Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Lingkungan

18/4/2018 05:30
Lingkungan
(Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group)

DERAP pembangunan ekonomi yang hendak kita lakukan sering kali membuat lupa terhadap biaya yang harus dibayarkan. Terutama dampak terhadap lingkungan sering terlupakan. Seakan kita mau membayar berapa pun harganya sepanjang tujuan bisa tercapai. Kasus kebocoran pipa minyak bawah laut di Balikpapan merupakan salah satu contohnya.

Praktis hanya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya yang memberi perhatian khusus. Para pejabat negara yang lain menganggap enteng persoalan yang terjadi. Padahal, tumpahan minyak menyebabkan kebakaran hebat di tengah laut. Setidaknya ada lima anak buah kapal tewas karena kebakaran itu.

Lebih parah lagi tumpahan minyak menyebabkan kerusakan alam luar biasa dan bahkan sebagian tercecer sampai ke Selat Makassar. Kita tidak perlu mencari kambing hitam penyebab tumpahan minyak. Namun, seharusnya kita berani terbuka menyebutkan berapa banyak minyak yang bocor dan bagaimana langkah pengendalian dilakukan?

Apa yang perlu dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak terhadap kehidupan mereka? Dengan membiarkan persoalan ini berlalu begitu saja, tidak ada pembelajaran yang bisa kita petik. Padahal, dampak yang dirasakan masyarakat dan juga kerusakan lingkungan yang diakibatkan memakan waktu untuk bisa kembali seperti sediakala. Biaya sosial seperti itu sama sekali tidak pernah diperhitungkan.

Kita seharusnya bisa belajar kasus blowout pada operasi minyak British Petroleum di Teluk Meksiko, AS. Hampir 5 juta barel minyak mengotori perairan sekitar Louisiana. Hampir lima tahun waktu yang diperlukan untuk membersihkan tumpahan minyak. Itu pun masih menyisakan persoalan terhadap satwa dan biota laut.

Pemerintah AS kemudian merespons bencana itu dengan memperketat perizinan untuk eksplorasi minyak dan gas bawah laut. Bahkan BP dilarang untuk beberapa tahun mengoperasikan ladang minyak di 'Negeri Paman Sam'. Padahal, BP sudah mengeluarkan biaya sampai US$42,2 miliar untuk penanganan bencana, di luar denda US$18,7 miliar karena kelalaian yang dilakukan mereka.

Semua itu dilakukan bukan untuk mematikan perusahaan, melainkan justru dimaksudkan agar operator minyak lebih berhati-hati. Industri migas menuntut pelaksanaan prosedur kerja sangat tinggi dan tidak boleh sedikit pun ada kompromi. Bahkan seluruh pekerjanya dituntut selalu siap siaga, khususnya ketika terjadi peristiwa yang tidak terduga seperti kebocoran pipa bawah laut.

Kepedulian kita terhadap lingkungan perlu ditingkatkan karena akan berpengaruh kepada kehidupan dan kualitas kehidupan. Penelitian Universitas Hawaii menyebutkan gelombang panas akan semakin sering terjadi dan mematikan. Diperkirakan, pada 2100 ke atas jumlah gelombang panas yang akan melanda daerah tropis akan mencapai 300 kali setiap tahun.

Untuk negara seperti Indonesia dengan temperatur tinggi dan juga kelembapan tinggi, gelombang panas akan membuat orang sulit untuk berkeringat. Panas tubuh yang tidak bisa keluar menyebabkan sitotoksin panas atau orang seperti terkena sinar matahari, tetapi dari dalam tubuh. Hal ini bisa menyebabkan kematian karena organ tubuh menjadi rusak.

Sekarang ini gelombang panas sering dialami mereka yang tinggal di daerah subtropis ketika mereka mengalami musim panas yang ekstrem. Setidaknya sudah 70 ribu orang di dunia meninggal karena dampak gelombang panas. Dengan pemanasan global yang terus terjadi, diperkirakan dampak gelombang panas semakin sering terjadi.

Apa yang perlu kita lalu lakukan? Pertama kita harus ikut bersama masyarakat dunia mengurangi efek rumah kaca. Emisi gas buang CO2 harus ditekan seminim mungkin dan itu hanya bisa dilakukan kalau kita menggunakan energi lebih bersih dan terbarukan. Kita bisa menggunakan sinar matahari, air, atau angin sebagai sumber energi.

Kalau mau menggunakan energi fosil, lebih baik menggunakan gas daripada minyak. Kedua, kita harus menjaga kawasan agar lebih banyak yang tetap hijau. Hutan yang kita miliki harus dikelola lebih arif. Bukan berarti tidak boleh hutan itu dimanfaatkan, tetapi harus dikelola secara lestari. Keberlanjutan itulah yang harus diterapkan dalam pengelolaan hutan produktif.

Ketiga, kita harus menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Semua persoalan lingkungan harus menjadi aspek yang diperhatikan ketika kita melakukan pembangunan. Itu harus dilakukan sungguh-sungguh dan tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi tidak pernah dikerjakan.

Tidak ada jaminan kasus kebocoran pipa minyak di Balikpapan tidak akan terulang kembali. Apalagi jika sikap kita masih menyepelekan, seakan tidak ada persoalan besar yang terjadi dalam kecelakaan itu. Para pejabat negara jangan hanya berebut tampil ketika ada keberhasilan, tetapi bersembunyi ketika ada bencana yang membuat susah kehidupan banyak orang.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.