Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Tsunami Melayu dan Peranan Raja

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
14/5/2018 05:10
Tsunami Melayu dan Peranan Raja
(MI/Ebet)

APAKAH yang terjadi bila Raja Malaysia Sultan Muhammad V lamban bertindak?

Kiranya terjadi kekacauan berat di negeri tetangga itu.

Raja mengambil peran sentral di belakang layar sehingga perpindahan kekuasaan dari PM Najib Razak kepada PM yang baru Dr Mahathir Mohamad berjalan lancar dan berlangsung dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Rezim yang berkuasa 60 tahun tumbang dengan mulus, padahal tidak ada partai yang menang dengan meraih suara mayoritas.

Pakatan Harapan menang simple majority di parlemen.

Karena itu, Najib Razak menyebut parlemen dalam keadaan menggantung.

Bahkan beredar isu Raja akan menunda pelantikan Mahathir menjadi PM. Negara bisa berstatus keadaan darurat.

Itulah kemelut pada Kamis (10/5) dini hari, beberapa jam setelah rakyat selesai memilih.

Kemelut itu jadi lebih parah karena Komisi Pemilihan seperti memilih diam.

Saya rasa, komisi itu masih tidak percaya partai yang berkuasa kalah.

Bukan perkara aneh karena memang tidak ada analis yang memperhitungkan bahwa Barisan Nasional bakal kalah.

Hasil survei lembaga jajak pendapat independen Merdeka Center, yang dilakukan menjelang pemilu, menemukan perolehan suara BN turun 7,9% jika dibandingkan dengan pada 2013.

Kendati demikian, katanya BN tetap yang menang.

Semua itu keliru sehingga terjadilah pergantian kekuasaan yang tiada terduga. Sebuah situasi yang bisa menimbulkan kekacauan.

Namun, untung ada Raja Sultan Muhammad V, dan hemat saya, untung pula ada Leslie Lopez, koresponden regional The Straits Times, yang membuka peranan sang raja di belakang layar sehingga kekuasaan beralih dengan sangat mulus (The Straits Times, 10/5).

Dari laporan jurnalistik Leslie Lopez itu, izinkan saya menyimpulkan ada lima hal yang efektif strategis dilakukan Raja setelah selesai penghitungan suara.

Pertama, melalui adiknya, Sultan Nazrin Muizzuddin, wakil raja urusan perkotaan, Raja memerintahkan kepolisian untuk memelihara ketertiban dan menjaga hasil pemilihan umum.

Bukan perintah normatif karena di markas besar kepolisian Malaysia itu terdapat sebuah ruang operasi sangat rahasia dengan tayangan digital hasil perolehan suara.

Mabes tahu benar faktual hasil pemilu.

Karena itu, aparatur negara itu diperintahkan untuk menjaga hasil pemilu dengan penuh hormat pada suara rakyat.

Kedua, Raja memanggil Dr Wan Azizah, istri Anwar Ibrahim, Ketua Partai Keadilan Rakyat yang meraih suara terbanyak dalam koalisi Pakatan Harapan.

Bukankah dia yang berhak menjadi perdana menteri?

Ketiga, untuk memastikan jawaban atas pertanyaan siapa yang bakal menjadi PM itu, Raja menerima tiga pemimpin koalisi Pakatan Harapan, yaitu Dr Wan Azizah, Muhyiddin Yassin (Partai Pribumi Bersatu Malaysia), dan Lim Guan Eng (Democratic Action Party).

Ketiganya menyampaikan kepada Raja bahwa mereka telah bersepakat Dr Mahathir Mohamad-lah yang menjadi PM. Mahathir sendiri tidak hadir dalam pertemuan itu.

Keempat, tidak kalah penting pada Kamis pukul 03.00 itu Raja menerima tiga tokoh pemerintahan yang meminta Raja untuk segera melantik Mahathir menjadi perdana menteri.

Mereka ialah Kepala Sekretariat Pemerintahan Tan Sri Ali Hamsa, Inspektur Jenderal Tan Sri Fuzi Harun, serta seorang perwira senior Angkatan Bersenjata Malaysia.

Kelima, Raja menepis isu bahwa Raja akan menunda pelantikan Mahathir. Pada Kamis itu juga pukul 09.30 Mahathir dilantik menjadi PM.

Tentu harus disebut bagaimana publik tahu hasil pemilu sebenarnya, padahal Komisi Pemilihan belum mengumumkannya.

Menurut laporan jurnalistik Leslie Lopez, penghitungan suara rahasia dari mabes kepolisian itu beredar melalui WA.

Isinya antara lain koalisi Pakatan Harapan mendapat 127 kursi di parlemen, sedangkan Barisan Nasional hanya 86 kursi.

Mahathir mengambil inisiatif, melalui konferensi pers membuka hasil penghitungan itu.

Satu perkara sangat jelas telah terjadi tsunami Melayu. Barisan Nasional yang dipimpin Najib Razak kehilangan kepercayaan anak bangsanya, orang Melayu. Partai itu anjlok besar-besaran. Raja yang arif bijaksana menangkap suara hati rakyatnya.

Drama lain susul-menyusul. Mahathir melarang Najib ke luar negeri. Publik menunggu drama pemimpin tertua di dunia itu membongkar habis korupsi yang dilakukan Najib.

Raja berjanji mengampuni Anwar Ibrahim. Tunggu waktu saja terjadi drama yang mengejutkan sejarah, yaitu Mahathir menyerahkan kursi PM kepada Anwar yang dulu dihabisi Mahathir.

Semua itu happy ending, juga berkat perjuangan hebat sang istri, Wan Azizah.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.