Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Magi Mudik

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
21/7/2015 00:00
Magi Mudik
(MI/SENO)
TAHUN ini mudik benar-benar menemukan daya maginya. Di tengah ekonomi yang lunglai, jantur mudik justru membuktikan kekuatannya. Ia meningkat pesat dibandingkan tahun silam. Ada nujum sekitar 27 juta manusia, 2 juta kendaraan, bergerak serupa tawaf raksasa mengitari bumi Indonesia, terbanyak di Jawa.

Memang mudik di Indonesia dikritik tak punya pijakan kultural. Namun, apa pun analisis historisnya, mudik ialah realitas mencengangkan. Karena itu, cemooh, penghadangan, dan pandangan negatif jadi serupa gumam. Sekalipun suatu saat desa-desa menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru.

Agaknya hanya mereka yang memahami masyarakat Indonesia secara utuh--yang penuh paradoks itu--bisa melihat mudik dengan kearifan penuh. Bagaimana menjelaskan di tengah keterpurukan ekonomi, pemudik justru meningkat; kemacetan parah justru diklaim sebagai kenikmatan; dan kematian di jalan raya tak menyurutkan pulangnya manusia-manusia urban dengan melintasi jarak ratusan, bahkan ribuan kilometer? Kalau bukan sebuah 'sihir' atau 'magi', kekuatan apa yang bisa menarik pergerakan manusia yang setara seluruh penduduk negara tetangga itu, Malaysia?

Maka, pertanyaan para pemudik setelah sampai ke tiuh (kampung halaman) ialah, "Kena macet berapa jam?" Jawaban yang menunjukkan kemacetan paling lama, rasa letih paling memudarkan orientasi, pegal-linu yang paling menyiksa tubuh, seolah menjadi bukti derajat mudik paling tinggi.

Namun, saya sepakat mudik harus terus dikritik, diperbaiki, agar ia menjadi oasis manusia-manusia urban dengan risiko sekecil mungkin. Khususnya kematian 'para syuhada' mudik atau mulang tiuh, menurut orang Lampung. Terlalu mahal mudik yang bertujuan beroleh keasyikan spiritual justru menjadi duka nestapa.

Saya menghargai para pengkritik yang juga benar argumentasinya. Ada yang mengatakan mudik ialah fenomena masyarakat yang kalah. Yang teraniaya di kota-kota dan di jalan raya. "Pembangunan yang timpang akan menjadikan mudik sebagai pengalihan dan pembenaran," kata Sunoto dari Cirebon ketika saya membedah editorial di Metro TV dengan judul "Transformasi Mudik" sehari sebelum Idul Fitri.

Ansyari dari Medan mengungkapkan catatan Bank Indonesia sekitar Rp150 triliun terdistribusi ke desa-desa selama arus mudik, sesungguhnya angka semu. "Angka itu tak membekaskan apa-apa. Setelah para pemudik balik ke kota, desa-desa kembali merana," katanya.

Mungkin ada benarnya. Karena uang yang mengalir ke desa-desa habis dibelanjakan untuk konsumsi. Selama 15 hari musim mudik dan balik, uang menghambur di banyak tempat, tapi tak bermanfaat lama. Misalnya, jadi investasi yang menarik dunia kerja.

Namun, di luar itu, kini muncul banyak paguyuban keluarga dalam level kecil yang menjadi semacam penawar rindu akan hubungan kekerabatan yang memudar karena bergegasnya kehidupan modern. Meski ada satu-dua unsur 'ria', ini bisa menjadi ruang tukar informasi: pendidikan, pekerjaan, dan segala macam.

Tinggallah tugas pembimbing umat, ulama dan cerdik pandai, mengingatkan tujuan puasa sesungguhnya melatih diri menjadi insan kamil. Manusia yang menghargai proses, yang tabah dan tak loba, tak korup. Manusia yang menjaga titik seimbang antara hubungan dengan Sang Illahi dan sesama manusia.


Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.