Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Istana Parlemen

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
23/3/2018 05:30
Istana Parlemen
()

SAYA melihat pelantikan Utut Adianto sebagai Wakil Ketua DPR, Selasa siang lalu, dengan rasa hampa. Hampa bukan kepada Utut, melainkan kepada DPR sebagai institusi. DPR atau parlemen di Senayan telah menjelma menjadi institusi yang berada di atas logika publik yang mencita-citakan demokrasi dengan wakil rakyat yang kemudian bertransformasi menjadi negarawan.

Mereka politisi yang hanya sibuk dengan diri sendiri. Selain penambahan Wakil Ketua DPR yang semula lima bertambah menjadi enam, Wakil Ketua MPR bertambah dari lima menjadi delapan, dan Wakil Ketua DPD dari tiga menjadi empat. Anggaran pun pasti akan membengkak.

Sementara itu, selama ini dari Senayan, kita nyaris tak pernah mendengar kabar baik darinya. Sejak revisi kedua atas UU No 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3) disahkan dalam rapat paripurna dua pekan silam, sesungguhnya di situlah tapal batas terakhir harapan saya pada lembaga legislatif itu.

Dengan menambah unsur pimpinan, sesungguhnya mereka memang hanya memikirkan diri sendiri. Berebut kursi. Penambahan unsur pimpinan parlemen memang akibat rakusnya rebutan posisi di awal parlemen hasil Pemilu 2014 masuk Senayan, yakni karena partai dengan perolehan suara terbanyak (PDIP) dijegal.

Namun, tadinya saya berharap PDIP tak mengambil kursi pimpinan itu, toh waktunya tinggal 1,5 tahun. Namun, logika ini tak berlaku bagi PDIP. Terlihat jelas, lembaga legislatif memang tengah membangun tembok tebal agar ia nyaman berada di dalamnya. Sebab, siapa pun, termasuk rakyat yang memilih mereka, bisa masuk bui jika nanti ada rakyat yang mengkritik DPR dan kritiknya dinilai melanggar hukum.

Siapa saja yang dinilai merendahkan wibawa DPR akan berhadapan dengan kepolisian.  Simak Pasal 73 UU MD3, disebutkan bahwa DPR berhak melakukan panggilan paksa dengan menggunakan bantuan Polri. Lalu di Pasal 122 disebutkan langkah hukum Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) bisa dilakukan kepada siapa pun yang merendahkan kehormatan DPR dan anggota DPR.

Lalu, Pasal 245 menggariskan bahwa pemanggilan dan keterangan anggota dewan terkait dengan tindak pidana harus mendapat persetujuan presiden setelah mendapat pertimbangan dari MKD. Dengan dua contoh itu, sudah selesailah pengharapan saya kepada DPR sebagai rumah rakyat.

Rakyat yang memilih mereka sangat mungkin bisa masuk bui jika kritik itu dimaknai merendahkan para wakil rakyat. Rakyat yang memilih mereka suatu saat bisa diterungku. Pasal-pasal itu jelas bertolak belakang dengan semangat reformasi dan demokrasi.

Dalam kaitan itu, berceritalah seorang pejabat dalam sebuah perjamuan pernikahan di Jakarta, betapa kini demokrasi dalam bahaya, karena justru tengah dibusukkan para politikusnya sendiri. Politikus yang tak kunjung bertransformasi menjadi negarawan karena kapasitasnya memang telah dibelenggu sistem yang korup itu.  

Mereka akan berkutat dengan problem politikus yang sudah banyak diketahui; abai pada aspirasi rakyat dan memperkuat diri sendiri. Seperti raja di istana kaca. Istana parlemen. Kata sang pejabat itu, kini di tengah udara politik yang kotor, pers yang ia harapkan untuk membangun optimisme dan harapan sebab berharap pada politisi pasti tak mungkin.

Padahal, mereka mendapat segalanya dari negara, dari rakyat. Namun, rakyat terombang-ambing tak mempunyai harapan karena ada yang menutup pintu harapan dengan kemuraman. Pejabat lainnya yang juga satu meja menimpali, "Dulu Orde Baru yang katanya korup sudah dirobohkan.

Kita memilih demokrasi. Namun, demokrasi kini justru jadi menyeramkan karena diisi oleh elite yang korup. Demokrasi kini disandera oleh para politikusnya sendiri. Alih-alih memberi inspirasi bagaimana demokrasi harus diisi, para politiksu justru membuat rakyat pusing. Politisi juga yang mengajari, rakyat memilih karena kekuatan duit."

Demokrasi kini kian dicemaskan banyak pihak. Ia sudah dalam jebakan sistem yang korup, tapi tak ada upaya untuk mengubahnya. Bayangkan, politikus masuk penjara seperti hal biasa.

Silih berganti seperti menunggu giliran. Ironisnya, kini Pancasila berupaya diteguhkan dengan membentuk institusi khusus, tetapi demokrasi liberal yang bertumbuh dan merajalela. Kekuatan uang dan kepiawaian menggoreng isu SARA dikutuk, tetapi pada saat yang bersamaan secara erat dipeluk.

Politisi sudah TST (tahu sama tahu) dalam soal itu. Harapan politik dan demokrasi agaknya kini pada pendidikan politik untuk para pemilih. Namun, rakyat umumnya juga telah diracuni materi oleh para politiksu. Itulah lingkaran setan yang harus dibentangkan dan diputus. Istana parlemen yang angkuh itu pun harusnya dirobohkan.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.