Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SEORANG rekan pada Rabu (8/7) pukul 10.01 WIB mengirim multimedia messaging service (MMS) berisi pertanyaan mengejutkan. Apakah telah terjadi perubahan nomenklatur BIN dari Badan Intelijen Negara menjadi Badan Intelijen Nasional?
Bersama pertanyaan itu dikirim pula foto sepucuk undangan sebagai fakta pendukung. Undangan itu berasal dari Menteri Sekretaris Negara.
Isinya 'Mengharap dengan hormat kehadiran Bapak/Ibu/Saudara pada acara Pelantikan Kepala Badan Intelijen Nasional dan Panglima Tentara Nasional Indonesia oleh Presiden Republik Indonesia hari Rabu, tanggal 8 Juli 2015, pukul 12.45 WIB bertempat di Istana Negara, Jakarta'.
Pada hari itu juga pukul 14.51, kembali melalui MMS, rekan tadi mengirim siaran pers yang dikeluarkan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Djarot Sri Sulistyo.
Isinya (1) Kementerian Sekretariat Negara setelah menyadari adanya kesalahan teknis penulisan pada undangan pelantikan Kepala BIN dan Panglima TNI secepatnya telah menarik dan menggantinya dengan penulisan yang benar.
(2) Penulisan yang benar ialah Kepala Badan Intelijen Negara, sesuai dengan undangan yang telah kami kirimkan kembali pada tamu/pejabat yang diundang.
(3) Kementerian Sekretariat Negara memohon maaf atas hal tersebut.
Kementerian Sekretariat Negara akan berupaya meningkatkan kualitas layanan administrasi di Lembaga Kepresidenan.
Begitulah isinya antara lain memohon maaf. Besok Lebaran, mari bermaaf-maafan, lahir dan batin. Isi lainnya, janji meningkatkan kualitas layanan administrasi di lingkungan lembaga kepresidenan, tentu sangat membesarkan hati.
Akan tetapi, menyebut kesalahan penulisan Badan Intelijen Negara menjadi Badan Intelijen Nasional sebagai kesalahan teknis, kiranya layak dipersoalkan. Mengapa?
Kesalahan teknis sering dijadikan kambing hitam gampangan dan apologi ampuh. Lagi pula, apakah kesalahan teknis masih sahih dijadikan alasan di zaman kemajuan teknologi informasi?
Untuk menjawabnya saya iseng memasukkan 'bin' ke dalam mesin Google. Seketika di layar paling atas tampil Badan Intelijen Negara (BIN) dan persis di bawahnya www.bin.go.id. Karena itu, kesalahan teknis bukan pangkal persoalan. Lalu di mana duduk persoalan?
Maaf, saya khawatir terjadi kemalasan berpikir. Yang malas berpikir mengira 'Nasional' pada TNI lebih hebat daripada 'Negara'. Karena itu, penulisan 'Nasional' dalam Tentara Nasional Indonesia yang dijadikan patokan, sehingga terjadilah penulisan Badan Intelijen Nasional yang jelas salah. Kemalasan berpikir bisa juga menyangkut referensi sejarah.
TNI tidak dilahirkan oleh negara, tapi oleh pemuda-pemuda bersenjata yang memperjuangkan kemerdekaan secara militan. Karena itu, yang lahir bukan Tentara Negara Indonesia, melainkan Tentara Nasional Indonesia. Sebaliknya BIN, memang dibentuk negara. Karena itu, kepanjangannya Badan Intelijen Negara.
Bila penilaian kesalahan berpikir dianggap berlebihan, kiranya yang terjadi keteledoran dalam mikromanajemen. Bukan urusan presiden mikromanajemen. Namun bila kesalahan pidato menyebut kelahiran Bung Karno di Blitar, disusul kesalahan penulisan BIN, disusul entah kesalahan apa lagi diproduksi di lingkungan lembaga kepresidenan, semua itu bisa menggerus wibawa pemimpin nasional. Karena itu, janganlah menyepelekan mikromanajemen.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved