Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Membasmi Terorisme sampai Akarnya

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
18/5/2018 05:30
Membasmi Terorisme sampai Akarnya
(Ebet)

KITA mengawali ibadah puasa Ramadan tahun ini dengan rasa duka mendalam. Duka karena rentetan serangan bom yang mamatikan banyak orang; tentu menimbulkan kengerian. Dalam ketakutan serupa itu kita melawannya dengan tagar #Kamitidaktakut! Inilah afirmasi penguat diri.

Kita juga berduka kekerasan terjadi di Jalur Gaza, Palestina, karena Amerika Serikat memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv, Israel, ke Jerusalem. Lebih dari 60 orang meninggal dunia ditembak tentara Israel dengan brutal. Inilah dua negara yang menjadikan kian suburnya terorisme. Ini pula yang berkorelasi dengan keadaan kita sekarang ini: aksi terhadap ketidakadilan global.   
 
Salah satu bukti ketakutan itu ialah adanya paranoia masyarakat yang mulai terjadi. Salah satunya terjadi di Terminal Tulungagung, Jawa Timur, seorang siswi berabaya dan bercadar diturunkan dari bus karena gerak-geriknya mencurigakan. Padahal, ia santriwati yang tengah bingung hendak kabur dari pesantren karena tak betah. Kejadian yang mirip di Tulungagung juga terjadi di beberapa tempat.

Dengan rasa geram Presiden Joko Widodo pun menyatakan perang terhadap terorisme. Ia akan membasmi terorisme sampai ke akar-akarnya. Bahkan, jika revisi UU No 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme tak lekas selesai, ia akan menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu). Perppu lagi!

"Kita akan basmi (terorisme) sampai ke akar-akarnya," kata Jokowi sehari setelah rangkaian bom mengguncang tiga gereja di Surabaya di Sidoardjo. Saya setuju Presiden Jokowi membasmi terorisme. Namun, saya tak sepenuhnya yakin negara mampu memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya jika cara pemberantasannya biasa-biasa saja.

Memang terorisme disebut sebagai crime against humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan). Namun, masyarakat juga banyak yang tak melindungi kemanusiaannya sendiri. Bukti yang paling jelas ialah sikap masyarakat yang sedikit bersimpati terhadap tindak kekerasan dan menyalahkan Polri dan pemerintah.

Sejak bom Thamrin (Januari 2016), bom Kampung Melayu (Mei 2007), hingga kekerasan di Mako Brimob, bom gereja Surabaya, Polresta Surabaya, Rusunawa Sidoarjo, dan penyerangan di Polda Riau, ada pihak yang justru terus mengolok-olok Polri/pemerintah. Bom di tiga gereja di Surabaya pun ada yang menulis 'Dita Oeprianto dijebak 'sang sutradara' yang telah memasang bom dan ia memegang remote controle untuk meledakkan'.

Bahaya dukungan terhadap teroris diingatkan Ali Imran. Mantan teroris itu meminta masyarakat jangan memberi angin sedikit pun dengan memojokkan Polri/pemerintah seperti 'konspirasi' dan 'pengalihan isu'. "Ketika mengatakan seperti itu, teroris akan kipas-kipas karena merasa dibantu," katanya.

Yang lebih mencemaskan, terorisme telah melibatkan keluarga, ini tak mudah mendeteksinya. Dunia pendidikan kita juga menjadi bom waktu. Simak survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah yang dirilis November 2017 dengan tajuk Api dalam Sekam: Keberagaman Gen Z, sungguh mencengangkan.

Survei nasional yang dilakukan di 34 provinsi itu melibatkan ribuan guru, dosen, siswa, dan mahasiswa, untuk mengetahui bagaimana muslim 'generasi Z' (siswa/mahasiswa) melihat agama, keragaman, negara, serta bagaimana pendidikan agama membentuk cara berpikir anak-anak muda ini. Hasilnya, lebih dari sepertiga 'generasi Z' percaya pengertian jihad itu; terutama perang terhadap nonmuslim.

Satu dari lima 'generasi Z' juga percaya aksi bom bunuh diri itu jihad Islam. Sepertiga dari mereka percaya bahwa orang yang murtad boleh dibunuh. Hampir sepertiga merasa perbuatan intoleran terhadap minoritas tidak bermasalah. Ternyata medsos masih menjadi rujukan 'generasi Z' ini dalam mendapatkan ilmu dan informasi keislaman.

Buku pelajaran agama (Islam) juga punya peran. Survei menunjukkan 48,95% siswa/mahasiswa merasa pendidikan agama memiliki porsi yang besar dalam memengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Materi bergaul dengan pemeluk agama berbeda mereka nilai sangat sedikit.

Kita tercengang, sebab pendidikan yang mestinya memperkuat keindonesiaan, justru memperlemah negara. Anggaran 20% APBN justru menyuburkan sikap intoleran. Kita sepakat bahwa ketidakadilan memang salah satu akar terorisme. Namun, pelajaran agama ternyata justru salah satu penyumbang ke arah radikalisme, sementara radikalisme ialah akar terorisme.

Memberantas sampai ke akar-akarnya artinya juga ada sikap terbuka terhadap persoalan. Mengatakan terorisme tidak berkaitan dengan agama apa pun agaknya tidak terlalu tepat. Kita harus akui justru memang ada, yakni ajaran agama yang disalahpahami, bahkan dibajak untuk kekerasan.  

Bukankah cita-cita mati syahid beberapa kasus teroris menunjukkan ada ajaran agama yang disalahpahami? Dengan mengakui ada penyakit dan diagnosis, akan mengetahui bagaimana pengobatannya. Memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya tak hanya butuh semangat, tapi juga justru tahu dulu apa saja akarnya dan bagaimana memutus akar itu.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.