Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Tuan Guru Bajang

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
10/7/2018 05:30
Tuan Guru Bajang
()

DALAM sebuah obrolan, aktivis kebudayaan Taufik Rahzen bilang, aksi 212 bermula dari para tokoh Nusa Tenggara Barat (NTB). Tanpa ia menyebut nama, saya segera tahu beberapa orang memang berasal dari provinsi itu.

Buni Yani, orang pertama yang mengunggah dan mengedit pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mengutip Surah Al-Maidah 51 di Facebook-nya. Nama lain, Hatta Taliwang, Fahri Hamzah, Muhammad Zainul Majdi (Tuan Guru Bajang/TGB), dan Din Syamsuddin, mendukung aksi tersebut.

Hatta Taliwang ialah salah satu pendiri PAN yang juga pernah menjadi anggota DPR. Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR, salah seorang pendiri PKS. Din Syamsuddin ialah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun, yang paling menjadi perbincangan hingga kini ialah TGB. Ia bukan saja gubernur, melainkan juga ulama yang disegani. Pada aksi 411, sebelum aksi 212, doktor lulusan Univeritas Al-Azhar Mesir itu ikut aksi dengan berjalan kaki. Ia pun dikelompokkan tokoh yang masuk barisan menentang pemerintah.

Ia kerap mendapat pertanyaan, kenapa ia cenderung mendukung kelompok Islam yang dipersepsikan 'keras' (radikal). Persepsi itu pula yang muncul dari seorang penanya dalam Dialog Kebangsaan di Kampus UIN Sulthan Thaha, Jambi, awal Maret 2018.

Ia menjawab, persepsi itu tak benar sama sekali. Ia meyakini aksi itu semata-mata karena keyakinan agamanya bahwa Ahok telah melakukan penodaan agama, wilayah yang bukan haknya untuk berbicara tentang ayat suci Islam. "Bahwa ada kelompok yang cenderung radikal memanfaatkannya, itu hal lain lagi," katanya.

TGB tetap meyakini aksi 212 ialah membela agama, bukan politik. Memang agak naif karena nuansa politik sesungguhnya sudah amat terasa, karena beberapa tokoh yang terlibat aksi banyak dari kalangan partai oposisi dan tokoh antipemerintah. Ada pula teriakan untuk menurunkan Jokowi.

TGB ialah anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Gubernur NTB dua periode sejak 2008. Pada Pemilihan Presiden 2014, ia tim pemenangan Prabowo-Hatta. Di provinsi itulah Prabowo-Hatta menang besar kedua setelah di Sumatra Barat. Di barisan oposisi inilah TGB menjadi andalan.

Ia dikenal sebagai umara yang berhasil memajukan NTB, juga ulama yang disegani di daerahnya. Itu pula yang membuat ia menjadi salah satu tokoh lokal yang diwacanakan sebagai calon tokoh nasional.

Itu sebabnya, ketika TGB mengungkapkan mendukung Jokowi dua periode untuk meneruskan pembangunan, banyak pihak tersentak. Tentu saja, dari yang semula memuji jadi memaki atau sebaliknya. Ada yang menghubungkan dukungan terhadap Jokowi berkaitan dengan ambisinya menjadi calon wakil presiden.

Bahkan, ada yang menghubungkan karena ia  tengah diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus divestasi PT Newmont. Kelahiran NTB, 31 Mei 1972 ini bergeming. Penilaiannya, pembangunan infrastruktur yang berderap di seluruh Indonesia di masa Jokowi menjadikan ia putar haluan. Jokowi di matanya sudah pada rel yang benar dalam memimpin Indonesia.

Ia  mengungkapkan, belum satu periode menjadi presiden, Jokowi telah delapan kali melakukan kunjungan kerja untuk memastikan pembangunan, khususnya di NTB, berjalan. Salah satunya Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika di Lombok Tengah, yang diproyeksikan memacu pertumbuhan ekonomi di provinsi ini.

Dengan dukungan pemerintah pusat, NTB kini menjadi tujuan wisata yang namanya kian bergema. TGB juga menegaskan penggunaan 'ayat-ayat perang' dalam kontestasi politik di Indonesia tak boleh digunakan karena di Indonesia tidak dalam situasi perang, tak seperti di
Arab ketika umat Islam menghadapi kafir Quraish. Di negeri ini, semua bersaudara dalam kebangsaan Indonesia. Ayat-ayat perang bisa berbahaya kalau terus digunakan di Indonesia. Polarisasi akan terus terjadi dan bisa membuat bangsa ini retak. Kita pun akan susah merekatkan lagi kalau terlambat.

Ia menjawab pertanyaan wartawan, apakah pemerintahan Jokowi melakukan kriminalisasi terhadap ulama seperti dituduhkan kelompok antipemerintah? Jawab TGB, "Tidak." Dukungan pada Jokowi ia nyatakan sebagai sikap pribadinya yang diambil secara objektif dan matang.

Ia pun siap menerima sanksi dari partainya jika dinilai salah. "Respons apa pun kan itu kebebasan dari yang merespons itu. Ya, saya terima saja respons apa pun. Yang penting, ketika saya menentukan sikap kan tidak bertolak dari nilai-nilai yang saya yakini termasuk sebagai seorang muslim dan melihat objektivitasnya," ungkapnya.

Ia tak menjawab terang pertanyaan rencana maju sebagai cawapres pada Pilpres 2019. Ia hanya ingin terus memberi kontribusi bagi negeri ini. Penilaian objektif itu bisa jadi benar.

Sebagai politikus, ia juga dinilai mengambil sikap pada saat yang tepat merapat pada Jokowi. Namun, di mana tempat TGB selanjutnya dalam dinamika politik nasional yang berderap, kita hanya bisa sebatas menubuat. Dalam politik kerap ada kejutan meski telah lama dihitung matang. Kita menunggu.

 

 

 

 

 

 

 

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.