Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Riwayatmu Pertamina

25/7/2018 05:30
Riwayatmu Pertamina
(Suryopratomo, Dewan Redaksi Media Group )

DEMONSTRASI terjadi di Kantor Pusat Pertamina pekan lalu. Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu memprotes kebijakan penggabungan Pertagas ke Perusahaan Gas Negara serta rencana menurunkan kepemilikan aset hulu Pertamina. Aksi korporasi itu sebenarnya dilakukan sebagai bagian pembentukan Pertamina sebagai holding industri minyak dan gas nasional.
       
Pertamina merupakan perusahaan nasional yang sejak awal diharapkan membawa Indonesia ke pentas dunia. Sejak berdiri pada 1957 sebenarnya banyak terobosan yang dilakukan Pertamina. Konsep kontrak production sharing, misalnya, dikembangkan zaman Ibnu Sutowo dan berhasil membawa Indonesia menjadi negara pengekspor minyak.
       
Sayangnya, intervensi kepentingan politik membuat Pertamina tidak pernah mampu berkembang lebih besar. Pemegang kekuasaan sering memanfaatkan Pertamina untuk kepentingan politik jangka pendek.
       
Tidak usah heran apabila sering dikatakan bahwa Direktur Utama Pertamina de facto ialah Presiden Republik Indonesia. Seorang Dirut Pertamina sebenarnya hanyalah direktur pelaksana. Arah kebijakan perusahaan ditentukan presiden.
       
Perubahan sistem besar dari autokrasi ke demokrasi tidak mengubah cara pandang kita kepada Pertamina. Badan usaha milik negara ini ibarat hanya dilepas kepalanya, tetapi ekornya tetap dipegang. Pertamina tidak pernah dijadikan perusahaan yang tumbuh sehat dan benar-benar menjadi perusahaan kelas dunia.
       
Pada 2013 pernah sekali Pertamina menembus Fortune 500. Namun, setelah itu posisi bukan naik dari peringkat 122, tetapi justru turun sampai ke posisi 257 pada 2017. Apa penyebabnya? Karena Pertamina tidak pernah memperbaiki kinerja. Untuk bisa menembus 100 besar perusahaan dunia, pendapatan Pertamina harus di atas US$200 miliar, EBITDA minimal US$40 miliar, dan produksi setara minyak di atas 2,2 juta barel per hari. Kalau kita lihat laporan keuangan tahun lalu, pendapatan Pertamina hanya sekitar US$43 miliar, EBITDA sekitar US$7,5 miliar, dan produksi sekitar 2 juta barel per hari.
       
Dalam industri migas, kunci sebuah perusahaan menjadi besar dan kuat ditentukan sejauh mana mereka menguasai hulu. Untuk menguasai industri hulu diperlukan keberanian untuk melakukan eksplorasi. Karena karakter bisnis ini yang high risk, high return, perlu adanya investasi besar.
       
Kita tidak pernah memberi kesempatan kepada Pertamina untuk bisa melakukan itu. Karena cara melihatnya miopik, setiap kali ada keuntungan dari Pertamina, kita bukan menginvestasikannya kembali, melainkan ditarik sebagai kontribusi untuk anggaran pendapatan dan belanja negara.
       
Sekarang beban Pertamina semakin berat karena mereka harus menanggung beban kenaikan harga minyak dunia. Demi kepentingan politik jangka pendek, pemerintah sudah memutuskan untuk tidak menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi hingga 2019. Ironisnya, pemerintah tidak mau menanggung biaya subsidinya dan meminta Pertamina untuk menyerap kerugiannya.
        
Tidak usah heran apabila beberapa kali dalam kolom ini kita ingatkan bagaimana tertinggalnya Pertamina dari Petronas Malaysia. Padahal pada 1974 Petronas belajar bagaimana cara mengelola perusahaan migas kepada Pertamina. Sekarang Petronas bisa terbang tinggi, sementara Pertamina terpuruk di belakang.
       
Sebenarnya tidak masalah apabila pemerintah ingin bersikap populis. Harga BBM di Malaysia pun jauh lebih murah daripada di Indonesia. Pemerintah Malaysia meminta Petronas untuk menjual harga BBM kepada masyarakat dengan harga jauh lebih murah daripada harga pasar.
        
Hanya bedanya, pemerintah Malaysia memberi keleluasaan kepada Petronas untuk mengembangkan bisnis yang lain. Petronas didorong menjadi perusahaan kelas dunia agar keuntungannya bisa menutupi biaya untuk memberikan harga BBM yang murah kepada rakyatnya.
        
Bisnis yang lebih menguntungkan itu ada pada industri hulu. Petronas tidak hanya menguasai blok minyak dan gas di Malaysia, tetapi juga di seluruh dunia. Bahkan untuk memberikan nilai tambah kepada sumber migas yang dimiliki, Petronas membangun 15 pabrik petrokimia berskala besar.
        
Bedanya lagi dengan Indonesia, untuk menopang pengembangan bisnis Petronas, pemerintah Malaysia menyediakan lahan yang dibutuhkan. Petronas tidak pernah kebingungan untuk membebaskan ribuan hektare tanah untuk pengembangan industri petrokimia karena negara yang menyediakannya.
         
Unjuk rasa karyawan Pertamina bisa kita jadikan momentum untuk melakukan refleksi ke mana BUMN yang satu ini akan kita bawa. Hanya dengan visi dan aksi besar seperti yang dilakukan Malaysia, kita bisa menjadikan Pertamina perusahaan kebanggaan bangsa.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.