Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Perang Dagang

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group
14/3/2018 05:31
Perang Dagang
(AFP/ Mark Thompson)

PROFESOR Dorodjatun Kuntjoro-Jakti sejak tahun lalu memperingatkan kita tentang arus balik dari globalisasi. Kita melihat sekarang bagaimana semua negara cenderung melihat ke dalam. Mereka mengamankan pasar mereka masing-masing dan tidak peduli dengan akibat dari kebijakan proteksionistis yang mereka terapkan.

Tidak tanggung-tanggung yang melakukan langkah itu ialah Amerika Serikat. Padahal, selama ini 'Negeri Paman Sam' itu selalu mendengungkan pasar bebas. Namun, kini mereka justru mengenai tarif impor baja dan aluminium dari Tiongkok secara sepihak. Kecaman terhadap langkah Presiden Donald Trump memang sangat keras.

Bahkan sudah muncul pernyataan untuk melakukan pembalasan terhadap kebijakan AS tersebut. Dunia mengkhawatirkan terjadinya perang dagang akibat langkah mementingkan diri sendiri yang dilakukan Washington. Kita juga merasakan kebijakan tidak adil yang dilakukan Presiden Trump.

Demi menyelamatkan para petani di negaranya, pemerintah AS menerapkan bea masuk tambahan terhadap produk biodiesel yang membuat produk kita tidak feasible lagi untuk masuk pasar Amerika. Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah menyuarakan untuk membalas langkah proteksionistis AS tersebut.

Jusuf Kalla meminta Menteri Perdagangan untuk menghentikan impor kedelai dari negeri itu. Selama ini nilai impor kedelai AS ke Indonesia lebih dari US$5 miliar, atau Rp65 triliun. Peraih Hadiah Nobel Bidang Ekonomi Jeffrey Sachs merupakan salah satu yang mengecam kebijakan Presiden Trump karena akan membawa malapetaka ekonomi.

Langkah proteksionistis itu tidak hanya akan menimbulkan pembalasan, tetapi juga tidak membuat ekonomi AS akan bisa membaik dalam jangka panjang. Menurut Sachs, defisit perdagangan yang dialami AS bukan semata-mata disebabkan praktik dumping yang dilakukan negara partner dagang.

Penurunan daya saing produk Amerika disebabkan tidak efisiennya industri di 'Negeri Paman Sam'. Ketidakefisienan tersebut diakibatkan kurang teperhatikannya bidang riset dan perbaikan kualitas sumber daya manusia. Untuk itu, daripada menerapkan kebijakan tarif impor, Sachs berpendapat, lebih baik AS memperbaiki kedua bidang tersebut.

Dengan memberikan proteksi secara berlebihan, industri AS justru tidak menjadi lebih kompetitif. Rakyat AS pun dininabobokan produk yang lebih murah, tetapi kualitasnya tidak lebih baik. Pertanyaannya, apa yang lalu kita harus lakukan dalam menghadapi arus deglobalisasi?

Seperti dikatakan Sachs, kita harus mendorong kemampuan anak-anak Indonesia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan Presiden Ketiga BJ Habibie menambahkan catatan tentang perlunya penguatan iman dan takwa. Setelah itu ialah pengembangan yang namanya riset.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan, melalui undang-undang investasi, pemerintah akan segera memberikan insentif pajak pada perusahaan yang melakukan riset. Tidak tanggung-tanggung besaran insentif pajak itu mencapai 300% dari biaya yang dikeluarkan.

Satu lagi yang bisa kita manfaatkan ialah pasar dalam negeri. Dari beberapa survei yang dilakukan tentang pertimbangan utama pengusaha menanamkan modalnya di Indonesia ialah pasar Indonesia yang besar. Bahkan selanjutnya uang dilihat sebagai kelebihan Indonesia ialah besarnya daya beli kelas menengah.

Mantan Wakil Presiden Boediono sejak lama mengingatkan perlunya kita memperkuat ekonomi dalam negeri. Pasar dalam negeri akan bisa menjadi bantalan yang diandalkan ketika kebijakan nasionalisme, populisme, dan proteksionisme marak diterapkan banyak negara seperti sekarang.

Agar kita bisa melakukan itu semua, yang diperlukan ialah kekompakan. Terutama di antara kementerian dan pemerintah daerah harus satu orientasinya, yaitu kepentingan nasional. Semua kebijakan harus mengerucut kepada tujuan penyelamatan ekonomi nasional. Kita harus menjaga investasi yang sudah ada di dalam negeri.

Jangan sampai kegiatan produksi terganggu hanya oleh urusan koordinasi seperti kasus garam yang mengancam industri makanan, minuman, kaca, lensa kontak, dan kimia. Seperti Tiongkok dan Jepang, utamakan semua produk itu diserap pasar dalam negeri, baru kelebihannya kita ekspor karena akan menjadi efisien.

Perang dagang yang sedang terjadi tidak bisa kita anggap main-main. Apalagi yang tengah bertarung sekarang ini ialah gajah melawan gajah. Jangan sampai kita menjadi pelanduk yang mati di tengah-tengah. Kita harus cerdas dalam membaca perkembangan ekonomi dunia.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.