Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA sejak dulu dikenal sebagai negara yang diberi sumber daya alam melimpah. Mengapa semua itu tidak membuat rakyat sejahtera? Itu terjadi karena kita tidak pandai memanfaatkannya secara benar.
Kita tidak pernah mengembangkan riset yang baik untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Bukan hanya riset untuk sumber daya alam yang ada di darat, melainkan juga di perairan. Jangan lupa dua per tiga wilayah Indonesia itu perairan.
Seperti halnya di darat, kita cenderung hanya mau mengeksploitasi sumber daya yang ada di perairan. Untuk sektor perikanan, misalnya, kita hanya meramaikan perikanan tangkap. Budi daya perikanan yang juga merupakan kekuatan jarang dibicarakan.
Kalau kita bandingkan dengan bangsa Tiongkok dalam pengembangan budi daya perikanan, kita pantas menjadi kecil hati. Wakil Presiden Jusuf Kalla pernah kagum melihat bagaimana riset budi daya perikanan, baik untuk air tawar maupun air laut, dilakukan negeri itu.
Pada pertengahan 1980, pernah dikembangkan aquaculture untuk udang di Lampung. Kawasan pesisir di sekitar Tulangbawang diubah menjadi tambak udang dengan memanfaatkan air laut bersih yang ada di provinsi tersebut. Setelah aquaculture milik Israel, itulah budi daya udang terbesar yang pernah ada di dunia.
Karena alam yang mendukung, budi daya udang berkembang dengan baik. Ribuan petani tambak menikmati hasil budi daya udang tersebut yang ekspornya bisa lebih dari US$300 juta per tahun. Sayang tambak udang Dipasena itu terseret oleh krisis keuangan yang melanda Asia Timur pada 1997.
Kita tidak bermaksud menangisi krisis keuangannya. Yang kita sayangkan, mengapa budi daya udang itu tidak dilanjutkan karena terbukti hasilnya baik dan mampu memberikan manfaat kepada ribuan petambak yang terlibat di dalamnya.
Salah satu penyakit kita sebagai bangsa ialah terlalu mudah kita terbawa emosi. Kita selalu membawa masalah menjadi persoalan pribadi. Ketika kita tidak suka secara pribadi pada seseorang, kita selalu melihat semua dari sisi negatif dan seakan tidak ada sama sekali yang dianggap baik.
Beda misalnya dengan bangsa Tiongkok. Pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping mengajari bangsanya untuk selalu melihat ke depan. Sepanjang bisa memberikan manfaat terbaik bagi bangsanya, Deng tidak pernah bersikap apriori.
Prinsip Deng yang masih dijalankan sampai sekarang ialah, “Tidak peduli kucing itu berwarna hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.” Itulah yang mengubah Tiongkok dari ‘Negeri Tirai Bambu’ menjadi negara yang terbuka seperti sekarang ini.
Seperti itulah juga kita apabila ingin menjadi bangsa yang maju. Kita jangan terjebak pada persoalan masa lalu dan hanya menyalahkan orang lain. Lebih baik kita belajar dari kesalahan masa lalu untuk mencegah jangan sampai terulang kembali.
Aset Dipasena sudah diambil alih oleh negara. Seharusnya aset itu diserahkan kepada pihak lain yang mampu untuk dikembangkan menjadi aset yang lebih berharga. Bahkan, kita seharusnya membangun Dipasena-Dipasena baru karena aquaculture bisa menjadi kekuatan bangsa ini.
Jangan lupa kita merupakan negara dengan pantai terpanjang kedua di dunia. Seharusnya banyak budi daya perikanan bisa kita kembangkan di wilayah Indonesia ini. Yang dibutuhkan ialah keberanian untuk memulai dan konsisten melakukannya.
Hal yang sama seharusnya kita lakukan untuk sumber daya alam yang lain. Kita punya perkebunan dengan berbagai jenis tanaman yang dulu pernah membuat Belanda menjadi kaya raya. Kita mempunyai hutan yang kalau dikelola dengan baik bukan hanya menjadi hutan lestari, melainkan juga menjadi andalan untuk mendukung pembangunan ekonomi.
Lagi-lagi yang kita butuhkan ialah kecerdikan. Sejauh mana kita mampu mengelola sumber daya alam itu menjadi kekuatan ekonomi negara ini. Sepanjang pendekatannya sekadar eksploitasi, tidak mengherankan apabila sumber daya alam bukan menjadi berkah bagi bangsa ini, melainkan lebih banyak menjadi kutukan.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved