Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Blended Finance

Suryopratomo/Dewan Redaksi Media Group
07/7/2018 05:30
Blended Finance
(MI/Tiyok)

BUKAN zamannya lagi pengusaha sekadar menjadi business animal. Pengusaha harus mempunyai kepedulian kepada sesama. Bisnis yang dikembangkan tidak hanya dinikmati sendiri hasilnya, tetapi juga harus mempunyai nilai sosial. Investasi yang berkelanjutan menjadi ciri pengembangan bisnis ke depan.

Itulah yang kini dikenal sebagai blended finance. Para investor dunia ikut serta dalam proyek pembangunan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Mereka mendukung agenda pembangunan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG's) pada 2030 yang akan datang.

Kepala Sustainable Development Investment Partnerships World Economic Forum, Phillip Moss, menceritakan pengalaman ketika membangun proyek infrastruktur di Afrika Selatan. Pemerintah Afsel tidak mempunyai cukup anggaran untuk membangun infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. Ketika harus mencari pinjaman, bunganya terlalu mahal.

Moss kemudian mengajak investor untuk ikut mendanai. Dengan melakukan sedikit perbaikan dari sisi rancangan proyek dan pembiayaan, akhirnya proyeknya bisa dijalankan. Bunga yang harus dibayarkan pemerintah Afsel lebih masuk akal yakni 9%.

Pendiri Systemiq Inggris, Jeremy Oppenheim, saat pembukaan workshop tentang blended finance and innovation di Jakarta, Kamis (5/7), mengatakan Indonesia menjadi perhatian banyak investor untuk ikut mendanai proyek pembangunan berkelanjutan. Apabila Indonesia bisa menawarkan proyek-proyek infrastruktur yang berkaitan dengan masalah sosial dan lingkungan, mereka akan masuk ikut mendanai.

Bagi para investor, ikut membiayai proyek pembangunan berkelanjutan bukanlah karikatif. Modal yang mereka tanamkan tetap bisa kembali dan memberikan return meski tidak sebesar seperti berbisnis murni. Jaminan yang diberikan negara bahwa proyek tersebut akan berjalan dan bermanfaat bagi masyarakat memberi kepastian investasi yang ditanamkan tidak akan mubazir.

Model pembiayaan yang baru diperkenalkan beberapa tahun terakhir ini bisa menjadi alternatif ketika kita sedang menggalakkan pembangunan yang lebih berkeadilan. Ketimpangan sarana dan prasarana antardaerah merupakan salah satu penyebab ketimpangan kesejahteraan antara wilayah Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur.

Pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla mencoba mengejar dengan membangun berbagai infrastruktur, mulai jalan, pelabuhan, bandar udara perintis, bendungan dan irigasi, hingga penyediaan air minum. Namun, dengan 81% anggaran negara habis untuk pembiayaan rutin, mustahil kita mampu dengan cepat membangun berbagai kebutuhan untuk masyarakat itu.

Sekarang ini dicoba ditempuh dengan mendorong badan usaha milik negara ikut membangun infrastruktur tersebut. Namun, dengan pengalaman Afsel, terlalu mahal beban biaya yang harus ditanggung. Salah-salah BUMN akan terbelit oleh persoalan pinjaman yang mereka lakukan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bisa memulai dengan menetapkan proyek-proyek infrastruktur yang dibutuhkan. Apalagi Bappenas sudah mengeluarkan rencana aksi dari SDG's. Dari sana bisa diterjemahkan proyek pembangunan berkelanjutan yang akan kita lakukan.

Selanjutnya kita bisa meminta mereka yang terlibat dalam Business and Sustainable Development Commission untuk membawa proyek-proyek tersebut kepada investor dunia. Di komisi itu ada pengusaha-pengusaha besar seperti Jack Ma atau Ho Ching. Ada seorang warga Indonesia yang masuk ke dalam kelompok itu yakni Cherie Nursalim. Kita bisa manfaatkan keberadaannya untuk menawarkan proyek-proyek berkelanjutan yang ada di Indonesia.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sangat berharap para investor dunia terlibat dalam pembiayaan proyek pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Namun, pekerjaan rumah itu berada pada kita, bukan kepada para investor. Sepanjang ada proyek yang akan dilakukan negara dan bermanfaat bagi rakyat banyak, pasti para investor akan mau ikut mendanai.

Berbeda dengan proyek infrastruktur komersial, proyek pembangunan berkelanjutan akan ikut dibiayai beberapa investor secara bersama-sama. Mereka ikut berkontribusi karena dengan demikian, beban itu akan menjadi lebih ringan. Risiko pun bisa dibagi kepada banyak orang.

Kemampuan untuk menawarkan proyek pembangunan berkelanjutan merupakan pekerjaan rumah kita yang lain. Akan tetapi, dengan jaringan yang dimiliki orang seperti Cherie Nursalim setidaknya kita mempunyai tenaga pemasaran yang bisa diandalkan. Setidaknya proyek-proyek yang hendak kita bangun bisa masuk radar para investor.

Forum Pembangunan Berkelanjutan yang akan digelar sebelum Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali Oktober nanti bisa kita pakai sebagai etalase untuk menunjukkan proyek pembangunan berkelanjutan yang hendak kita lakukan. Kalau kita bisa menarik investor untuk ikut mendanai, pemerintah bisa sekaligus menjawab bahwa pertemuan besar lembaga keuangan besar dunia itu bukan hanya buang-buang uang, melainkan bagian dari promosi Indonesia.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.