Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah drama penentuan cawapres untuk Pilpres 2019, muncul sedikitnya tiga predikat yang tidak enak. Dua predikat disematkan kepada dua jenderal, satu untuk seorang sipil.
Jenderal yang satu disebut jenderal kardus, yang satu lagi disebut jenderal baper (bawa perasaan). Orang sipil yang memberi sebutan jenderal kardus juga diberi gelar yang tidak enak. Ia disebut mulut comberan.
Seorang prajurit sampai ke pangkat jenderal tentu punya sejumlah kualitas. Di antaranya berani mati di medan tempur. Bermental kardus dan baper kiranya tidak sampai bertabur bintang di bahu.
Namun, politik rupanya bisa bikin kualitas orang terjungkir balik. Kenapa? Dalam pertempuran jelas siapa lawan. Dalam percaturan mendapatkan posisi cawapres, yang ada ialah semua kawan di dalam koalisi, sekaligus rupanya semua juga lawan.
Keruwetan itu terekspresikan dalam dua bentuk. Yang satu berhamburan predikat tidak enak, yang kemudian resmi menghasilkan kejutan, yaitu pasangan capres-cawapres berasal dari satu partai. Semua itu terjadi, menurut yang disebut sebagai mulut comberan, karena ada transaksi.
Yang satu lagi petahana dengan pasangan yang tidak terduga. Sebuah nama berinisial yang sama, yang semula seperti hampir pasti menjadi cawapres, ternyata keliru. Pada menit terakhir publik pun diberi kejutan.
Kejutan terpokok dari penetapan dua cawapres kali ini ialah semuanya tidak masuk daftar cawapres yang menurut hasil survei lembaga kredibel mana pun sebagai cawapres yang punya efek elektoral yang bagus bagi tiap calon presiden.
Demikianlah, tidak satu pun cawapres ditetapkan dengan memakai hasil survei. Sepertinya semuanya ditetapkan lebih berdasarkan kecocokan batin sang calon presiden, dengan keyakinan bersamanya bakal menang. 'Keyakinan', bukan berbasiskan temuan hasil survei.
Dari mana keyakinan itu datang? Tidak jarang keputusan menentukan merupakan hasil renungan yang instingtif. Dia melampaui tenunan logika.
Setelah pasangan capres dan cawapres didaftarkan di KPU, kiranya tidak penting lagi 'kisah' lahirnya tiap keputusan. Post factum analisis tentu terbuka untuk dipaparkan, tetapi semua itu lebih untuk menghibur intelektualisme.
Juga kiranya tidak penting lagi bersikutat memperpanjang tiga sebutan, apakah itu jenderal kardus, jenderal baper, atau pun mulut comberan. Semua itu tidak lagi punya makna kepublikan untuk urusan pemilihan presiden pada 17 April 2019.
Sebutan yang dimaksudkan untuk merendahkan, mendiskreditkan ketokohan seorang prominen--di kubu capres mana pun dia berada--rasanya tidak elok untuk dipelihara dan diterus-teruskan penggunaannya. Semua sebutan itu menjadi pembicaraan lucu-lucuan di tengah warga, tapi tidak memperkaya keadaban publik.
Demokrasi bukan dagelan. Pilpres bukan pula ajang kardus, tempat baper, ataupun kancah mulut comberan. Di situ suara rakyat, hak konstitusional rakyat, dipertaruhkan dengan penuh hormat.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved