Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Infrastruktur

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
30/5/2018 05:30
Infrastruktur
()

PRESIDEN Joko Widodo pekan lalu meresmikan Bandar Udara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Bandara kedua terbesar di Indonesia itu akan mulai dipakai untuk penerbangan komersial pada saat mudik Lebaran nanti. Sebagai provinsi terbesar, Jabar sepantasnya memiliki bandara yang representatif.
    
Selama ini bandara yang dipergunakan untuk keluar-masuk Jabar ialah Hussein Sastranegara di Bandung. Bandara itu bukanlah bandara umum karena milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan berada di dalam pangkalan udara TNI-AU.
    
Dengan statusnya yang 'menumpang', memang tidak banyak yang Lalu bisa dilakukan. Bandara Hussein Sastranegara bukan hanya kecil ruang tunggunya, tetapi terbatas juga untuk 'tinggal landas maupun pendaratan'. Padahal jumlah penerbangan maupun penumpang, baik dalam maupun luar negeri, terus meningkat.
    
Tidak keliru apabila pemerintah mempercepat pembangunan Bandara Kertajati karena permintaan yang tinggi. Pekerjaan selanjutnya yang harus segera diselesaikan ialah segera menyelesaikan koneksi antara Majalengka dengan kota-kota lain di sekitarnya. Jangan sampai terjadi ketersumbatan baru karena orang kesulitan untuk datang dan keluar dari Bandara Kertajati.
    
Pembangunan infrastruktur merupakan sesuatu yang harus dilakukan pemerintah. Selama 20 tahun terakhir kita membiarkan infrastruktur tidak diperbaiki dan dibangun yang baru. Ingar-bingar reformasi hanya ramai di mulut, tidak pada karya yang pantas dibanggakan. Akibatnya, tidak hanya kualitas infrastruktur kita tertinggal jauh, bahkan biaya logistik menjadi mahal.
    
Tiga tahun terakhir ini derap pembangunan infrastruktur terasa meningkat. Kita seharusnya bersyukur, setelah di era Orde Baru, sekarang kita mulai kembali menggenjot pembangunan infrastruktur. Inilah yang bisa menjadi modal bagi kita untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
    
Sayangnya, karena kepentingan politik jangka pendek, mulai muncul komentar-komentar miring tentang pembangunan infrastruktur. Dimulai dari isu utang luar negeri yang membengkak, sekarang mulai dilontarkan pandangan bahwa pembangunan infrastruktur dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Mulai ramai dilemparkan ide untuk meninjau ulang pembangunan infrastruktur yang sedang dilakukan.
    
Seperti biasanya, dicarilah pembenaran atas pandangan tersebut. Salah satu yang sekarang dipinjam untuk pembenaran adalah langkah yang dilakukan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad. PM Malaysia itu berniat untuk mengkaji ulang pembangunan kereta Malaysia-Singapura karena dibiayai utang dan utang Malaysia dianggap sudah terlalu tinggi.
    
Langkah Mahathir merupakan sesuatu yang wajar karena utang luar negeri Malaysia sudah di atas 65% dari produk domestik bruto mereka. Kedua, penundaan pembangunan infrastruktur tidak terlalu bermasalah karena Malaysia sudah memiliki infrastruktur yang memadai. Panjang ruas jalan tol di Malaysia sudah seratus kali jumlah panjang jalan tol di Indonesia.
    
Oleh karena itu, aneh jika Indonesia diminta untuk mengikuti langkah yang diambil Malaysia. Kita justru harus mempercepat pembangunan infrastruktur karena sudah sedemikian kurang dan buruk kualitasnya. Indonesia akan semakin jauh tertinggal oleh negara-negara ASEAN lain apabila tidak mempercepat pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Orang semakin tidak akan pernah mau masuk ke Indonesia, apabila infrastrukturnya masih buruk seperti ini.
    
Memang membangun infrastruktur itu berat dan juga 'menyakitkan'. Tetapi, itulah yang dikatakan sebagai growing pain. Ibarat gigi yang hendak keluar dari gusi, memang rasanya menyakitkan. Tetapi, ketika gigi itu sudah tumbuh, manfaatnya akan jauh lebih besar.
    
Jangan lupa, membangun infrastruktur bukan sekadar membangun fisik semata, melainkan sekaligus membangun manusia. Inilah kesempatan bagi ahli-ahli teknik Indonesia untuk unjuk kemampuan. Berbagai proyek infrastruktur yang ada akan memberi pengalaman dan kalau kita cerdas, akan membuat kita mampu menguasai teknologi dan bahkan mengembangkannya.
    
Kita bisa belajar dari apa yang dilakukan bangsa Tiongkok. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan di negeri itu membuat para insinyur Tiongkok mampu membuat 'sejarah' baru. Karya terakhir yang membuat dunia tercengang ialah pembangunan jembatan terpanjang di dunia yang menghubungkan Hong Kong-Zuhai-Makau.
    
Sudah saatnya kita meninggalkan cara berpikir irasional dan pesimistis. Kita harus tinggalkan penggunaan isu pembangunan infrastruktur untuk kepentingan politik jangka pendek. Pembangunan infrastruktur harus kita lihat sebagai pembangunan jangka panjang dan wajib dilakukan siapa pun yang kelak akan memimpin negeri ini.
    
Kasihan bangsa ini kalau yang lebih ditonjolkan selalu kepentingan politik semata. Ketika seorang presiden tidak melakukan pembangunan infrastruktur, kita kecam tidak bekerja. Ketika seorang presiden gencar membangun infrastruktur, kita kecam terlalu menghambur-hamburkan uang. Padahal tidak pernah ada negara yang maju dan besar tanpa memulai dengan pembangunan infrastruktur.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.