Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
DUA pasangan calon presiden dan calon wakil presiden resmi mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum. Joko Widodo memilih KH Ma'ruf Amin sebagai pasangannya, sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Delapan bulan ke depan merupakan kesempatan bagi rakyat Indonesia untuk mengenal calon pemimpin mereka sampai nanti memutuskan siapa yang akan dipilih pada 19 April 2019.
Sebagai pemegang hak kedaulatan, rakyatlah yang akan menentukan masa depan Republik ini. Kita bukan sekadar akan memilih pemimpin, melainkan memilih pemimpin terbaik yang bisa membawa Indonesia ke arah lebih baik.
Tantangan yang akan kita hadapi lima tahun ke depan tidak lebih mudah.
Kita masih dihadapkan kepada ketidakpastian global. Proteksionisme yang diterapkan AS menjadi ancaman bagi sistem perdagangan dunia. Pekerjaan rumah kita untuk terus menurunkan angka kemiskinan yang sekarang sudah satu digit.
Tugas dari dua pasangan calon untuk mempersiapkan konsep pembangunan yang bisa menjawab semua tantangan itu. Konsep itu perlu disosialisasikan agar rakyat paham dan tahu karena semua warga harus berperan serta memajukan negeri ini.
Kita paham dalam kampanye hal-hal yang idealis selalu dilontarkan. Kita paham memang semua 'kecap selalu nomor satu'. Namun, tentunya kita perlu mengingatkan, pembangunan itu merupakan proses yang terus berlanjut dan tidak pernah ada pembangunan yang sekali jadi.
Setelah empat tahun gencar dilakukan pembangunan infrastruktur, selanjutnya kita perlu membangun manusia Indonesia. Kualitas sumber daya manusia merupakan hal yang paling penting agar kita bisa bijaksana dan cerdas memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia.
Peningkatan kualitas manusia bisa dilakukan melalui jalur pendidikan. Namun, yang tidak kalah pentingnya ialah membangun sikap disiplin dan etos kerja. Dengan modal itulah kita bisa berharap mampu menciptakan produk dan dengan kreativitas serta inovasi bahkan kita kemudian bisa melakukan reproduksi.
Kita perlu belajar dari bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok. Mereka bisa menjadi negara maju karena mendahulukan pembangunan manusia. Ketika Jepang kalah dalam Perang Dunia II, yang pertama mereka lakukan ialah mengumpulkan guru yang masih ada agar bisa mendidik kembali anak-anak muda untuk menjadi tumpuan masa depan bangsa.
Pepatah Belanda memang mengatakan, hanya mereka yang memiliki generasi muda yang mempunyai masa depan. Generasi muda yang dimaksud tentu bukan sekadar muda usianya, melainkan mereka dibekali dengan ilmu dan pengetahuan agar bisa menaklukkan masa depan.
Apalagi sekarang kita sedang hidup di era digital. Tuntutan untuk membuat masyarakat melek teknologi semakin tinggi lagi. Teknologi bisa kita jadikan alat untuk menopang kinerja dan mempercepat penguasaan ilmu. Bahkan dengan teknologi, dunia bisa kita buat tidak ada batasnya.
Kita sudah melihat bagaimana anak-anak muda Indonesia mampu mengubah dunia. Kita punya orang seperti Nabiel Makarim yang membuat inovasi melalui layanan Go-Jek. Kita memiliki William Tanuwijaya yang melahirkan Tokopedia. Masih banyak anak muda lain yang muncul karena kreativitas dan inovasi mereka.
Hal itu menunjukkan kita mempunyai banyak potensi untuk membuat Indonesia maju. Yang kita butuhkan ialah critical mass yang memungkinkan perubahan itu bisa terus berlanjut. Untuk itu, harus mampu diciptakan kondisi yang memungkinkan munculnya pikiran-pikiran besar.
Presiden Joko Widodo sudah benar apabila tahun depan akan memfokuskan pembangunan pada peningkatan kualitas SDM. Kita memang harus terus mendorong perbaikan kualitas SDM. Agenda itu bahkan harus menjadi agenda berlanjut oleh siapa pun yang akan memimpin negeri ini.
Kontestasi pemilihan presiden harus memperkuat perjalanan bangsa ini ke depan. Apa yang sudah dilakukan para pemimpin bangsa harus menjadi modal bagi kita untuk bisa lebih maju lagi. Janganlah kita selalu melalui perjalanan dari titik nol.
Oleh karena itu, Pemilihan Umum 2019 jangan dijadikan zero sum game. Sebab, kita bukan sedang bersaing untuk saling menyingkirkan. Pemilu ialah adu ide gagasan untuk membuat Indonesia lebih berjaya dan perbaikan kehidupan rakyat.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved