Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Say it to My Face

Saur Hutabarat/Dewan Redaksi Media Indonesia
02/4/2018 05:30
Say it to My Face
(AFP PHOTO / Mohd RASFAN)

MANTAN Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad membuat sebuah forum diskusi mati kutu.

Forum itu semula hendak membahas dirinya, tidakkah dia terlalu tua untuk jadi perdana menteri?

Kata Mahathir melalui Tweeter, "Ada forum bertajuk, "Adakah Tun M terlalu tua untuk jadi PM? Saya hadir. I'm here guys. Say it to my face."

Benar, didampingi istrinya, dr Siti Hasmah binti Haji Mohamad Ali, mantan perdana menteri itu datang menghadiri diskusi yang membahas dirinya itu.

Diskusi itu diselenggarakan di Shah Alam, di luar ibu kota Kuala Lumpur (23/3).

Ada tiga pembicara, yaitu pakar politik, pakar psikologi, dan pakar kebugaran.

Namun, ketiganya tidak banyak bicara gara-gara objek pembicaraan, Mahathir, hadir di tengah diskusi sebagai subjek.

Sebagai subjek karena Mahatir malah menjadi seperti pemakalah.

Katanya, ada dua jenis umur. Pertama, umur dalam bilangan tahun.

Kedua, umur badan. "Umur badan tidak mesti sama dengan umur tahun," ujar Mahathir.

"Sejauh menyangkut masalah kesehatan, saya belum pikun."

Mahathir lahir 10 Juli 1925.

Itu berarti umurnya menjelang 93.

Umur itu membuat PM Najib Razak membandingkan seniornya itu dengan mantan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe, yang kini berusia 94 tahun.

Mugabe berkuasa sebagai diktator 30 tahun, baru lengser akhir tahun lalu.

Berkuasa 22 tahun, Mahathir merupakan PM Malaysia terlama (16 Juli 1981-31 Oktober 2003).

Setelah 15 tahun menjadi warga biasa, kini ia bakal maju dalam pemilu untuk kembali menjadi PM, diusung Partai Pakatan Harapan.

Partai Pakatan Harapan (The Alliance of Hope) merupakan koalisi partai oposisi, antara lain Partai Keadilan Rakyat, yang didirikan Wan Azizah Wan Ismail, istri Anwar Ibrahim, mantan musuh politik Mahathir.

Mereka bersepakat untuk menumbangkan petahana PM Najib Razak, pemimpin Partai Barisan Nasional (UMNO), yang telah 8 tahun menjadi PM.

Mahathir menuduh Razak korupsi besar-besaran (dikenal sebagai Skandal 1MDB) dan berniat menjatuhkannya di tengah jalan.

Tidak berhasil. Sejauh ini Razak terlalu kuat untuk ditumbangkan melalui pemakzulan oleh seorang pemimpin legendaris sekalipun.

Gagal memakzulkan Razak, Mahathir yang memulai karier politiknya lebih 70 tahun bersama UMNO, memutuskan keluar dari partai berkuasa itu untuk bertarung menjadi PM kembali melalui pemilu yang diselenggarakan sebelum atau pada 24 Agustus 2018.

Karena itu muncul pertanyaan kepublikan, di usia menjelang 93, tidakkah Mahathir terlalu tua untuk kembali memimpin Malaysia? Untuk menjawab pertanyaan itu, hemat saya diperlukan perbandingan yang masih hidup.

Muncullah nama Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, 91, presiden tertua di dunia sekarang ini, yang menyandang predikat itu sejak Desember 2014.

Essebsi harus melepaskan predikat itu jika Mahathir terpilih menjadi PM Malaysia.

Mahathir berlatar belakang profesi dokter.

Ia menilai dirinya sendiri belum pikun. Ia menantang orang yang menilainya terlalu tua, "Say it to my face."

Apakah di negeri ini ada calon presiden yang menurut publik terlalu tua untuk menjadi capres?

Apakah orang itu berani bilang, "Say it to my face?" Jika ukurannya umur 90-an tahun, wow, banyak benar yang merasa dirinya masih muda karena belum berusia kepala 7.

Akan tetapi, jika ukurannya harapan hidup orang Indonesia, yaitu 70,90 tahun, kiranya sang tokoh perlu berpikir ulang untuk mengatakan, "Say it to my face."



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.