Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Libur

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/4/2018 05:30
Libur
(ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

PEMERINTAH memutuskan libur Lebaran kali ini akan berlangsung mulai 11 Juni sampai 20 Juni.

Alasannya, untuk menghindari kemacetan mudik dan balik Lebaran, liburan perlu diperpanjang.

Dengan libur yang lebih panjang diharapkan tidak akan terjadi penumpukan arus lalu lintas.

Sungguh luar biasa Republik ini, meski sudah 73 tahun merdeka, tetap tidak mampu mengelola mudik dengan baik.

Seakan sudah putus asa, maka ditempuhlah jalan pintas libur diperpanjang.

Bukan mendidik masyarakatnya untuk pandai-pandai mengatur cuti tahunannya agar mudiknya tidak bermasalah.

Lebih ironis lagi kalau disandingkan dengan tema besar pemerintah sekarang ini, "Kerja...kerja...kerja...."

Kenyataan sekarang yang kita jalankan ialah "Libur...libur... libur...."

Padahal, dalam setahun sudah begitu banyak hari libur yang kita jalani.

Tidak keliru apabila kalangan dunia usaha keberatan dengan kebijakan libur kali ini.

Apalagi, keputusan dilakukan begitu mendadak dan tanpa konsultasi.

Kalangan dunia usaha tidak pernah diajak bicara dan tidak pernah dirinci jenis industri apa yang boleh dan tidak boleh ikut dalam keputusan libur panjang kali ini.

Pemerintah seperti tidak paham bahwa tidak semua industri bisa berhenti beroperasi begitu saja.

Seperti industri kaca, fiber sintetis, petrokimia, dan pengilangan tidak bisa mereka berhenti beroperasi.

Ketika mereka mempekerjakan karyawan pada hari libur nasional, ada biaya lembur yang harus dibayarkan pengusaha.

Pemerintah pasti akan berdalih, langkah yang sama dilakukan pemerintah Tiongkok pada saat Perayaan Tahun Baru Imlek.

Memang mereka memberikan perpanjangan hari libur, tetapi perpanjangan itu dikompensasi dengan bekerja di hari libur yang lain.

Jadi, kalau seperti kita memutuskan untuk libur bersama mulai Senin, 11 Juni, karyawan di Tiongkok harus tetap masuk kerja dulu pada Sabtu, 9 Juni dan Minggu, 10 Juni.

Hal itu dilakukan agar secara nasional mereka tidak kalah bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Apalagi, kita hidup di era yang semua negara berlomba untuk menjadi pemenang.

Seperti dikatakan Thomas Alfa Edison, mereka yang berhasil itu ialah mereka yang hanya 1% menggunakan inspirasi dan 99% berkeringat.

Ketika sekarang kita memutuskan perpanjangan hari libur hanya karena alasan agar tidak terjadi kemacetan, akan sulit bagi kita untuk menjadi bangsa yang maju.

Karena kalau hanya menggunakan alasan seperti itu, tidak ada jaminan juga tidak akan terjadi penumpukan arus lalu lintas.

Kebanyakan orang pasti akan kembali ke kampung halaman pada Jumat, 8 Juni. Kalau semua berpikiran sama, Jumat, Sabtu, dan Minggu akan ada arus yang besar untuk mudik.

Dengan menetapkan cuti bersama yang mengurangi jatah cuti tahunan karyawan, banyak juga yang kemudian mereka merasa dirugikan.

Pengurangan jatah cuti akan membuat rencana cuti bersama keluarga menjadi berantakan. Itu terutama dirasakan oleh karyawan yang tidak merayakan Lebaran.

Semua ini menyadarkan kita untuk mempertimbangkan lebih saksama ketika hendak mengeluarkan kebijakan publik.

Pertimbangannya harus dibuat lebih menyeluruh sehingga keputusan yang dikeluarkan mempunyai argumentasi yang kuat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kita teringat apa yang selalu didengungkan Presiden Joko Widodo di awal kepemimpinannya, yaitu revolusi mental.

Kita harus mengubah sikap dan perilaku kita apabila ingin menjadi bangsa pemenang.

Perubahan sistem politik dari otokrasi ke demokrasi tidak akan ada manfaatnya apabila tidak diikuti dengan perubahan sikap dan perilaku.

Sekarang kita merasakan bagaimana perubahan sistem politik besar tidak memberi banyak manfaat bagi kehidupan bangsa dan negara kecuali kebebasannya.

Semua ini terjadi karena sikap dan perilaku kita tidak berubah, masih sama seperti dulu.

Bukan hanya dari sisi tidak berubahnya sikap dan perilaku kita dalam memandang yang namanya kekuasaan, tetapi juga dalam sikap bekerja keras.

Kita selalu mendengungkan ingin menjadi negara maju dan bahkan akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 4 di dunia pada 2050, tetapi tidak mau bekerja keras.

Padahal, kunci dari bangsa Jepang, Korea, dan Tiongkok bisa menjadi bangsa yang maju karena mereka membangun bangsanya untuk mau bekerja keras.

Mereka memulai dengan menanamkan disiplin yang kuat. Disiplin itu membentuk etos kerja.

Dari etos kerja itulah dihasilkan produksi.

Bahkan produksi itu mereka reproduksi lagi menjadi barang yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Semua itu memang tidak sekali jadi.

Ada proses panjang yang mereka lewati untuk menjadi bangsa yang maju.

Hal itu dimulai dari hal yang kecil, yakni kerja keras.

Kita belum waktunya untuk berleha-lega dan menikmati gaya hidup.

Kita masih membutuhkan kerja keras agar bisa memperkecil ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.