Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KABAR duka itu saya terima ketika berada di Banyumas, Jawa Tengah, Selasa malam silam: seniman Danarto berpulang setelah ditabrak sepeda motor di kawasan UIN Ciputat. Lelayu itu segera menyebar di media sosial hanya beberapa saat setelah ia mengembuskan napas penghabisan.
Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'uun (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jua kami kembali). Jasad sang seniman yang karya-karyanya mendapat apresiasi banyak pengamat sastra ini, dimakamkan di kota kelahirannya, Sragen. Di samping pusara sang ibunda.
"Semua yang berasal dari-Nya, akan kembali juga kepada-Nya. Selamat jalan, Danarto, sampai jumpa di Sana. Semoga jalanmu dimudahkan-Nya. Amin," tulis penyair Sapardi Djoko Damono, yang juga guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, di akun Twitter-nya.
Saya segera teringat cerita buruk Achmad Wahib. Intelektual muda, pemikir dan pembaharu Islam, yang juga meninggal dunia ditabrak sepeda motor di kawasan Pasar Senen, Jakarta Pusat, pada 1973. Usia Wahib waktu itu 30 tahun, calon reporter Majalah Tempo, kini Danarto 77 tahun.
Usia keduanya terpaut dua tahun, Wahib lebih muda. Keduanya bergulat dengan dunia penulisan. Sastrawan Goenawan Mohammad, dengan mengutip sajak Kahlil Gibran, memberikan secara khusus kepada almarhum, "Seperti sungai dan laut akhirnya satu, juga hidup dan kematian."
Ia pun kemudian melanjutkan sekilas perkenalannya dengan seniman kelahiran Sragen, 27 Juni 1940 itu. "Danarto, yang saya kenal sejak 1963, bermula sebagai perupa yang karyanya memesona: adegan dan sosok ganjil yang digambar dengan halus. Pada 1967 tiba-tiba menulis cerita (Godlob) dengan tokoh magis mirip dari mimpi--sebelum Realisme Magis, sebelum Garcia Marquez," tulis Goenawan.
Marquez ialah sastrawan kenamaan Amerika Latin yang banyak penggemarnya di Indonesia. Danarto yang kerap dilekatkan dengan karya-karya sufistik memandang kematian dengan bahagia. Kematian sebagai 'jalan pulang'. Pulang memenuhi panggilan-Nya, sang empunya hidup.
"Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tidak terbatas. Luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir," tulis Danarto dalam cerita pendek Jantung Hati.
Bukan kali ini saja mendiang ditabrak sepeda motor. Beberapa waktu yang lalu, kata cerpenis Seno Gumira Adjidarma, Danarto pernah mengalami hal serupa meski tak begitu parah. Namun, alih-alih ia marah, malah sang seniman ini yang memberinya uang kepada si penabrak.
Siapa pun yang mengenal almarhum, ia memang sosok altruis; terlalu baik kepada siapa pun di tengah keterbatasannya. Danarto kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta. Pada 1968 cerita pendeknya Rintrik mendapat Hadiah Sastra dari majalah Horison.
Ia bergabung dengan Teater Sardono, yang melawat ke Eropa Barat dan Asia, 1974. Di samping berpameran Kanvas Kosong (1973), Danarto juga berpameran puisi Konkret (1978). Sebagai pelukis ia pernah mengadakan pameran di beberapa kota.
Ia juga pernah menjadi penata artistik dalam pentas Oedipus yang disutradarai Rendra. Ia juga pernah aktif di Sanggar Bambu pimpinan pelukis Sunarto Pr, dan ikut mendirikan Sanggar Bambu Jakarta. Pada 1979-1985 bekerja di majalah Zaman, dan pada 1976 mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, AS.
Pada 1983 menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda. Danarto menulis novel Asmaraloka (1999), naskah drama Obrok Owok-Owok, Ebrek Ewek-Ewek (1976), Bel Geduwel Beh (1976). Sementara kumpulan cerpennya dibukukan dalam Godlob (1975), Adam Makrifat (1982), Berhala (1987), Gergasi (1993), dan Setangkai Melati di Sayap Jibril (2001).
Pengalamannya ke Tanah Suci dibukukan dalam Orang Jawa Naik Haji (1984). "Strukturnya (karya-karya Danarto) jadi sangat unik. saya tidak mengatakan longgar. Yang menjadikan cerita pendek Danarto berharga bukan ceritanya seperti apa, atau tokohnya seperti apa, tapi suasana yang dibangun oleh cerita pendek itu belum pernah ada di dalam cerita pendek Indonesia sebelumnya," kata Sapardi Djoko Damono.
Seorang seniman berpulang dan pasti tak akan kembali lagi. Ia tak tergantikan. Sebab, eksistensi seniman karena karyanya, bukan dengan surat keputusan dan sumpah jabatan. Berbeda dengan pejabat mati, misalnya camat, bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan presiden.
Ia akan segera digantikan dengan melantik pejabat yang baru. Seniman tak serupa itu. Kita berharap ia bahagia di 'dunia baru', alam yang abadi, seperti keinginannya. Kita berduka karena Danarto tak berkarya lagi. Kita berduka karena ia menjadi contoh kebajikan di tengah kehidupan dan hubungan sosial yang kian meregang-menjauh.
Danarto bergaul dengan manusia lintas kultur dan lintas iman. Karena itu, kita kehilangan, ketika kini kita tengah dibelah oleh politik dan aneka kepentingan yang meluruhkan persaudaraan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved