Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Fenomena Lalu Zohri

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/7/2018 05:30
Fenomena Lalu Zohri
(MI/Tiyok)

EUFORIA langsung merebak begitu atlet muda Lalu Muhammad Zohri memenangi lari 100 m kejuaraan dunia U-20 di Finlandia. Puja-puji langsung mengalir kepada pelari berusia 18 tahun dari Nusa Tenggara Barat itu. Bahkan, kehidupan keluarga yang penuh kebersahajaan diangkat media.

Berbagai janji bonus pun langsung bermunculan. Kantor Kemenpora menjanjikan bonus Rp250 juta. Kementerian Dalam Negeri berjanji merenovasi rumah orangtua Zohri. Bahkan, anggota TNI Angkatan Darat sudah datang ke rumah orangtua untuk juga melakukan renovasi. Sementara itu, Realestat Indonesia berjanji memberikan hadiah rumah.

Kita tentu melihat bagus apresiasi yang diberikan kepada Zohri. Ia pantas mendapat penghargaan karena mampu memenangi persaingan dengan pelari-pelari muda dunia, seperti dari Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Zohri bukan hanya membuat Indonesia menjadi pembicaraan dunia karena tiba-tiba dilihat sebagai kekuatan baru atletik dunia, melainkan juga membangkitkan rasa percaya diri anak-anak muda Indonesia bahwa tidak ada prestasi besar yang tidak bisa kita raih.

Hanya, kita ingin juga mengingatkan, Zohri ialah atlet junior. Ia masih dalam proses untuk menjadi bintang besar. Kita harus sabar untuk membentuknya menjadi pribadi yang penuh rasa percaya diri, mempunyai teknik berlari yang sempurna, dan memiliki karakter pribadi yang kuat.

Sejak terpantau oleh pencari bakat Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) dari sirkuit atletik di Jayapura pada 2017, Zohri terus mendapat gemblengan di pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Cibinong. PB PASI memasukkan Zohri menjadi salah satu atlet yang mendapat bimbingan dari pelatih kenamaan Amerika Serikat, Harry Mara.

Kita berharap euforia terhadap keberhasilan Zohri jangan sampai justru merusak masa depan atlet itu sendiri.

Kepedulian pemerintah dan masyarakat harus dijadikan sebagai bagian dari pembinaan atlet yang lebih berjangka panjang. Jangan sampai momentum ini hanya dipakai sekadar sebagai pencitraan, apalagi untuk kepentingan politik jangka pendek. Sebabnya, kita harus membangun karakter dari bangsa ini untuk tekun dalam berlatih, disiplin dalam menjalankan bekerja, dan tidak mau kalah dari bangsa lain.

Prestasi yang diraih Zohri merupakan proses pembinaan jangka panjang yang dilakukan PASI. Sejak 2004 PASI mengubah orientasi pembinaan dari bertumpu kepada atlet senior menjadi fokus kepada atlet-atlet muda. Ada 50 atlet putra dan 50 atlet putri yang mengikuti pelatnas jangka panjang.

Atletik beruntung memiliki Ketua Umum Mohamad 'Bob' Hasan yang membina atlet dengan hati. Perhatiannya kepada atlet dilakukan dengan sepenuh hatinya. Ia memperhatikan para atlet mulai kebutuhan sehari-hari, tempat tinggal, pendidikan, hingga masa depan.

Setiap bulan Bob Hasan mendampingi atlet untuk berbelanja kebutuhan hari-hari di supermarket.

Tidak terbilang uang pribadi yang dipakai untuk membina atletik sejak memimpin PASI pada 1972. Bob Hasan membiayai sendiri untuk mendatangkan pelatih terbaik dunia agar mau meningkatkan kemampuan atlet Indonesia.

PASI membiayai sendiri juga atlet-atlet muda untuk bertanding di luar negeri termasuk Zohri yang berangkat ke Finlandia.

Apabila kita ingin membangun manusia-manusia Indonesia yang tangguh, negara harus mau melakukan investasi yang berjangka panjang. Tidak pernah akan ada prestasi yang datang tiba-tiba. Ada proses yang harus kita lalui sebelum kita mendapatkan hasil.

Kita sudah terlalu biasa menggunakan jalan pintas. Banyak di antara kita yang mau menikmati tanpa mau bekerja keras. Praktik korupsi yang marak terjadi sekarang ini merupakan cermin sikap untuk menempuh jalan pintas demi mendapatkan kekayaan.

Pemerintah sering kali juga tidak pernah mau melakukan investasi yang berjangka panjang. Prestasi olahraga kita merosot tajam karena kita tidak pernah memberikan perhatian kepada pembinaan induk-induk olahraga.

Banyak induk olahraga yang tidak bisa menyelenggarakan kejuaraan nasional karena keterbatasan anggaran. Kalau induk olahraga tidak mampu membuat kejuaraan nasional, dari mana kita akan mendapatkan atlet-atlet muda berbakat?

Ironisnya PASI pernah mau menyelenggarakan kejuaraan nasional di Stadion Madya dan mereka diharuskan membayar sewa stadion Rp1,4 miliar kepada Badan Pengelola Gelora Bung Karno. Alasannya, GBK dianggap sebagai fasilitas negara yang harus menyetorkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Dengan orientasi pemerintah yang sekadar mementingkan penerimaan negara, nyaris tidak ada lagi perusahaan yang mau ikut membiayai pembinaan olahraga. Bank Mandiri pernah ditunjuk menjadi 'bapak angkat' untuk atlet-atlet atletik, tetapi mereka mundur teratur karena hanya dilihat menjadi beban perusahaan.

Semoga fenomena Lalu Muhammad Zohri mengubah cara pandang kita terhadap pembinaan olahraga bahwa olahraga bisa menjadi alat untuk membangun kebersamaan dan kebanggaan bangsa. Investasi manusia akan membawa hasil luar biasa bagi nama baik bangsa meski itu tidak akan terjadi dalam waktu sesaat.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.