Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Tiket Pilpres Pesaing Jokowi

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
09/4/2018 05:30
Tiket Pilpres Pesaing Jokowi
(ebet)

SIAPAKAH sebetulnya yang paling berhasrat membentuk poros ketiga? Itulah pertanyaan iseng-iseng berkaitan dengan Pilpres 2019. Pertanyaan iseng itu siapa tahu dapat membantu menjawab pertanyaan pokok, yaitu bila poros itu terbentuk, kepada siapakah tiket pilpres bakal mereka berikan untuk bersaing dengan Jokowi?

Tiga partai yang diberitakan akan membentuk poros ketiga itu ialah Partai Demokrat, PKB, dan PAN. Ketiganya bergabung, punya 156 kursi di DPR (27,8%), lebih dari 20% yang disyaratkan undang-undang untuk dapat mengusung pasangan capres/cawapres.

Karena itu, dari segi matematika jumlah kursi di parlemen, sungguh rasional bahwa ada yang menggagas munculnya poros ketiga. Dari segi latar belakang pendukung, inilah poros yang cukup cantik untuk dibayangkan. Bayangkanlah PAN yang dekat dengan Muhammadiyah bergabung dalam satu poros dengan PKB yang dekat dengan NU, lalu digandeng Partai Demokrat yang membahasakan diri sebagai nasionalis-religius.

Saya menggunakan kata 'dekat' karena baik NU maupun Muhammadiyah menyebut dirinya ormas yang tidak berpolitik. Kedekatan kiranya faktor yang perlu, sekalipun tidak cukup, untuk warga setiap ormas dalam menentukan pilihan politik.

Para sekjen ketiga partai telah bertemu yang kemudian hendak dilanjutkan ke level penentu, yaitu pertemuan ketua umum ketiga partai. Namun, itu gagal. Kenapa? Karena Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar berhalangan hadir. Begitu kata Sekjen Partai Demokrat Hinca Panjaitan. Padahal, tiga kali sudah mereka hampir bertemu. Ada SBY (Ketua Umum Partai Demokrat) dan ada Zulkifli Hasan (Ketua Umum PAN), tapi Muhaimin tidak datang.

Poros ketiga itu mengingatkan publik pada pilkada Jakarta. Ketiga partai itu (bersama PPP) mengusung AHY, putra SBY, sebagai cagub dan Sylviana Murni sebagai cawagub. Namun, PPP kini memilih berpisah karena telah menentukan sikap mengusung Jokowi menjadi presiden untuk masa jabatan kedua.

Ketua Umum PPP Muhammad Romahurmuziy bahkan menilai poros ketiga itu tidak akan terbentuk. Katanya, itu bagian dari basa-basi politik. Pernyataan itu ditanggapi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto, "Kita semuanya sangat serius."

Apakah dapat disimpulkan Muhaimin Iskandar tidak serius? Tentu saja dia tidak bakal serius karena di poros ketiga itu sepertinya terbaca olehnya bahwa tiada tempat baginya untuk menjadi cawapres. Padahal, dia telah memajang dirinya di mana-mana di ruang publik sebagai cawapres. Menjadi cawapres belum tentu dipilih rakyat, tetapi pencalonan itu kiranya menimbulkan efek wah demi elektabilitas partai yang dipimpinnya.

Di lain pihak seperti tidak masuk akal AHY yang menjadi capres dan Zulkifli Hasan yang menjadi cawapres. Itu bakal menggerus elektabilitas PAN. Karena itu, sebuah posisi politik, tepatnya gengsi partai, pun ditegakkan, yaitu PAN masih satu suara mengusung ketua umum, Zulkifli Hasan, menjadi capres. Jika gengsi itu yang dipegang ketat, AHY cawapres.

Namun, inilah mimpi indah yang teramat indah karena Partai Demokrat dan PAN tidak punya cukup kursi di DPR atau suara hasil pileg untuk dapat mengusung capres/cawapres.Lagi pula, apakah pasangan itu laku dijual di pilpres untuk bersaing dengan Jokowi? Dalam perkara ini jangan-jangan tidak penting benar siapa cawapres pendamping Jokowi.

Yang juga lucu ialah poros kedua saja belum terbentuk, tapi kok sudah mereka-reka poros ketiga. Satu-satunya poros yang telah terbentuk poros pertama, poros partai pengusung Jokowi. Poros kedua belum terbentuk, bahkan Prabowo mengatakan dirinya belum mendapat tiket.

Pernyataan Prabowo itu perlu dikaitkan dengan pernyataan PKS yang mendorong sembilan kader untuk menjadi capres. Pernyataan yang juga lucu karena tanpa Gerindra, PKS pun tidak punya tiket untuk mengusung kader menjadi capres.

Masih ada satu tokoh lagi yang belum punya tiket, padahal berambisi super. Namanya Gatot Nurmantyo. Relawan pendukung dirinya telah terbentuk, tapi partai pengusung dirinya masih di awang-awang.

Demikianlah sejumlah tokoh yang pengin nyapres bersaing dengan Jokowi, tapi tidak punya tiket. Kasihan deh. Karena itu, masuk akal kalau KPU perlu melakukan antisipasi bila sampai terjadi Jokowi calon tunggal.

 



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.