Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Perang Dagang

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
11/7/2018 05:00
Perang Dagang
()

PERANG dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok sudah sepekan berjalan. Tiongkok langsung membalas dengan menerapkan bea masuk tambahan senilai US$34 miliar kepada produk-produk pertanian AS. Pembalasan dilakukan karena Presiden Donald Trump mengenakan bea masuk tambahan senilai itu terhadap produk-produk Tiongkok.

Semua negara mengantisipasi dampak dari perang dagang karena pasti akan ada kelebihan produk dari kedua negara yang tidak bisa lagi dipasarkan. Apalagi produk pertanian seperti kacang kedelai dan daging babi tidak bisa tahan lama. Petani AS harus mencari pasar baru untuk membuat produk mereka tidak membusuk.

Kondisi itu bahkan diperkirakan akan semakin memburuk karena Trump mengancam akan memperbesar penerapan bea masuk tambahan. Tidak tanggung-tanggung, Presiden AS itu akan mengenakan bea masuk tambahan terhadap semua produk impor dari negara-negara Asia yang nilainya mencapai US$500 miliar.

Itulah yang membuat pemerintah Indonesia segera mengambil ancang-ancang. Tim negosiasi segera dikirim untuk mencari tahu apa kebijakan yang akan diterapkan Washington. Itu penting untuk mengetahui produk-produk ekspor Indonesia apa saja yang akan terkena dampaknya.

Kita tahu AS merupakan pasar utama produk-produk ekspor Indonesia. Besarnya pasar AS membuat kita menjadikan mereka sebagai negara tujuan utama ekspor mulai produk tekstil, perikanan, hingga biofuel. Menurut Badan Pusat Statistik, ekspor kita ke AS setiap tahun di atas US$16 miliar. Dua negara lain yang nilai ekspor ke AS hampir sama dengan Indonesia hanyalah Jepang dan Tiongkok.

Seperti halnya Tiongkok, penerapan bea masukan tambahan oleh AS akan membuat produk kita menjadi tidak kompetitif. Ketika Washington menerapkan bea masuk tambahan hampir 80% untuk produk biofuel, praktis ekspor kita ke 'Negeri Paman Sam' itu terhenti.
Penerapan bea masuk tambahan oleh Trump merupakan bagian dari upayanya untuk menghidupkan kembali perekonomian AS. Rakyat Amerika diminta untuk menanggung beban kebangkitan itu dengan harga-harga kebutuhan yang lebih mahal.

Pengusaha seperti Jack Ma berpendapat, ketertinggalan industri dan perekonomian AS dari negara seperti Tiongkok bukan disebabkan kehebatan orang-orang Tiongkok. Ketertinggalan Amerika disebabkan terlalu seringnya AS berperang di banyak wilayah di dunia.
Setelah Perang Dunia II, Amerika terlibat sendiri dalam banyak peperangan, mulai Perang Korea pada 1950-an hingga terakhir ini ikut dalam perang di Suriah. Bahkan untuk menjadikan diri mereka sebagai 'polisi dunia', AS membangun pangkalan militer yang tersebar mulai Afrika, Asia, Australia, hingga Eropa.

Menurut Jack Ma, berapa triliun dolar anggaran yang harus disisihkan AS setiap tahunnya untuk mempertahankan hegemoni mereka. Sementara itu, negara-negara lain dengan anggaran yang lebih kecil memakai dana itu untuk membangun perekonomian negara. Akumulasi hampir enam dekade membuat banyak negara kemudian menjadi lebih maju, sementara Amerika lupa membangun negara.

Kolumnis Thomas Friedman terakhir menuliskan artikel ketika ia sedang berada di Bandara Shanghai. Ia melihat bagaimana infrastruktur bandar udara di banyak kota di Tiongkok begitu modern dan nyaman, sementara ketika berada di bandara di negaranya tampak tua dan ketinggalan zaman.

Pertanyaannya, apakah dengan menutup diri lalu AS akan bisa mengatasi ketertinggalannya? Mustahil kalau sikap agresif Amerika tidak berubah. Tidak mungkin rakyat Amerika disuruh bekerja keras, tetapi hasil kerja keras mereka dibuang untuk membiayai operasi militer di negara-negara lain.

Bahkan yang terjadi perekonomian AS justru akan semakin terpuruk. Kalau produk-produk teknologi AS dipersulit masuk ke banyak negara di dunia, maka perusahaan mereka tidak mampu untuk bertahan. Kalau Apple, Boeing, atau GE sulit masuk pasar dunia, yang akan menikmati ialah Samsung (Korea Selatan), Airbus (Eropa), dan Panasonic atau Mitsubishi (Jepang).

Kita tidak tahu apa sebenarnya yang diharapkan Trump. Semua sedang menunggu apa sebenarnya yang dimintakan Trump dari Tiongkok untuk membantu pemulihan perekonomian AS dan apa yang akan diberikan Presiden Xi Jinping terhadap permintaan Amerika itu.
Kita hanya diingatkan, ketika gajah berkelahi dengan gajah, yang terjepit di tengah ialah pelanduk. Kita tentunya tidak ingin menjadi pelanduk yang mati di tengah-tengah. Untuk itulah, kita harus memperkuat perekonomian domestik agar limpahan produk dunia itu tidak membanjiri pasar kita.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.