Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Pelintas Batas

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
31/7/2018 05:30
Pelintas Batas
()

PEMIMPIN publik yang autentik tak lahir dari papan advertensi. Itu pasti. Juga bukan dari polesan para konsultan musiman. Itu fakta yang tak terbantahkan. Pastilah bukan pula sosok yang didorong-didorong atau yang kian kemari digendong-gendong.

Kita meyakini sosok yang kita bincangkan bukan manusia paripurna karena kesempurnaan hanya milik-Nya. Namun, merekalah yang dengan integritas dan prinsipnya berjalan tegak lurus, tapi runduk pada kehendak publik. Mereka bisa 'ke sana kemari' tanpa imannya terbeli. Ia kukuh dengan laku hidupnya yang dipandu nuraninya yang hakiki.

Tokoh serupa itu umumnya lahir dari pergulatan pemikiran yang terus-menerus dan pergumulan kehidupan yang tiada henti. Mereka terus menempa diri agar cakap menghadapi aneka persoalan untuk mencari solusi.

Menyangkut tanggung jawabnya, mereka pantang melempar bola api ke pihak lain, apalagi terhadap kolega dan 'bawahannya'. Tak ada kamus mencari kambing hitam, terlebih memecah cermin ketika wajah sendiri bopeng dan coreng-moreng. Mereka orang yang telah selesai dengan problem pelik dirinya.

Ada yang mengidealkan, tokoh dengan T (besar) ialah mereka yang bicaranya jadi suluh dan laku hidupnya jadi pemandu masyarakat. Pemilihan pemimpin negara, terlebih pemilihan presiden, seharusnya kontestasi tokoh-tokoh terbaik itu. Merekalah para tokoh yang bobot integritasnya meninggi, concern kepublikaannya meluas, dan hasrat untuk kepentingan pribadi serta golongannya mengecil.

Di layar besar Indonesia, kita bisa melihat satu per satu 'tokoh besar' dan 'tokoh kecil'. Terlihat dan terasa mana yang neraca privat dan golongannya lebih besar ketimbang neraca kepublikannya. Terlihat mana yang horizon kebangsaannya kian luas, mana yang kian menyempit, betapapun dari ujarannya kerap terdengar 'demi bangsa', dan 'demi rakyat Indonesia'.

Adalah jamak para pemimpin memperjuangkan kepentingan sesuai lingkup tanggung jawabnya (agama, politik, sosial, organisasi profesi, dan sebagainya). Namun, pemimpin bangsa, merekalah yang melintasi semua itu. Merekalah para pelintas batas yang tangguh. Bukan mereka yang membangun tapal batas.

Kerinduan akan para pelintas batas itu diungkapkan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Ia rindu para pemimpin yang mampu melintas batas suku, agama, ras, dan budaya seperti Bung Karno. Padahal, di tengah keterbelahan tenun kebangsaan, kata Gubernur Yogyakarta itu, Indonesia butuh banyak pelintas batas yang tangguh.

Namun, Sultan merasa ia cukup terobati. Di tengah kelangkaan pemimpin seperti itu, Yogyakarta dan Indonesia memiliki tokoh seperti Mahfud MD. Mahfud ialah mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur dan Ketua Mahkamah Konstitusi (2008-2013). Di mata Sultan, Mahfud MD, akademisi hukum UII Yogyakarta itu, kini berkembang menjadi tokoh dengan derajat kebangsaan yang kian membesar.

"Pak Mahfud memiliki karakter yang sederhana, jujur, lugas, dan tegas, tapi selalu bersikap tasamuh, ciri ahlussunnah wal jamaah, dan seorang pelintas batas yang pandai bernegosiasi," puji Sultan saat memberikan sambutan Orasi Kebangsaan di Yogyakarta, Jumat pekan silam. Mahfud ia nilai juga berani bertarung demi kebenaran yang ia yakini.

Dalam orasinya, Mahfud mengaku tidak menyangka pidato Sultan bakal menyinggung dirinya. Di mata Mahfud, Sri Sultan justru pribadi yang penting untuk diteladani pemimpin di masa kini. Ia mengungkapkan fakta, betapa Sultan amat rendah hati karena Ngarsa Dalem-lah yang mendatangi Mahfud, rakyatnya, ketika membutuhkan pemikirannya.

Sejarah mencatat, di awal kemerdekaan, selain Bung Karno, antara lain Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, HOS Cokroaminoto, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ayah HB X, ialah tokoh besar, para pelintas batas yang hebat. Terbukti Sultan HB IX tak hanya mendukung Republik, tapi memberikan Yogya sebagai ibu kota ketika Jakarta dalam bahaya. Sultan HB IX bahkan memberikan kekayaannya untuk membiayai Republik yang masih muda usia.

Kita setuju Sri Sultan HB X, kini negeri ini butuh lebih banyak lagi para pemimpin yang menjadi pelintas batas yang tangguh. Justru karena pluralitas kita yang amat tinggi, kompleksitas persoalan silih berganti, tantangan global yang tidak ringan, kita butuh banyak para pelintas batas yang kian berkelas jika dibandingkan dengan di masa lalu. Bukan pelintas batas yang nyaring dalam retorika, tapi minus kerja nyata. Tokoh yang belum selesai dengan problem dirinya.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.