Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
APAKAH aparatur negara suka diawasi kinerjanya? Bila tidak suka, apakah mereka suka mengawasinya sendiri? Biarlah fakta yang bikin marah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjawabnya.
Kamis (2/7) pekan lalu, seusai menilik kelayakan jalan pantura yang meng hubungkan Lasem (Jateng)-Tuban (Jatim), Ganjar melakukan inspeksi mendadak di jembatan timbang Sarang, Rembang. Di situ Gubernur melihat CCTV pemantau kinerja petugas menghadap ke tembok.
"Kamera CCTV hidup ndak itu? Kok, menghadap tembok?" katanya seperti dikutip Suara Merdeka, Jumat (3/7). Ternyata alat pemantau kinerja itu bukan hanya tidak difungsikan dengan cara dihadapkan ke tembok, melainkan juga barang itu memang sudah tewas. Ketika ditanya kapan mati dan siapa bertanggung jawab memperbaikinya, tidak ada yang bisa menjawab.
Gubernur kemudian memeriksa semua CCTV. Empat tidak berfungsi. Satu menghadap ke aspal. Hanya satu yang berfungsi, terletak di atas komputer pendataan. Kenyataan buruk itu membuat Gubernur marah. Kasus CCTV jemba-tan timbang Sarang, Rembang, menunjukkan tiga kemungkinan.
Pertama, buruknya kultur perawatan. Aset negara tidak terpelihara, dibiarkan tewas. Bahkan, tidak diketahui siapa yang bertanggung jawab.
Buruknya perawatan aset negara kayaknya bukan semata terjadi pada CCTV di kantor jembatan timbang Sarang, Rembang, melainkan dapat diduga terjadi di mana-mana di negeri ini.
Kalau saja petinggi negara melakukan sidak serupa terhadap semua instansi pemerintah yang menggunakan CCTV, jangan-jangan banyak CCTV hanya tampaknya saja terpasang gagah, padahal sudah tidak berfungsi. Gagah, tapi tewas.
Contoh lain, kecelakaan Hercules C-130 layak ditengarai juga karena jeleknya perawatan alat utama sistem persenjataan. Yang tewas tidak hanya pesawatnya yang bobrok, tapi juga lebih 100 manusia. Betapa mengerikan dan menyedihkan akibat buruknya kultur perawatan.
Kedua, aparatur negara naga-naganya tidak suka diawasi kinerjanya, termasuk bila diri sendiri yang melakukannya. Buktinya, CCTV ada yang dibikin menghadap tembok, ada yang menghadap aspal. Dikira tembok dan aspal yang bekerja, bukan orang. Yang jelas terjadi pembiaran agar alat pemantau kinerja rusak, tidak berfungsi sehingga kinerja siapa pun tak terpantau, termasuk hadir tidak hadirnya pimpinan di kantor.
Ketiga, dalam rangka dikabulkannya anggaran, pengadaan CCTV di jembatan timbang mungkin diajukan dengan alasan elok untuk tujuan bagus, yaitu memantau kelakuan aparat agar tidak melakukan pungutan liar terhadap kendaraan yang kelebihan beban.
Elok banget untuk menegakkan pemerintahan yang bersih. Namun, itu cuma akal-akalan. Setelah anggaran cair, CCTV terpasang, dihadapkan ke tembok, ke aspal sehingga praktik pungutan liar terus berlanjut.
Tiga kemungkinan itu semuanya berisi pikiran negatif. Kiranya timbullah pikiran positif, belajar dari kasus jembatan timbang Sarang sehingga tidak ada lagi CCTV di kantor pemerintah yang tewas dan menghadap ke tembok. Lebih dari itu, kiranya aparatur negara bukan makhluk bermuka 'tembok' yang tiada malu sekalipun kinerjanya malu-maluin seperti terpantau di CCTV.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved