Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Audit BPK

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
06/6/2018 05:30
Audit BPK
()

SERING kita merasa heran, Indonesia yang diberi begitu banyak sumber daya alam tidak mampu membuat rakyatnya hidup sejahtera. Sudah hampir 73 tahun kita merdeka, masih banyak warga bangsa ini yang hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya kita melihat bangsa lain yang baru belakangan membangun negerinya, begitu cepat berubah dan mulai meninggalkan kita.
    
Salah satu yang sering disebut Presiden Joko Widodo adalah Vietnam. Negeri yang baru selesai perang pada 1975, begitu cepat membangun bangsanya. Sekarang Vietnam menjadi salah satu negara eksportir terkemuka di kawasan ASEAN. Kita pun mengimpor kebutuhan beras dari negara ini.
    
Apa yang salah dengan kita sebagai bangsa? Mengapa kita yang pernah dikenal sebagai salah satu macan baru Asia kehilangan keunggulannya?     Nilai ekspor kita sudah tertinggal oleh Vietnam, yang ibaratnya baru kemarin sore membangun industrinya.
    
Kita harus berani untuk mengatakan, kita terlalu suka berkutat dengan masalah. Kita suka sekali untuk melihat ke belakang dan menyalahkan masa lalu. Padahal apa yang sudah terjadi merupakan sejarah. Kita tidak pernah bisa mengubah jalannya sejarah.
    
Kelemahan kita sebagai bangsa ialah suka sekali mencari kambing hitam. Setiap kali menghadapi tantangan, kita bukan bergegas untuk menjawabnya, melainkan mencari pihak yang bisa disalahkan sehingga tantangan itu harus kita hadapi. Semakin tidak berdaya kambing hitam itu, kita semakin bersemangat untuk menumpahkan segala kesalahan.
    
Itu jauh berbeda dengan bangsa Vietnam. Meski negara mereka porak poranda oleh invasi militer Amerika Serikat, mereka tidak menunjuk bangsa Amerika sebagai kambing hitam. Mereka bahkan menutup buku terhadap permusuhan lama dan melihat AS sebagai sahabat.
    
Sikap untuk berbesar hati dan berkompromi dengan masa lalu itu membuat energi mereka tidak terbuang sia-sia. Seluruh konsentrasi bisa ditumpahkan untuk membangun negeri mereka dari ketertinggalan. Apalagi derap pembangunan disesuaikan dengan kemampuan bangsa, sehingga semua warga bisa ikut terlibat dan menjadi bagian dari pembangunan mereka.
    
Kita paling suka menjadikan pengusaha sebagai kambing hitam. Apalagi kita pernah mengalami masa yang kelam yakni krisis ekonomi pada 1998. Ketidakpercayaan kepada sistem politik membuat terjadi penarikan uang secara besar-besaran di masyarakat, sehingga sistem perbankan pun di ambang keambrukan. Di tengah kepanikan publik, pemerintah melakukan langkah penyelamatan dengan menyuntikkan bantuan likuiditas dan mengambil alih 48 bank.
    
Ada sekitar Rp147,7 triliun bantuan likuiditas yang disalurkan Bank Indonesia. Jumlah itu sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bail-out yang dilakukan Pemerintah AS dengan menyuntikkan US$700 miliar ketika krisis keuangan melanda negeri itu pada 2008. Namun, AS melihat krisis itu sebagai pengalaman mahal yang tidak boleh terulang, sedangkan kita masih berkutat untuk mencari kambing hitamnya.
    
Tidak heran apabila Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani berpandangan, pengusaha sering kali merasa terdemotivasi karena perlakuan yang tidak adil. Pengusaha hanya dilihat dari sisi kekeliruannya saja, tidak pernah dilihat dari keberanian menanggung risiko demi turut serta membangun negara ini.
    
Kasus terakhir yang membuat Ketua Umum Apindo merasa tercederai adalah hasil audit yang dilakukan Badan Pemeriksa Keuangan terhadap kasus BLBI. Ada dua hasil audit yang berbeda karena dilakukan auditor yang berbeda periode kerjanya. Satu mengatakan, tidak ada kerugian negara, satu lagi mengatakan, ada kerugian negara. Bedanya, audit pertama dilakukan dengan melakukan pemeriksaan silang kepada lembaga yang terperiksa, sedangkan yang terakhir dilakukan secara sepihak.  
    
Hariyadi berpandangan, cara kerja seperti itu hanya menimbulkan ketidakpastian. Kalau kita tidak pernah bisa keluar dari situasi seperti ini dan hanya menjadikan pengusaha sebagai pihak yang dipersalahkan, jangan heran apabila tidak pernah tumbuh entrepreneurship di Indonesia. Tanpa ada entrepreneur yang mencukupi, Indonesia akan sulit menjadi negara maju.
    
Perbaikan sikap dan cara pandang terhadap pengusaha harus dilakukan apabila kita ingin membuat Indonesia tidak kalah dari bangsa lain. Pengusaha sendiri tidak ingin mendapatkan hak istimewa, tetapi mereka membutuhkan aturan main yang jelas dan pasti. Kalau mereka benar katakan benar. Sebaliknya ketika salah, mereka pun siap untuk menanggung risikonya.
    
Semua negara yang maju ekonominya sangat menghormati yang namanya pengusaha. Pemerintah memberikan karpet merah karena mereka paham bahwa pengusaha menanggung semua risikonya sendiri. Namun, ketika pengusaha berhasil dengan bisnisnya, negara otomatis akan ikut menikmati baik melalui pajak yang dibayarkan maupun lapangan pekerjaan yang dibuka.
    
Sekarang tinggal terpulang kepada kita, apa yang hendak kita lakukan kepada pengusaha. Apakah mereka akan dilihat sebagai pihak yang tidak diperlukan karena hanya dianggap merugikan ataukah kita melihatnya sebagai pahlawan pembangunan? Yang pasti Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di DPR mengatakan, kita membutuhkan investasi sekitar Rp5.400 triliun pada 2019 dengan Rp4.000 triliunnya diharapkan datang dari investasi swasta dan sekitar Rp600 triliun dari penanaman modal asing.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.