Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Negara tanpa Pejabat

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
02/8/2018 05:30
Negara tanpa Pejabat
()

TERUS terang rasanya kurang afdal apabila tidak menanggapi pernyataan Ketua MPR, Zulkifli Hasan, yang juga Ketua Umum PAN, yang mengkhawatirkan kepala daerah dan pejabat negara akan habis menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi jika KPK terus-menerus melakukan operasi tangkap tangan (OTT).

Seorang teman berkomentar tajam, pejabat negara habis tidak apa-apa asalkan korupsi juga habis. Apakah yang mau dipelihara pejabat negara yang korupsi?

Pendapat teman itu kiranya ekspresi yang hidup di kalangan warga. Bila warga pembayar pajak ditanya dalam sebuah jajak pendapat, pilih negara tanpa pejabat atau tanpa korupsi, kiranya hasilnya warga memilih negara tanpa pejabat.

Pendapat lebih memilih negara tanpa pejabat menunjukkan betapa muak rakyat kepada pejabat negara yang korupsi. Terlebih kepada pejabat publik yang duduk di jabatannya itu karena dipilih rakyat secara langsung, seperti kepala daerah.

Apa sebetulnya yang kita pertaruhkan dengan hasil pilihan demokratis itu jika hasilnya pejabat negara yang korupsi? Suara terbanyak bisa saja menyesatkan, yang terpilih dalam pilkada ternyata seorang bajingan. Padahal, suara rakyat tidak bisa ditarik kembali. Sekali mencoblos di bilik suara, seumur hidup menyesal. Apa yang disesali?

Tentu tidak menyesali demokrasi sebagai sistem yang diyakini terbaik, sekalipun faktanya menghasilkan kepala daerah perampok uang negara. Orang lalu terhibur di dalam kepahitan produk demokrasi itu, untunglah masih ada KPK.

Demikianlah OTT yang dilakukan KPK terasakan mewakili penghukuman dari rakyat yang terluka karena amanahnya dihancurkan sang pejabat. Apakah pejabat negara akan habis menjadi tahanan KPK jika KPK terus-menerus melakukan OTT? Jawaban warga bisa tegas, kenapa tidak? Kenapa tidak dihabisi saja semua pejabat negara yang korupsi itu?

Jika seorang Zulkifli Hasan, yang pejabat negara itu, Ketua MPR, tidak ingin tertangkap tangan KPK, pilihannya gamblang, yaitu jangan korupsi. Kalau merasa diri sendiri tidak kuasa melawan godaan gratifikasi, misalnya, kenapa tidak mengundurkan diri saja dari jabatan publik?

Pejabat publik sepatutnya mempertanyakan diri sejati dan diri aktual dalam jabatan. Seberapa jauh terjadi perbedaan atau persamaan di antara keduanya?

Yang dicari tentunya orang yang bijaksana, yang pantas dihormati, yang memegang jabatan negara dengan martabat besar yang sadar betul akan dua perkara. Pertama, manusia ialah makhluk yang serbakurang. Kedua, kepentingan diri penyebab orang bertindak buruk. Bila dua perkara itu melekat dalam diri pejabat publik, baik diri yang sejati maupun yang teraktualkan dalam jabatan, kiranya tidak ada lagi kepala daerah dan pejabat negara yang menjadi tahanan KPK.

Sebaliknya, betapa celaka negara bila yang terpilih ternyata orang yang dirinya sejati dan dirinya yang aktual dalam jabatan memang berdarah korupsi. Inilah diri yang ingin menggemukkan yang serbakurang dan yang menjadikan kepentingan diri sebagai motif dasar tindakan. Pejabat negara macam ini biarlah dihabisi KPK, sekalipun dengan akibat negara tanpa pejabat.

Sesungguhnya dan senyatanya tidak masuk akal negara tanpa pejabat. Akan tetapi, di benak dan di hati warga, lebih tidak masuk akal dan sakit hati kenapa korupsi tidak dapat diberantas. Sampai kapan?

Yang ironis ialah sesuai nama lembaga, pemberantasan korupsi itu tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemberantasan, bukan hanya penangkapan koruptor. Suatu hari di depan sana, dapat berbalik warga pembayar pajak menilai KPK gagal. Lalu, orang bilang lebih baik negara tanpa pejabat, termasuk pejabat KPK.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.