Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Survei Presiden

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
25/5/2018 05:30
Survei Presiden
()

SURVEI Indo Barometer tentang presiden yang paling berhasil masih ramai dibincangkan. Ramai karena ini tahun politik dan politik pasti akan memaknai dan 'mengolah' hasil survei sesuai kepentingannya.

Hasil survei Indo Barometer yang dirilis akhir pekan silam itu menempatkan Soeharto sebagai presiden yang dinilai paling berhasil. Ia dipilih 32,9% responden mengalahkan Soekarno yang hanya dipilih 21,3% responden.

Posisi ketiga Joko Widodo dengan 17,8%, Susilo Bambang Yudhoyono 11,6%, BJ Habibie 3,5%, Abdurrahman Wahid 1,7%, dan Megawati Soekarno Putri 0,6% responden.

Survei dilakukan terhadap 1.200 responden di 34 provinsi di Indonesia pada 15-22 April 2018. Margin error penelitian ini sebesar 2,83%. Jika dibandingkan survei serupa pada 2011, bahkan Soeharto memperoleh angka 40,5% responden.

Kini justru turun 7,5%. Pengumpulan data survei dilaksanakan menggunakan teknik wawancara tatap muka responden melalui kuesioner. Namun, jangan lupa Soeharto butuh waktu berkuasa 32 tahun (1966-1998), Soekarno 21 tahun (1945-1966), dan Jokowi hanya 3,5 tahun.

Sementara itu, Yudhoyono memerintah selama 10 tahun, BJ Habibie hanya 1,3 tahun, Gus Dur 1,5 tahun, dan Megawati 3,5 tahun. Dengan melihat waktu menjabat, bisa dibilang Jokowi presiden era reformasi yang paling berhasil.

Jangan lupa juga, selain butuh waktu tiga dekade, kekuasaan waktu itu juga sangat sentralistik. Pemerintah pusat bisa melakukan apa saja. Parlemen waktu itu hanya tukang stempel pemerintah dengan '4D'-nya yang sangat terkenal: datang, duduk, diam, duit.

Pers yang kritis pasti digebuk, contohnya Tabloid Detik, Majalah Tempo, dan Majalah Editor. Tokoh-tokoh yang vokal dipersulit hidupnya. Pusat pegang kendali sepenuhnya. Belum ada otonomi daerah, yang antara bupati/wali kota dan gubernur bisa berbeda pilihan politiknya.

Waktu itu, yang kritis kepada pemerintah dicap menghalangi pembangunan. Antipembangunan berarti PKI. Siapa yang distigma komunis bakal 'kelar' hidupnya. Etnomuskolog Margaret Kartomi menganalogikan, dalam tataran pemerintahan Jawa, fungsi pemimpin serupa gong.

Alat-alat musik, sesekali boleh ada suara yang tidak harmonis, tetapi kalau gong sudah ditabuh, nada kembali selaras. Tak boleh ada yang sumbang. Meskipun hasil survei itu sebuah tamparan bagi para pemimpin di era reformasi, dari sisi waktu berkuasa, para pendukung Jokowi bolehlah berlega hati.

Bahwa 3,5 tahun Jokowi berkuasa bisa mendapat 17,8% suara mengalahkan Yudhoyono yang dua periode menjadi presiden. Wajar jika ada yang bilang, "Coba kalau Jokowi bisa dua periode (10 tahun), bisa jadi ia mengalahkan persepsi publik tentang pemimpin Orde Baru yang korup dan otoriter itu."

Tidaklah baik bagi bangsa ini pemimpin yang antidemokrasi, tak peduli HAM, nepotis, korup, tapi menjadi kerinduan publik. Di masa demokrasi ketika parlemen yang lantang berteriak dan media sosial yang amat galak: bisa menghajar siapa saja, pemerintahan Jokowi bisa membangun tanpa berhenti selama 3,5 tahun seperti tol, bandara, pelabuhan, waduk, pos-pos daerah perbatasan, sungguh sebuah upaya tak mudah.

Ada kritik Jokowi sibuk membangun fisik, tetapi melupakan membangun sumber daya manusia. Sibuk membangun fisik, tapi terus menumpuk utang. Pemerintah menjawab, hingga akhir April 2018 total utang Indonesia Rp4.180,61 triliun, tumbuh 13,99% jika dibanding April tahun lalu Rp3.667,41 triliun.

Namun, itu masih pada level aman dan terjaga rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB), yakni di bawah 30%. Bandingkan dengan beberapa negara seperti Vietnam 63,4%, Thailand 41,8%, Malaysia 52,7%, Brasil 81,2%, Nikaragua 35,1%, dan Irlandia 72,8% terhadap PDB.

Meski demikian, saya setuju mesti superhati-hati mengelola utang. Tentu bagi mereka yang mempunyai kerinduan kepada Orde Baru, semakin menguatkan langkah untuk bersekutu dengan opisisi yang berambisi mengganti presiden pada 2019.

Terlebih beberapa partai politik baru yang akan berlaga pada Pemilu 2019, juga berorama Soeharto atawa Orde Baru. Jika Pemilihan Presiden 2019 nanti memang memperhadapkan partai ulangan 2014, yakni Jokowi versus Prabowo, Jokowi harus mempertegas dirinya bahwa ia memang maju mewakili kaum reformis.

Enam agenda reformasi, yakni adili Soeharto dan kroninya, amendemen UUD 1945, hapuskan Dwifungsi ABRI, pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), otonomi daerah seluas-luasnya, dan tegakkan supremasi hukum, umumnya sudah dilakukan.

Hanya kualitas dan implementasinya perlu terus ditingkatkan. Beberapa janji kampanye Jokowi juga harus dilihat kembali. Revolusi mental kini seperti melindap. Kementerian yang diberi tugas untuk menjadi lokomotif gerakan ini harus dievaluasi secara total.

Jika tak mampu, perlu dicari sosok yang mampu. Dalam memilih pejabat yang masih dalam kewenangannya, Jokowi harus membuktikan mereka sosok yang bersih dan berorientasi memajukan negeri. Termasuk dalam memilih calon wakil presiden nanti, Jokowi harus memilih negarawan kelas satu.

Jangan model politisi yang hanya semata berburu jabatan tanpa mengukur kemampuan diri. Kita butuh pemimpin era reformasi yang bisa mematahkan persepsi bahwa Soeharto sebagai presiden paling berhasil. Karena faktanya ia didesak mundur karena banyak catatan yang harus dikoreksi.

Salah satu keberhasilan presiden era reformasi ialah mengatasi kesenjangan sosial-ekonomi yang kian dalam itu.*

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.