Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

B20

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
01/8/2018 05:30
B20
()

PRESIDEN Joko Widodo memerintahkan penerapan biodiesel 20% atau B20 segera direalisasikan. Kebijakan ini sudah lama ditetapkan, tetapi implementasinya begitu lambat. Padahal, kebijakan ini akan membuat Indonesia bisa menghemat devisa minimal US$21 juta, atau sekitar Rp300 miliar setiap harinya.

Kalau Presiden merasa kecewa sangatlah wajar karena kita sering kali terlalu egois. Kita tidak pernah mau melihat dari konteks yang lebih luas. Kita hanya mencoba mencari pembenaran demi kepentingan kita sendiri.

Padahal, penggunaan biodiesel membawa dampak yang sangat luas. Pertama, persiapan untuk mengantisipasi habisnya energi fosil. Kedua, penggunaan energi nabati membantu mengurangi pengurangan emisi gas buang yang kita tahu menyebabkan pemanasan global. Ketiga, yang paling krusial sekarang ini, mengurangi defisit perdagangan yang berpengaruh terhadap defisit neraca transaksi berjalan. Keempat, substitusi impor minyak mentah berdampak kepada penguatan industri biofuel dalam negeri dan perbaikan pendapatan petani serta pengusaha kelapa sawit.

Keberatan memang disuarakan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia. Mereka mempersoalkan kualitas biofuel yang ada karena berdampak terhadap kondisi mesin dan biaya bahan bakar akibat konsumsi yang bertambah.

Kita tentu harus mendengarkan masukan dari pengguna. Hanya, masukan itu jangan sampai menggagalkan agenda besar kita untuk mengembangkan biofuel. Hal itu disebabkan kita tidak bisa menunggu sampai energi fosil habis baru mencari alternatifnya.

Sudah banyak pengembangan yang dilakukan negara lain untuk beralih dari energi fosil ke energi nabati. Mereka tidak menghadapi kendala dan bisa menemukan jalan keluar dari keberatan yang disampaikan Gaikindo maupun Aptrindo. Sekarang kita tinggal mau atau tidak untuk tidak bergantung kepada energi fosil yang setiap hari impornya sekitar 800 ribu barel.

Kita bisa belajar dari pengusaha otomotif asal Swedia Per Carstedt. Di awal 1990-an dia membawa ide untuk mendorong penggunaan etanol sebagai bahan bakar mobil di negaranya. Ia dorong perusahaan otomotif Ford untuk menyediakan mobil dengan bahan bakar etanol.

Ide satu orang itu ternyata mampu mengubah Swedia secara keseluruhan. Sekarang hanya tinggal 30% energi yang dipergunakan Swedia berasal dari fosil. Carstedt memulai dengan menjual tiga mobil flexi-fuel kemudian naik menjadi 300 dan kemudian menjadi 3.000 mobil.

Swedia bukan satu-satunya negara yang menjadikan biofuel sebagai BBM. Brasil tidak lagi mengandalkan kebutuhan energinya dari fosil, tetapi juga dari energi yang terbarukan. Peralihan itu memang tidak mudah dilakukan. Sering kali masalah harga menjadi kendala karena penggunaan energi terbarukan dirasakan terlalu mahal.

Namun, konsistensi kebijakan dari pemerintah membuat kendala itu bisa terjawab. Dengan perjalanan waktu pengembangan teknologi membuat harga energi terbarukan bisa lebih efisien. Sekarang Brasil dan Swedia merasakan investasi jangka panjang mereka dan tidak pernah terganggu kenaikan harga minyak dunia.

Kebiasaan untuk berpikir instan merupakan penyakit kita sebagai bangsa. Kita tidak pernah mau merasakan sulitnya. Semua mau cepat menikmati hasil tanpa mau bersusah payah. Padahal, kita tahu pepatah no pain, no gain.

Arah besar penggunaan energi kita sampai 2025 masih bertumpu kepada energi fosil. Hanya 17% yang kita harapkan berasal dari energi baru dan terbarukan. Sikap setengah hati itulah yang membuat kebijakan penggunaan biofuel jalan di tempat.

Sekarang kita harus membayar mahal sikap kita itu. Ketika produksi minyak tidak kunjung meningkat, sedangkan keperluannya terus bertambah, impor minyak maupun BBM semakin meningkat. Ketika harga minyak dunia cenderung naik ke angka di atas US$70 per barel, devisa pun lebih banyak keluar.

Kalau Presiden menekankan penerapan kebijakan B20 harapannya defisit perdagangan bisa dikurangi. Devisa yang kita miliki tidak semuanya mengalir keluar, tetapi bisa menggerakkan ekonomi di dalam negeri. Itulah yang diharapkan bisa menekan juga defisit transaksi berjalan karena kalau dibiarkan defisit itu bisa mencapai US$25 miliar tahun ini.

Kesediaan untuk mau memikirkan kepentingan bangsa dan negara itulah yang diharapkan sekarang. Kita tidak menutup mata akan beban yang harus ditanggung sekarang ini. Namun, dalam jangka panjang akan bermanfaat bagi perekonomian nasional dan akhirnya stabilitas ekonomi maupun politik akan dirasakan semua oleh kita.

 

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.