Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Pertamina

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
02/5/2018 05:30
Pertamina
()

TIGA nama calon pengganti Elia Massa Manik sebagai Direktur Utama Pertamina sudah ada di tangan Presiden Joko Widodo. Presiden akan memilih satu di antara tiga itu atau bisa juga mengambil nama lain yang dianggap mampu memimpin Pertamina. Tiga kriteria yang harus dipenuhi ialah kepemimpinan yang kuat, mengerti keuangan, serta paham sektor minyak dan gas.

Tidak bosan kita menyampaikan, Pertamina harus menjadi perusahaan minyak dan gas nasional yang sesungguhnya. Orientasinya jangan hanya mampu menyediakan kebutuhan bahan bakar minyak untuk masyarakat, tetapi juga menjadi perusahaan energi kelas dunia.
 
Pada masa kepemimpinan Karen Agustiawan pernah dicanangkan menjadikan Pertamina sebagai energy of Asia. Namun, kampanye itu tidak pernah lagi digaungkan. Yang terjadi dalam periode empat tahun terakhir justru empat kali pergantian kepemimpinan.

Kali ini kita berharap Presiden bisa memilih orang yang tepat dan memberinya waktu yang cukup untuk memimpin. Hal itu penting agar ia bisa bekerja sesuai dengan karakter industri migas. Industri tersebut berorientasi jangka panjang. Tahap operasi minyak dari eksplorasi hingga eksploitasi membutuhkan waktu minimal 10 tahun sampai bisa menghasilkan.

Membangun kilang atau petrokimia pun butuh waktu di atas lima tahun. Dengan karakter industri yang berjangka panjang, tidaklah mungkin pejabat yang ditunjuk punya periode kerja terlalu pendek. Ia tidak pernah akan berani untuk melakukan investasi karena merasa tidak ada manfaatnya untuk pencapaian pribadinya. Itulah yang membuat Pertamina berjalan di tempat.

Mari kita bandingkan dengan Petronas yang dulu belajar dari Pertamina. Petronas memulai produksi dari satu sumur eksploitasi berkapasitas 40 ribu barel per hari pada 1975. Hasil itu mendorong mereka mencari ladang-ladang minyak baru di seluruh dunia dan membangun pengilangan.

Setelah 10 berlalu, Petronas bahkan mulai membangun pabrik petrokimia untuk memberikan nilai tambah dari sumber daya alam yang mereka miliki. Sekarang ini Petronas memiliki 17 pabrik petrokimia, 8 dimiliki sendiri, 5 perusahaan patungan, dan 4 menjadi pemegang saham minoritas.

Semua itu bisa terjadi karena mereka yang diberi kepercayaan memimpin Petronas selalu bersikap think big, act big. Seperti itu pulalah sikap yang harus dimiliki Dirut baru Pertamina nanti. Ia harus memiliki kepemimpinan yang mampu membangun sebuah tim yang kuat. Pertamina tidak membutuhkan superman, tetapi perlu memunyai superteam.

Cara berpikir yang besar dan terintegrasi diperlukan agar kita mampu menciptakan efisiensi. Bahkan, efisiensi itu bukan hanya diperlukan untuk kepentingan Pertamina saja, melainkan juga kepentingan nasional.

Sekarang ini kita masih sering berpikir secara parsial. Contoh paling nyata kilang minyak milik Pertamina yang ada di Balongan, Jawa Barat, dan Cilacap, Jawa Tengah, lalu pabrik petrokimia PT Chandra Asri ada di Serang, Banten. Karena Pertamina berpikir hanya untuk diri mereka, nafta yang dihasilkan dari Balongan atau Cilacap diekspor ke Singapura.

Chandra Asri mengimpor kebutuhan nafta, salah satunya, dari Singapura. Jangan-jangan nafta itu tidak pernah sampai Singapura, tetapi langsung dikirimkan ke Chandra Asri.  Perusahaan migas modern selalu berpikir efisien. Mereka memiliki tempat penyimpanan minyak maupun gas di banyak negara.

Pasokan untuk kebutuhan konsumen mereka lakukan dari tempat penyimpanan yang terdekat agar bisa memotong biaya transportasi.  Dengan pengalaman sejak 1968, Pertamina sudah saatnya melakukan transformasi. Pertamina jangan hanya berkutat menikmati monopoli penjualan BBM di dalam negeri.

Terbanglah tinggi menjadi pemain global karena energi sangat dibutuhkan bagi pembangunan dan sekarang kita sudah menjadi net importer migas. Di zaman Orde Baru, karena kebergantungan kita yang terlalu kuat kepada lembaga keuangan internasional, sepak terjang Pertamina memang dibatasi.

Kita tidak pernah bisa membangun pabrik petrokimia meski Presiden Soeharto sudah memberikan izin 10 pabrik petrokimia kepada perusahaan minyak dunia. Namun, setelah Chandra Asri malu menerobos ‘blokade’ lembaga internasional, seharusnya Pertamina berani melakukan investasi.

Chandra Asri sudah berencana membangun pabrik kedua petrokimia. Seharusnya Pertamina mau belajar dan mulai membangun juga pabrik petrokimia. Seperti Petronas, Pertamina tidak harus memilikinya sendiri, tetapi bisa bekerja sama dengan pihak lain. Yang terpenting secara nasional kita memiliki kekuatan karena ada industri yang memiliki nilai tambah tinggi.

Kita perlu think big, act big agar tidak terus-menerus terjebak dalam cara berpikir yang pesimistis. Bangsa ini memerlukan karya besar yang bisa membangunkan kebanggaan dan rasa percaya diri. Kita mempunyai potensi untuk menjadi negara besar yang dihormati, terutama di bidang energi.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.