Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Tafsir Ilmi

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
17/4/2018 05:30
Tafsir Ilmi
(Seno)

DENGAN penalarannya yang cemerlang fisikawan paling mashur, Alber Einstein, sampai pada kesimpulan, "Sains tanpa agama lumpuh, dan agama tanpa sains buta." Afirmasi ini sangat populer di kalangan ulama sebab mempertautkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Keduanya bukan dunia yang harus saling menjauh, sebaliknya bisa bersatu menemukan titik tumbuh.

"Tiada ketenangan dan keindahan yang dapat dirasakan di dalam hati melebihi saat-saat ketika memperhatikan keindahan rahasia alam raya. Sekalipun rahasia itu tidak terungkap, di balik itu ada rahasia yang dirasa lebih indah lagi, melebihi segalanya, dan jauh di atas bayang-bayang akal kita. Menemukan rahasia dan merasakan keindahan ini tidak lain adalah esensi dari bentuk penghambaan," kata Einstein lagi.

Einstein benar. Ilmu bisa mengungkap makna besar peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Dalam peristiwa itu  Nabi Muhammad 'diperjalankan' (isra) dan 'dinaikkan' (mikraj). Nabi 'diperjalankan' dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina, dan kemudian dari Masjidil Aqsa menuju ke langit ketujuh hingga Sidratal Munthaha, bertemu Tuhannya untuk menerima perintah salat. Yang ajaib waktunya superkilat.

Para ilmuwan dan agamawan mengartikan peristiwa itu sebagai kejadian luar biasa di luar batas akal manusia. Karena itu, menurut para ahli, memerlukan iman yang kuat dan nalar yang super tinggi. Bahkan, dalam memaknai Isra Mikraj perlu perspektif beyond, melampuai banyak dimensi. Masuk akal jika masyarakat Arab jahiliah waktu itu tidak hanya menyebut Nabi berdusta, tetapi juga telah gila. Faktanya, setelah Isra Mikraj, Nabi hijrah ke Yastrib, yang dalam waktu 13 tahun berkembang menjadi Madinah Al-Munawarroh, kota yang dengan peradadaban tinggi.

Ada upaya di kalangan ilmuwan untuk menjelaskan Isra Mikraj dengan pendekatan ilmu pengetahuan, dengan teori kecepatan cahaya, dengan teori relativitas tentang pelambatan waktu. Ini tentu akan bisa menguak misteri alam raya.  Intinya sesungguhnya, seperti kata Einstein, ilmu dan agama bisa bersanding, bukan bersaing. Keduanya saling membutuhkan.

Hubungan keduanya (agama dan ilmu) kian penting, terlebih setelah Zaglul an-Najjar, pakar geologi muslim dari Mesir, dalam penelitiannnya menemukan dalam Quran terdapat kurang lebih 750 hingga 1.000 ayat yang mengandung isyarat ilmiah (ilmu pengetahuan) dan hanya sekitar 200-250 ayat yang berbicara hukum dan fikih. Sementara itu, ayat-ayat kauniyah (mengandung isyarat ilmiah), untuk menguak misteri alam raya, agar kian mendekatkan diri kepada Tuhan, justru kurang mendapat perhatian.

Buku-buku yang ditulis, ceramah para ustadz/ulama, lebih banyak menyangkut fikih dan hukum. Akibatnya Islam tertinggal dari dunia ilmu pengetahuan dan teknologi. Semangat menggulati kembali ilmu pengetahuan seperti yang terdapat dalam 1.000 ayat kauniyah itulah yang terdapat dalam buku Tafsir Ilmi  (2017). Buku itu terdiri 14 buah, hasil kerja sama Kementerian Agama dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dengan melihat banyaknya ayat kauniyah, manusia sesungguhnya didorong untuk mendalami ilmu pengetahuan dan teknologi agar bisa memecahkan misteri atau rahasia alam semesta yang hebat dan mengagumkan. Itulah yang dilakukan para ilmuwan dan ulama Islam pada abad ke 8-9 Masehi sehingga Islam waktu itu berkembang amat pesat, dan menguasai khazanah ilmu pengetahuan dunia (astronomi, fisika, kimia, biologi, matematika) dan mampu memberi pencerahan pada bangsa-bangsa  Eropa.

Namun, pada perkembangan selanjutnya, Islam berkutat hanya pada fikih, dan kurang diimbangi ilmu pengetahuan, akibatnya umat Islam lebih banyak menjadi penonton.  Tafsir Ilmi mestinya membukakan mata umat Islam yang selama ini tertidur di lapangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tafsir Ilmi  mestinya menjadi inspirasi umat Islam untuk kembali menekuni dan mengembangkan ilmu pengetahun dan teknologi.

Dalam refleksi Isra Mikraj, Ketua Umum PP Muhammadiyah minta umat Islam Indonesia yang mayoritas harus tampil sebagai umat yang berkemajuan, bukan sebagai golongan yang besar sebatas jumlah. Islam yang berada di garis depan dalam menghasilkan pusat-pusat keunggulan yang memberi manfaat untuk bangsa dan kemanusiaan universal.

Umat Islam dengan spirit risalah Nabi niscaya menjadi uswah hasanah atau contoh terbaik dalam menampilkan Islam yang tengahan atau moderat dengan menampilkan perilaku damai, toleran, dan menebar kebajikan bagi sesama dan lingkungan di negeri tercinta ini.

Islam, menurut Haedar, harus menggelorakan kemanusiaan dan kebersamaan dengan golongan yang berbeda sekalipun; bukan menampilkan sikap garang, keras, dan memusuhi sesama. Meski dilandasi keyakinan kebenaran agama, tak perlu berpakaian atas nama Tuhan yang menghardik siapa pun yang berbeda dan dipandang salah secara sepihak, tampillah seperti Nabi yang lemah lembut, hikmah, dan uswah hasanah.

Haedar dalam ‘Hakikat Isra Mikraj’(Kompas, 13/4), berharap umat Islam Indonesia menjadi kekuatan prodemokrasi, penegakkan hak asasi manusia, dan membangun civil society yang berkeadaban mulia; termasuk dalam berpolitik yang menebar hikmah dan bukan penabuh genderang perang dan kegaduhan. "Menjadi umat yang maju dan pembangun peradaban utama.

Dengan demikian kehadiran Islam dan umat Islam benar-benar menjadi rahmatan lil-'alamin yang menjadikan negeri dan segenap persada buana menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, sebuah negeri yang subur dan makmur, adil dan aman. Menekuni dan mengembangkan Ilmu pengetahuan dan teknologi akan lebih mudah dalam pencapaian itu.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.