Headline

Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.

Pendidikan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
21/3/2018 05:30
Pendidikan
( ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)

PRESIDEN Joko Widodo meminta anggota kabinet untuk memperhatikan persoalan pendidikan. Setelah bergegas membangun infrastruktur, Presiden mengingatkan kita untuk segera memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Hasil pembangunan tidak akan banyak memberikan manfaat apabila tidak bisa dipergunakan masyarakat yang cerdas.

Tepat sekali apabila kita mulai secara khusus memperhatikan persoalan pendidikan. Kalau kita mau menjadi negara besar dan maju, yang paling menentukan ialah kesiapan manusia  Indonesia. Kita tidak pernah akan bisa naik kelas dengan kualitas manusia seperti yang ada sekarang.

Kita lihat saja tol yang kita bangun sekarang ini. Tol yang ada tidak membuat perjalanan semakin lancar karena kita tidak menggunakan jalan bebas hambatan itu secara benar. Bahkan, kecelakaan lalu lintas semakin mengerikan karena kita cenderung berkendara tanpa batas kecepatan dan sering menggunakan bahu jalan untuk memacu kecepatan.

Pendidikan yang baik akan membuat kita menjadi bangsa yang bertanggung jawab sebab orang yang berpendidikan akan selalu berpikir panjang. Mereka akan selalu mempertimbangkan untung dan rugi ketika hendak melakukan sesuatu.

Bukan hanya di tol, melainkan juga dalam berbagai aspek lain kehidupan. Dalam pengelolaan sumber daya alam, misalnya, bangsa yang berpendidikan akan memanfaatkannya secara berhati-hati, apalagi untuk sumber daya alam yang tidak bisa tergantikan.

Mereka tidak pernah akan menghambur-hamburkannya karena nilainya yang tidak terkira. Kita lihat saja negara-negara Skandinavia. Pendidikan mereka dikenal sebagai yang terbaik di dunia. Mereka menjaga alam dengan begitu baik.

Bagi mereka yang diutamakan ialah kemanfaatan dan nilai tambah yang tinggi. Tidak usah heran negeri, seperti Swedia, yang punya hutan begitu terbatas, mampu mengembangkan perusahaan furnitur sekelas IKEA yang menembus 46 negara dengan perputaran omzet mencapai 33,4 miliar euro atau sekitar Rp510 triliun per tahun.

Padahal, kita memiliki wilayah dan luasan hutan yang jauh lebih besar daripada Swedia. Namun, pada masa kejayaan industri kehutanan, total nilai ekspor yang bisa kita dapatkan hanya sekitar US$20 miliar atau sekitar Rp270 triliun.

Kita kalah cerdik jika dibandingkan dengan bangsa Swedia untuk memberikan nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki. Inilah yang dalam psikologi disebut dengan mental block, yakni ketidakmampuan untuk bisa keluar dari kungkungan pemikiran.

Akibatnya, kita cenderung tidak berani untuk berpikir out of the box dan hasilnya   justru menjadi negatif karena tidak berani untuk bertindak. Salah satu yang membuat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme marak di Indonesia juga disebabkan kita dihinggapi mental block, seakan-akan hidup bahagia itu hidup yang bergelimang harta dan hanya dengan cara korupsilah, harta yang banyak itu bisa didapatkan, bukan dengan kerja keras.

Sekarang ini kita mendapatkan momentum yang bagus, bahwa ada persepsi kita akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar keempat dunia pada 2050. Hanya, hal itu tidak terjadi dengan sendirinya dan menuntut banyak prasyarat. Salah satunya kita harus memiliki jumlah manusia berkualitas yang mencukupi.

Tidaklah mungkin kita akan mencapai posisi itu apabila 75% dari masyarakat ini punya tingkat pendidikan maksimum hanya tingkat sekolah pertama. Kita harus meningkatkan rata-rata pendidikan masyarakat agar mereka memiliki pengetahuan yang memadai, ada keterampilan yang dipunyai, mempunyai disiplin tinggi, etos kerja yang kuat, dan produktivitas yang tinggi.

Kita harus sadar, apabila ingin menjadi bangsa yang berjaya pada 2050, kita harus menjamin anak-anak Indonesia yang sekarang berusia 15 tahun memiliki pendidikan dasar yang baik dan mencukupi. Sebabnya, anak-anak yang berusia 40 tahun nantilah yang akan menjadi motor kemajuan Indonesia.

Kerja keras harus kita lakukan sekarang karena hasil survei Organisasi Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan (OECD) menunjukkan adanya kelemahan besar pada anak-anak Indonesia berusia 15 tahun ke bawah. Sekitar 42% anak Indonesia pada kelompok usia itu lemah dalam matematika, sains, dan membaca. Hasil survei itu sekaligus mengonfi rmasikan, persoalan kita bukan terletak pada masalah anggaran.

Konstitusi sudah menetapkan 20% dari APBN dialokasikan untuk pendidikan. Namun, hampir 20 tahun kebijakan itu diterapkan, kualitas manusia Indonesia bukan membaik, melainkan justru memburuk. Karena itu, pesan perbaikan pendidikan yang disampaikan Presiden harus lebih dititikberatkan pada perbaikan metode pendidikan.

Kredit pendidikan yang diminta disiapkan bukan jaminan untuk membuat kualitas manusia Indonesia akan lebih baik. Saatnya para ahli pendidikan duduk bersama untuk merumuskan metode pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan Indonesia ke depan.

 

 

 

 

 

 

 


          



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.