Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
TERUS terang rasanya kurang afdal apabila tidak menanggapi pernyataan Ketua MPR, Zulkifli Hasan, yang juga Ketua Umum PAN, yang mengkhawatirkan kepala daerah dan pejabat negara akan habis menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi jika KPK terus-menerus melakukan operasi tangkap tangan (OTT).
Seorang teman berkomentar tajam, pejabat negara habis tidak apa-apa asalkan korupsi juga habis. Apakah yang mau dipelihara pejabat negara yang korupsi?
Pendapat teman itu kiranya ekspresi yang hidup di kalangan warga. Bila warga pembayar pajak ditanya dalam sebuah jajak pendapat, pilih negara tanpa pejabat atau tanpa korupsi, kiranya hasilnya warga memilih negara tanpa pejabat.
Pendapat lebih memilih negara tanpa pejabat menunjukkan betapa muak rakyat kepada pejabat negara yang korupsi. Terlebih kepada pejabat publik yang duduk di jabatannya itu karena dipilih rakyat secara langsung, seperti kepala daerah.
Apa sebetulnya yang kita pertaruhkan dengan hasil pilihan demokratis itu jika hasilnya pejabat negara yang korupsi? Suara terbanyak bisa saja menyesatkan, yang terpilih dalam pilkada ternyata seorang bajingan. Padahal, suara rakyat tidak bisa ditarik kembali. Sekali mencoblos di bilik suara, seumur hidup menyesal. Apa yang disesali?
Tentu tidak menyesali demokrasi sebagai sistem yang diyakini terbaik, sekalipun faktanya menghasilkan kepala daerah perampok uang negara. Orang lalu terhibur di dalam kepahitan produk demokrasi itu, untunglah masih ada KPK.
Demikianlah OTT yang dilakukan KPK terasakan mewakili penghukuman dari rakyat yang terluka karena amanahnya dihancurkan sang pejabat. Apakah pejabat negara akan habis menjadi tahanan KPK jika KPK terus-menerus melakukan OTT? Jawaban warga bisa tegas, kenapa tidak? Kenapa tidak dihabisi saja semua pejabat negara yang korupsi itu?
Jika seorang Zulkifli Hasan, yang pejabat negara itu, Ketua MPR, tidak ingin tertangkap tangan KPK, pilihannya gamblang, yaitu jangan korupsi. Kalau merasa diri sendiri tidak kuasa melawan godaan gratifikasi, misalnya, kenapa tidak mengundurkan diri saja dari jabatan publik?
Pejabat publik sepatutnya mempertanyakan diri sejati dan diri aktual dalam jabatan. Seberapa jauh terjadi perbedaan atau persamaan di antara keduanya?
Yang dicari tentunya orang yang bijaksana, yang pantas dihormati, yang memegang jabatan negara dengan martabat besar yang sadar betul akan dua perkara. Pertama, manusia ialah makhluk yang serbakurang. Kedua, kepentingan diri penyebab orang bertindak buruk. Bila dua perkara itu melekat dalam diri pejabat publik, baik diri yang sejati maupun yang teraktualkan dalam jabatan, kiranya tidak ada lagi kepala daerah dan pejabat negara yang menjadi tahanan KPK.
Sebaliknya, betapa celaka negara bila yang terpilih ternyata orang yang dirinya sejati dan dirinya yang aktual dalam jabatan memang berdarah korupsi. Inilah diri yang ingin menggemukkan yang serbakurang dan yang menjadikan kepentingan diri sebagai motif dasar tindakan. Pejabat negara macam ini biarlah dihabisi KPK, sekalipun dengan akibat negara tanpa pejabat.
Sesungguhnya dan senyatanya tidak masuk akal negara tanpa pejabat. Akan tetapi, di benak dan di hati warga, lebih tidak masuk akal dan sakit hati kenapa korupsi tidak dapat diberantas. Sampai kapan?
Yang ironis ialah sesuai nama lembaga, pemberantasan korupsi itu tugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Pemberantasan, bukan hanya penangkapan koruptor. Suatu hari di depan sana, dapat berbalik warga pembayar pajak menilai KPK gagal. Lalu, orang bilang lebih baik negara tanpa pejabat, termasuk pejabat KPK.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved