Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Freeport

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
22/7/2015 00:00
Freeport
(Grafis/SENO)
MENJELANG 25 Juli, pembicaraan berkaitan dengan PT Freeport Indonesia pasti akan ramai kembali. Pada hari itu izin ekspor konsentrat untuk enam bulan Freeport berakhir. Seperti biasa, isunya akan melebar termasuk kepastian izin perpanjangan dan nasionalisasi. Berbagai pandangan akan dilontarkan untuk membenarkan pendapat.

Hanya, kebanyakan pandangan itu disampaikan dari Jakarta dan tidak berpijak pada kenyataan di lapangan. Padahal lebih dari 20 ribu karyawan setiap hari bekerja di lokasi yang ekstrem karena terletak di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut. Sekitar 98% pekerja Indonesia di sana merupakan orang yang luar biasa.

Di daerah yang tipis oksigen, mereka bekerja 24 jam sehari. Setelah Ertsberg yang habis ditambang, tidak lama lagi Grasberg pun habis deposit yang ada di permukaan tanah. Selanjutnya penambangan harus dilakukan dari bawah tanah. Deposit yang ada di bawah tanah diperkirakan mencapai 2,3 miliar ton.

Proses penambangan bawah tanah sudah pasti lebih sulit. Infrastruktur penambang an bawah tanah harus dipersiapkan agar tidak membahayakan pekerja. Itulah yang membuat diperlukannya investasi besar. Setidaknya dibutuhkan investasi US$15 miliar atau sekitar Rp200 triliun.

Investasi besar ini membutuhkan jaminan. Tidaklah mungkin orang berani menanamkan modal yang besar apabila tidak ada kepastian menjalankan operasi penambangan. Kepastian itu dinantikan investor karena dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk menyiapkan infrastruktur agar siap menggantikan produksi yang menurun.

Persoalan perizinan menjadi pelik karena pendekatannya lebih politis. Akibatnya, aspek ekonomi dan sosial tertinggal di belakang. Padahal sepanjang 48 tahun keberadaannya, Freeport merupakan penopang Timika dan Papua. Pendapatan asli Timika praktis berasal dari reeport.

Bahkan, hidup sekitar 130 ribu dari 250 ribu warga Timika bergantung dari perusahaan tambang tembaga tersebut. Setiap tahun Freeport membayar pajak perusahaan 35% dan juga royalti kepada negara. Akan tetapi, seperti umumnya pendapatan dari sumber daya alam yang lain, semua pendapatan itu masuk ke APBN.

Kita tidak seperti Timor Leste yang menempatkan pendapatan dari sumber daya alam ke rekening khusus dan disimpan sebagai dana abadi. Oleh karena masuk ke APBN, pendapatan dari sumber daya alam tidak pernah bisa dibedakan lagi dengan pendapatan dari sumber lain. Masalah Freeport akan terus menjadi kontroversi apabila didiskusikan dari kejauhan.

Apabila ingin ada kepastian, para pejabat yang mengambil keputusan harus datang langsung melihat ke lapangan. Sebab, seeing is believing. Termasuk Presiden Joko Widodo, sebaik-nya melihat langsung ke lokasi penambangan. Dengan melihat langsung bisa tahu bahwa Freeport merupakan wilayah penambangan paling ekstrem di dunia.

Dengan bertanya langsung kepada para pekerja, masyarakat, dan pejabat daerah di sana, Presiden akan merasakan arti perusahaan itu bagi mereka. Setelah melihat sendiri, Presiden bisa lebih tepat mengambil keputusan. Sikap Presiden akan berpengaruh terhadap penciptaan iklim investasi di Indonesia.

Investasi puluhan miliar dolar yang dibawa Freeport akan membantu ekonomi Indonesia yang sedang melesu. Apalagi Presiden sendiri sudah menegaskan untuk menggeser motor pertumbuhan ekonomi dari konsumsi ke produksi serta investasi. Saatnya Presiden untuk bersikap.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.