Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Tenaga Kerja

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
25/4/2018 05:30
Tenaga Kerja
(ebet)

BELUM lama Menteri Senior Singapura Chee Hong Tat bertemu beberapa teman direksi televisi Indonesia untuk mendiskusikan fenomena global yang tengah terjadi. Era disruption mengubah tatanan yang ada. Semua negara harus bersiap untuk melakukan shifting agar gejolak bisa diminimalisasi.
      
Pemerintah Singapura sudah mulai mendata jenis-jenis profesi yang paling terkena dampak disruption. Mereka menyiapkan pelatihan yang memungkinkan para pekerja memiliki keterampilan lain. Itu akan menjadi modal ketika disruption benar-benar harus dialami banyak pekerja dan shifting harus mereka lakukan.
       
Kita pun harus bersiap untuk menghadapi kondisi itu. Cepat atau lambat, disruption itu akan kita hadapi. Persoalan kita menjadi tidak lebih mudah karena jumlah penduduk kita banyak, mereka yang masih menganggur juga besar, dan mereka yang baru lulus serta mencari pekerjaan jumlahnya terus bertambah.
       
Pemerintah perlu berhati-hati karena bekerja itu merupakan fitrah manusia. Semua orang membutuhkan pekerjaan karena kita adalah homo faber. Manusia baru merasa menjadi manusia sesungguhnya ketika mereka memiliki pekerjaan.
       
Meski konstitusi mengamanatkan negara untuk menyediakan pekerjaan yang bisa memberikan kehidupan layak bagi seluruh warga, kita tahu ini bukan pekerjaan mudah. Kemampuan negara untuk menyediakan lapangan pekerjaan sangatlah terbatas. Kita mengharapkan dunia usaha memainkan peran yang lebih besar.
         
Untuk itulah kita mengundang pengusaha agar mau melakukan investasi. Akan tetapi, pengusaha pun tidak bisa begitu saja menanamkan investasi. Mereka harus berhitung agar investasi yang ditanamkan bisa terus bertahan lama dan kemudian kembali modal. Pengusaha harus bisa mengapitalisasikan modalnya agar perusahaan menjadi sehat dan para pekerja pun tenang menjalankan pekerjaan.
         
Proses inilah yang sering dilupakan. Kita hanya melihat pengusaha sebagai business animal yang sekadar mencari untung. Padahal pengusaha itu menjalankan juga misi sosial, yakni membuka lapangan pekerjaan. Mereka mempertaruhkan modal yang dimiliki untuk memberi kesempatan kepada orang lain ikut membangun perusahaan yang didirikan.
         
Terbatasnya investasi yang ditanamkan menunjukkan para pengusaha masih khawatir akan kondisi bisnis di negara kita. Ketidakpastian yang ada membuat pengusaha ragu-ragù menanamkan modal. Akibatnya, jumlah lapangan kerja yang dihasilkan juga terbatas.
         
Oleh karena banyak orang tidak bisa menunggu lebih lama datangnya pekerjaan, mereka kemudian melakukan apa yang bisa dilakukan. Banyak pekerjaan yang seharusnya menjadi pekerjaan sambilan dijadikan pekerjaan utama. Itu yang kita lihat dengan fenomena angkutan online. Jumlah mereka semakin lama semakin banyak.
        
Sekarang angkutan online menuai masalah karena sudah dianggap sebagai pekerjaan formal. Mereka merasa menjadi kekuatan karena diterima langsung Presiden Joko Widodo di Istana. Senin lalu, mereka menutup jalan di depan Gedung DPR untuk berunjuk rasa menuntut kenaikan tarif.
         
Pemerintah akan menghadapi persoalan lebih besar kalau tidak menuntaskan persoalan ini sebab menjadi pengemudi angkutan online sudah dianggap sebagai profesi. Padahal dalam era disruption bukan profesi seperti itu yang kita harapkan.
         
Kondisi ini sangat mudah mengimbas pada isu tenaga kerja asing. Pemerintah menghadapi kesulitan menghadapi isu TKA karena komunikasi yang dijalankan tidak tertata dengan baik. Seperti peraturan menteri keuangan berkaitan dengan perpajakan dan peraturan presiden berkaitan dengan TKA tidak diawali dengan sosialisasi yang benar.
         
Ibarat api sudah membesar, baru pemerintah berupaya untuk memadamkannya. Orang tidak peduli lagi untuk melihat awal mula terjadinya percikan, yang mereka rasakan ialah arus TKA yang jumlahnya besar dalam periode yang pendek.
         
Kita harus mengakui koordinasi antara investasi dan penggunaan tenaga kerja tidak berjalan dengan baik. Banyak investasi terutama dari Tiongkok yang menggunakan model turn-key project. Akibatnya, semua dikerjakan pekerja dari Tiongkok. Kita bisa melihat antara lain proyek pembangkit listrik di Sumatra Selatan dan pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah.
          
Pemerintah tidak cukup hanya membantah. Yang perlu dijelaskan ialah penggunaan TKA sesuai dengan jenis proyek yang dilakukan. Namun, yang tidak kalah penting dilakukan ialah memikirkan cara membuka lapangan kerja bagi banyak warga karena hanya itulah yang bisa menjawab kecemburuan sosial.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.