rusia, betapa lekat identitas nasional diperlihatkan).
Memang, kompetisi kelompok usia, terlebih U-16 dan U-17, bersifat pembinaan. Yang menjadi ukuran tetaplah performa tinmas senior, yang sepanjang Piala AFF belum pernah meraih juara meski berulang kali masuk final. Menjadi juara kelompok usia muda pastilah bonus yang membanggakan dan bisa menaikkan gairah sepak bola di kalangan remaja dan menjadi pemasok timnas senior di kemudian hari.
Saya setuju pendapat Fakhri Husaini, Indonesia tak kurang pemain berbakat. Namun, yang menjadi soal ialah bagaimana membuat pemain berbakat menjadi pemain hebat. Ia butuh keseriusan berlipat. Demi menampung anak-anak berbakat, PSSI mestinya membuat setiap provinsi menggelar kompetisi U-16 secara rutin. Dari sini tim nasional dipasok.
Sudah terang, betapa sepak bola menjadi oasis di tengah krisis kebersamaan. Timnas U-16 baru saja membuktikannya. Juga U-19 yang mengukirnya pada 2013. Beruntunglah sebuah negeri yang rakyatnya mencintai tim nasionalnya. Jangan disia-siakan potensi oasis kebangsaan ini.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
LEDAKAN ekonomi digital yang selama ini digadang sebagai mesin pertumbuhan justru menyisakan ironi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved