Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SAYA pandangi beberapa kali foto keluarga itu.
Keluarga yang tampak bahagia. Keluarga yang saya bayangkan sakinah, mawadah, dan warahmah.
Sepasang suami-istri, Dita Supriyanto-Puji Kuswati, dengan empat anak: dua putra dua putri.
Yang tertua berusia 18 tahun, lalu berikutnya 16 tahun, 12 tahun, dan yang termuda 9 tahun.
Saya bayangkan, menilik dua orangtuanya yang tampak terpelajar dan religius, anak-anak mereka pastilah dibekali dengan ilmu agama dan ilmu dunia secara seimbang. Saya bayangkan...
Namun, keluarga inilah diduga penebar bom di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (13/5) pagi itu.
Jika benar, mereka anak-anak yang berbakti pada orangtua, namun justru tersesat memilih jalan kekerasan.
Tiga gereja yang menjadi target bom ialah Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.
Malam harinya, bom meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya kantor Polrestabes Surabaya menjadi target pengeboman.
Sepanjang 25 jam itu serial aksi kekerasan mematikan 25 orang: 12 orang masyarakat sipil dan 13 orang mereka yang diduga teroris.
Jumlah yang luka lebih banyak lagi, di atas 40 orang.
Kita berduka untuk ke sekian kalinya karena aksi terorisme. Betapapun negara menjamin keamanan, ketakberdayaan publik itulah faktanya menghadapi aksi teror.
Rangkaian kekerasan di Surabaya dan Sidoarjo terjadi kurang dari sepekan setelah kekerasan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
Kita pun jadi mafhum terorisme memang tengah kembali beraksi di negeri ini.
Aparat negara seperti ditampar mukanya. Dunia mengecam dan mengutuk.
Sejak awal reformasi (tahun 2000) demokrasi yang bertumbuh, terorisme menjadi noda yang menyertainya, hingga kini. Sudah tak terbilang kali aksi kekerasan terjadi.
Jakarta beberapa kali menjadi terget.
Bali dua kali menjadi lokus pengeboman, lebih dari 200 orang meninggal dunia dengan tiga bomber: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron.
Ketiganya telah dihukum mati.
Akan tetapi, tindak terorisme di Indonesia terus hidup.
Ada dua gembong teroris asal Malaysia, yakni Azhari dan Nurdin M Top yang bertahun-tahun menjadikan Indonesia sebagai 'medan laga'.
Keduanya juga telah mati ditembak polisi. Namun, sekali lagi, terorisme tak mati.
Era terorisme ala Jamaah Islamiyah dan Alqaeda yang dipimpin Osama bin Laden usai, muncul generasi teroris baru.
Mereka membentuk beragam kelompok seperti Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT).
Aksi teror yang dilakukan Dita Supriyanto melibatkan istri dan anak-anaknya, baru pertama kali di negeri ini.
Juga bom di Kantor Polrestabes Surabaya, melibatkan dua anak.
Kita semua tercengang, tak percaya ada iman yang ditanamkan pada anak-anaknya sendiri bahwa kekerasan bisa menjadi jalan ke surga.
Dita pernah menulis di media sosial beberapa tahun lalu untuk keluarganya agar tabah menghadapi kehidupan.
Sebab, kesulitan di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan kesulitan di negeri akhirat.
Kedekatan pada Sang Khalik itulah yang akan menjadi jalan yang memudahkan.
Menurut Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Dita merupakan Ketua JAD Surabaya.
Adapun Ketua JAD dan JAT Indonesia ialah Aman Abdurrahman yang ditangkap Densus 88 dan kini tengah menghadapi persidangan.
Ada 1.100 orang Indonesia yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan Islamic State (IS), sekitar 500 orang di antaranya telah kembali ke Indonesia.
Namun, Polri tak bisa melakukan apa pun karena undan-undang tak memberinya wewenang, begitu kata Tito.
Menurut mantan pentolan Jamaah Islamiyah Ali Fauzi, sebenarnya selama ini Jawa Timur merupakan daerah reproduksi.
Banyak orang dari Jawa Timur yang direkrut kemudian melakukan aksi terorisme di luar daerah.
"Kenapa yang dulu Surabaya dikenal sebagai rahim, sekarang Surabaya menjadi medan perang kedua? Karena sejumlah daerah pertempuran sudah habis, mereka akan membuat medan baru," katanya.
Ia juga meminta masyarakat agar tak ciut nyali dengan aksi terorisme ini.
Ia mengajak seluruh masyarakat bersatu untuk melawan terorisme.
Menurutnya, terorisme ini merupakan kejahatan besar dan terorganisasi.
Ia pun menyesalkan jika ada yang menyebut aksi terorisme sebagai pengalihan isu, drama politik, konspirasi.
"Saya katakan, itu semua salah. Ada kelompok tertentu yang ingin membuat Indonesia ricuh," jelasnya.
Terorisme melibatkan keluarga, dan Dita berasal dari keluarga berada, kian komplekslah kejahatan terorisme di Indonesia.
Bahwa kini terorisme bukan semata karena kemiskinan.
Mereka beraksi di saat yang tepat, ketika masyarakat tengah terbelah dengan tajam karena politik dan agama dibawa serta.
Ketika media sosial dipenuhi ujaran kebencian, hasutan, dan fitnah. Selain Revisi Undang-undang Antiterorisme, menangkalnya butuh masyarakat yang bersatu untuk melawannya.
Bukan masyarakat yang terbelah.
Terlebih lagi ada elite yang memberi angin mendukung kejahatan kemanusiaan itu.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita
SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan
PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik.
"SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."
SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.
MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.
LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.
DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.
DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.
SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan
TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved