Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Simalakama

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
11/4/2018 05:30
Simalakama
()

PEMERINTAH menugasi PT Pertamina untuk menjaga pasokan bahan bakar minyak jenis premium bagi masyarakat, termasuk untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Penugasan ini dilakukan karena mulai ada keluhan pembatasan jumlah pasokan sehingga terjadi antrean di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum.

Pertamina sebagai badan usaha milik negara memang memiliki tanggung jawab menjalankan beleid pemerintah dalam urusan minyak dan gas. Berapa pun jumlah pasokan yang diinginkan pemerintah, Pertamina harus memenuhinya. Demikian pula dengan harganya, pemerintah yang menetapkan.

Oleh karena itu, sejak zaman Orde Baru, Direktur Utama Pertamina de facto sebenarnya ialah Presiden RI. Dirut Pertamina hanyalah seorang direktur pelaksana. Demi stabilitas politik, Presiden mengendalikan urusan BBM dalam negeri.

Itu memang sebuah pilihan. Hal yang sama dilakukan Malaysia. Hanya Petronas lebih cerdas dalam menjalankan misinya. Mereka tidak hanya berkonsentrasi di urusan hilir. Pertronas memperkuat industri hulu agar bisa menutup kewajiban menyediakan kebutuhan BBM untuk masyarakat.

Dibutuhkan perubahan model bisnis di tubuh Pertamina kalau tidak ingin semua tenaga dan pikiran habis hanya mengurusi pasokan BBM dalam negeri. Pertamina harus didorong menjadi pemain global yang berani mencari sumber minyak di luar negeri. Kita tidak boleh lagi berpikiran negeri ini kaya minyak karena kenyataannya kita ini sudah menjadi net importer minyak.

Perubahan model bisnis menuntut adanya perubahan dalam penilaian terhadap keuangan negara. Tidak bisa aksi korporasi otomatis dikategorikan sebagai merugikan keuangan negara. Apalagi investasi di bidang energi dikategorikan sebagai high risk, high return. Risiko kegagalan dalam pencarian minyak itu sekitar 80%.

Sepanjang rencana bisnis selalu dibayang-bayangi tuduhan merugikan keuangan negara, Pertamina tidak pernah berani berinvestasi. Untuk melanjutkan pengelolaan Blok Mahakam saja Pertamina terpaksa menggandeng operator lama, yakni Total, karena kalau pengembangan ladang sumur gagal, mereka dengan mudah dituduh melakukan korupsi. Kalau Pertamina tidak berani berinvestasi, ketersediaan BBM akan selalu menjadi persoalan.

Apalagi dalam situasi seperti sekarang, di saat harga minyak dunia cenderung terus naik. Padahal setiap hari kita harus mengimpor BBM minimal 800 ribu barel atau sekitar 130 juta liter. Dengan selisih antara harga minyak dunia dan patokan harga minyak menurut anggaran pendapatan dan belanja negara sampai US$20 per barel, bisa dihitung berapa beban biaya yang harus ditanggung Pertamina setiap hari.

Memang aneh kebijakan energi yang kita terapkan. Meski jelas-jelas merupakan net importer, perilaku kita masih seperti negara pengekspor minyak seperti di zaman dulu. Kita mengekspor gas yang harganya sekitar US$10 dan mengimpor minyak yang harganya hampir US$70. Sepertinya tidak ada keinginan untuk mengubah penggunaan BBM dari minyak ke gas.
        
Ada yang mengatakan, kekuatan mafia minyak membuat kita tidak mudah untuk mengubah kebijakan. Padahal kalau kita mau memanfaatkan produksi gas yang dihasilkan, bukan hanya kita akan mengurangi beban devisa negara, tetapi juga lingkungan menjadi lebih bersih karena rantai karbon gas yang lebih pendek daripada minyak.

Kalau kita masih berkukuh menjadikan minyak sebagai BBM, seharusnya kita berani memanfaatkan gas untuk menjadi produk yang bernilai tambah lebih tinggi. Pertamina didorong untuk membangun industri petrokimia agar gas diolah menjadi biji plastik yang permintaannya tinggi dan harganya mahal. Keuntungan dari industri petrokimia itulah yang dipakai untuk menutup beban biaya penyediaan BBM bagi masyarakat.

Sekarang yang dibutuhkan tinggal kemauan politik. Seperti apa strategi energi yang akan kita jalankan ke depan. Sepanjang kita tidak berani untuk berubah, persoalan yang dihadapi akan selalu seperti ini. Pertamina diminta mendukung kebijakan pemerintah untuk menyediakan kebutuhan BBM sesuai permintaan masyarakat, tetapi di sisi lain mereka kewalahan untuk menjaga arus kas perusahaan.

Kita tentu tidak menginginkan Pertamina terus menjadi perusahaan guram. Energi mereka hanya habis mengurusi ketersediaan BBM dalam negeri. Seakan-akan hanya itu ukuran keberhasilan Pertamina, padahal begitu banyak peluang yang dimiliki untuk menjadi perusahaan berkelas dunia.

Sungguh ironis Pertamina yang dulu menjadi tempat belajar dari Petronas, kini tertinggal jauh oleh perusahaan energi milik Malaysia itu. Petronas bukan hanya menjadi 'tukang minyak', melainkan juga menjadi raksasa di industri energi dan petrokimia.

Kita tidak percaya bahwa Pertamina tidak memiliki orang yang mampu menjadikan mereka menjadi besar. Kita hanya tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pemain dunia karena cara pandang kita masih melihat Pertamina sebatas 'tukang minyak'.

 



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.