Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Solusi Otonomi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
27/7/2018 05:30
Solusi Otonomi
()

SUATU malam, di sebuah kota, sebuah provinsi, di rumah seorang saudagar paling makmur, ramailah para tokoh berkunjung. Ada beragam profesi berhimpun di situ. Terbanyak memang politisi. Begitulah galibnya, kata seseorang, setiap menjelang tahun politik rumah sang saudagar itu selalu penuh tamu. Jadi, memang tak hanya malam itu, tetapi ada banyak malam yang jadi latar waktu persamuhan.

Saudagar itu, seseorang yang amat berbakat menjalin tali sahabat dengan berbagai pihak. Lobinya pun menembus elite berkuasa di Jakarta. Bahkan, ketika ia diterungku karena terlibat rasywah namanya tak pudar. Dulu, calon politisi dan politisi tak ragu, tak tabu, mengatakan habis 'bersamuh' ke rumah 'sang juragan itu. Itu sudah bertahun lalu. Kabarnya kini ia tak lagi mengumbar pergaulan seperti dulu.

Sekelumit cerita itu sekadar contoh, bukti kuasa modal kerap menjadi 'penentu' siapa calon penguasa negara yang akan bertakhta (terutama di tingkat daerah). Ini pula yang diungkap Sarip Hidayat tentang berbagai ambivalensi otonomi daerah di negeri ini. Sarip, pakar desentralisasi dan otonomi daerah, bersama Asvi Warman Adam, pakar sejarah sosial politik, keduanya peneliti LIPI, dan Syachrumsyah Asri, ahli kebijakan publik Balitbang Kemendagri, dikukuhkan sebagai profesor riset, Rabu (26-7).

Sarip membawakan orasi ilmiah bertajuk Desentralisasi dalam Perspektif Relasi Negara dan Masyarakat: Mengurai Akar Persoalan dan Meretas Solusi Kebijakan Otonomi Daerah di Indonesia; Asvi bertajuk Dampak G-30-S: Setengah Abad Histografi Gerakan 30 September 1965; dan Syachrumsyah Asri membawakan orasi 'Kebijakan dan Strategi Pembangunan di Kawasan Perbatasan Kaltim dan Kaltara.

Menurut Sarip, ketika peran negara hadir samar-samar, bahkan absen karena rendahnya kapasitas yang dimiliki, tak mengherankan jika penyelengara pemerintahan lebih banyak dikendalikan oleh shadow state. Inilah para pemangku otoritas informal, tapi dapat mengendalikan pemerintahan. Sang saudagar yang saya ceritakan terjadi juga di banyak daerah, contoh penentu dari pemangku otoritas informal itu.

Ia menemukan fakta adanya praktik shadow state semakin banal setelah diterapkannya pilkada langsung. Karena itu, tak heran kalau pemerintah daerah, utamanya kepala daerah, seperti tak pernah berhenti ditangkap KPK.

Kelahiran Lampung itu memaparkan tiga akar persoalan desentralisasi dan otonomi daerah. Pertama, ambivalensi antara orientasi konseptual dan kebijakan yang membelit relasi pusat-daerah sejak kemerdekaan. "Keinginan desentralisasi sebagai aktualisasi dari tuntutan ideologi, sedangkan keinginan sentralisasi sebagai dari tuntutan teknis, utamanya untuk menciptakan pemerintah yang stabil."

Kedua, bias pergeseran relasi negara-masyarakat. Salah satu karakteristik penting dalam perubahan hubungan negara-masyarakat pada transisi demokrasi, yakni proses pengambilan keputusan lebih banyak diwarnai koalisi dan tawar-menawar kepentingan antara elite negara dan elite masyarakat. Pemekaran daerah pun lebih merepresentasikan kepentingan tokoh lokal kedua kelompok elite itu.

Ketiga, bias kebijakan reformasi. Selama ini praktik reformasi cenderung lebih berupaya memperbaiki institusi negara daripada membangun kapasitas negara. Dalam membangun institusi negara pun terkesan ditekankan membangun 'citra negara' (state image). Konsekuensinya, dalam praktik kehadiran negara menjadi samar-samar, bahkan dalam beberapa kasus malah absen.

Sarip menawarkan empat solusi fundamental. Pertama, rekonstruksi konsep. Harus ada reformulasi konsep mendudukkan eksistensi desentralisasi sebagai salah satu instrumen (bukan tujuan akhir) untuk mendekatkan negara dengan masyarakat. Ini agar keduanya bisa berinteraksi secara dinamis, baik dalam pengambilan kebijakan maupun dalam implementasi kebijakan.

Kedua, rekonstruksi pendekatan kebijakan. Desentralisasi harus terkait dan sejalan dengan bidang lain (holistik). Implementasi kebijakan desentralisasi harus memperhatikan karakteristik, potensi, dan kekhususan setiap daerah.

Ketiga, pengelolaan bias antarelite. Dalam pemekaran daerah, misalnya, ada penggabungan dan penghapusan daerah (tidak hanya pemekaran), dengan menerapkan status bertahap. Sebagai daerah administratif, baru kemudian daerah otonom, bagi daerah pemekaran baru. Anggaran bisa dihemat dan syahwat politik elite lokal pun bisa dikurangi dalam 'memprovokasi' pemekaran. Keempat, reformasi kebijakan untuk penguatan institusi negara, kapasitas negara, dan kapasitas masyarakat.

Itu semua menjadi tantangan bagi para akademisi dan para pengambil kebijakan ke depan untuk 'menyelamatkan' otonomi daerah.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.