Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Emangnye cuma Ente

19/4/2018 05:30
Emangnye cuma Ente
(ebet)

SELASA (17/4) lalu, dalam bahasa yang santun, terbit sebuah advertorial yang cukup memikat. Besarnya sehalaman surat kabar nasional. Bertajuk 'Surat buat Semua', isinya memperkenalkan kepada publik Relawan Gojo, relawan Golkar Jokowi.

Disebutkan dalam iklan itu bahwa inisiator organisasi relawan itu ialah Airlangga Hartarto, yang dibahasakan sebagai 'seorang tokoh nasional yang kini dipercaya memegang amanah sebagai Menteri Perindustrian RI dan Ketua Umum Partai Golkar'.

Foto sang inisiator bersama Jokowi, keduanya tersenyum, hampir setengah halaman koran, menjadi foto utama advertorial itu. Jokowi mengenakan kaus berwarna kuning (warna Golkar), sebaliknya Airlangga berkaus warna putih (warna baju kerja Jokowi).

Eksplisit pula disebutkan bahwa tujuan Relawan Gojo menjadi jelas dengan sendirinya, yaitu untuk mendukung pemenangan Presiden Jokowi dalam Pilpres 2019, sekaligus untuk mendorong peningkatan suara Partai Golkar dalam Pileg 2019.

Sebelumnya, Partai NasDem lebih dulu mencanangkan tagline di ruang publik, 'Jokowi Presidenku, NasDem Partaiku'. Baliho besar di seluruh Indonesia itu menggunakan foto Surya Paloh bersama Jokowi. Keduanya mengenakan jas warna gelap dan berdasi.

Pertanyaan yang mencuat, tidakkah semua itu dalam rangka sang tokoh hendak dijadikan cawapresnya Jokowi? Dalam banyak kesempatan, berkali-kali Surya Paloh tegas menyatakan tidak berkeinginan menjadi cawapres. Dalam Pilpres 2019, seperti dalam Pilpres 2014, Partai NasDem bakal mengusung dan memenangkan Jokowi tanpa syarat.

Karena itu, untuk seorang Surya Paloh, pertanyaan perihal dirinya dicandrakan menjadi cawapres tidak relevan sama sekali. Sebaliknya, pantas muncul pertanyaan terbuka, tidakkah lahirnya Relawan Gojo pertanda sang inisiator, Airlangga Hartarto, berkeinginan atau diinginkan Partai Golkar menjadi cawapres Jokowi?

Yang jelas, selain Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang telah menjajakan dirinya di mana-mana, kini di ruang publik kian bertambah ramai sosok yang dapat ditafsirkan sebagai bakal cawapres.

Dalam perjalanan dari Bandara Adisucipto, Yogyakarta, menuju Magelang, Selasa lalu (17/4), saya melihat baliho besar, 'Romahurmuziy untuk Indonesia'. Tidak terus terang norak bilang untuk jadi cawapres, tetapi adakah calon lurah/cabup/cagub bilang dirinya untuk Indonesia? Saya membatin, Ketua Umum PPP itu seperti mau bilang kepada Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, emangnye cuma ente yang bisa pasang baliho untuk jadi cawapres?

Sekarang muncul Airlangga Hartarto, Ketua Umum Golkar, sebagai inisiator Relawan Gojo. Saya kembali membatin, Cak Imin, emangnye cuma ente yang bisa jualan citra di ruang publik untuk jadi cawapres?

Demikianlah Pilpres 2019 sesungguhnya bukan terutama kerepotan memilih presiden, melainkan juga kerepotan dan keruwetan menentukan bakal calon wakil presiden. Daftar sosok yang pantas atau merasa pantas menjadi cawapres menjadi panjang sekali. Hal itu tidak hanya terjadi di kubu Jokowi, tetapi juga di kubu Prabowo. Bahkan ada sembilan kader PKS yang disebut layak diusung menjadi cawapres Prabowo.

Tidak ada negara yang kelebihan pemimpin. Umumnya yang terjadi negara kekurangan pemimpin. Sekarang negara ini sepertinya kelebihan calon wakil presiden. Padahal, yang benar kelebihan orang yang levelnya baru layak menjadi ketua umum partai.

Hemat saya, tidak semua dari mereka itu telah tergolong sebagai pemimpin. Karena itu, masih perlu memosisikan diri di ruang publik, tepatnya menjajakan diri, untuk dilirik menjadi cawapres. Kiranya saya perlu membatin sekali lagi, Cak Imin, emangnye cuma ente....

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.