Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Kaisar Xi Jinping

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
13/3/2018 05:05
Kaisar Xi Jinping
(AFP)

TIONGKOK selalu punya jalannya sendiri untuk berbeda.

Kerap ada yang dibuang di zaman lampau diambil kembali di zaman kini.

Mungkin juga semacam paradoks. Ia komunis dalam politik, tapi kapitalis dalam ekonomi.

Di masa Mao Zedong kekuasaan tanpa batas, tapi di zaman Deng Xiaoping, kekuasaan presiden dibatasi hanya dua periode, yakni 10 tahun.

Kini di tangan Presiden Xi Jinping, kekuasaan kembali tanpa batas seperti di zaman Mao.

Kongres Nasional Rakyat Tiongkok baru dua hari mengamendemen konstitusi yang menghapuskan pasal masa jabatan presiden dalam waktu tertentu.

Keputusan amendemen itu melenggang mulus dengan 2.958 suara mendukung, 2 menentang, 3 suara abstain, dan 1 tidak sah.

Sebelumnya konstitusi Tiongkok menetapkan batas waktu masa jabatan presiden Tiongkok dua periode, satu periode lima tahun.

Amendemen itu memberikan wewenang pada Xi Jinping untuk mewujudkan visi mengubah Tiongkok menjadi negara adidaya ekonomi dan militer.

Ambisi itu terlihat, terasa, dan terdampak.

Ia menimbulkan kegelisahan banyak pihak.

Namun, di tengah Amerika Serikat di bawah Donald Trump yang tengah melindap baik di dalam maupun di luar, Tiongkok kian percaya diri.

Xi yang dilantik sebagai presiden pada 2013 mestinya akan berakhir 2023, di periode kedua.

Para pengkritiknya menyebut Xi sebagai 'Kaisar Xi Jinping', 'Xi Zedong', atau 'Kaisar Baru Abad 21'.

Namun, parlemen dan juga Xi tak surut. Terlebih itu hanya segelintir orang di media sosial.

Para loyalis partai justru sangat yakin, keputusan mengamendemen konstitusi akan mempercepat kemajuan Tiongkok.

Terlebih pria kelahiran 15 Juni 1953 itu dinilai mempunyai kemampuan jika dibandingkan dengan beberapa pendahulunya.

Benarlah kata banyak pemerhati kepemimpinan, yang disebut sistem bukanlah benda mati.

Manusia 'kuat' menciptakan sistem, dan ia sistem itu sendiri.

Di Indonesia, Orde Baru mengawalinya dengan membatalkan Tap MPRS No III/MPRS/1963 yang mengangkat Soekarno sebagai presiden seumur hidup.

Namun, penggantinya, Soeharto, mengulangi kekuasaan tanpa batas itu.

Akibatnya keduanya 'memeluk' nasib tragis sendiri-sendiri.

Sisa-sisa, bahkan pengaruh, nasib tragis dua presiden itu masih terasa hingga kini.

Kembali ke Tiongkok, negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu kini kembali ke cerita lama, era Deng dalam memperlakukan kekuasaan.

Negeri ini memang berada di ujung kehendaknya yang kuat: menjadi superpower.

Dari banyak nujum, negeri ini jauh lebih cepat pertumbuhan dan kemajuannya.

Ia paling dramatis jika dibandingkan dengan yang pernah dicapai Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

Xi dinilai akan kian memantapkan ambisi itu. Ia yang berkuasa sejak 2013, mestinya akan berakhir pada 2023, dengan amendemen konstitusi akan menjadi presiden seumur hidup.

Para pendukung Xi beralasan, itu kehendak rakyat yang mendesak, untuk mengubah Tiongkok menjadi pusat kekuatan ekonomi global dengan militer kelas dunia.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang kian berkilau, ketegasannya menghukum para koruptor dengan menyeret sejuta pejabat negara, membuat namanya sulit tak berkibar tinggi-tinggi.

Wajahnya terpampang di seantero negeri lewat papan-papan advertensi.

Lagu-lagu yang bersyair tentang Xi mulai menggema di banyak tempat.

Kini kemajuan Tiongkok seperti disebut para pengamat melebihi apa yang pernah dicapai Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan.

Tiongkok memang banyak belajar dari negara-negara itu.

Ia belajar pengendalian dari Jepang, kegigihan dari orang Korea, akurasi dari orang Jerman, dan strategi pemasaran dari orang Amerika.

Ia tak malu belajar dari negara mana pun. Kini apa yang tidak diproduksi Tiongkok.

Mari kita tarik ke belakang. Seperti ditulis dalam buku China's Megatrends, Tiongkok tak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, dan konon hanya 10 orang yang memahami kalkulus. Namun, di abad ke-21 ini Tiongkok mempunyai segalanya.

Negeri ini antara lain punya kereta api tercepat di dunia (Shanghai Maglev), pesawat antariksa (Shenzhou 11) yang berlabuh pada laboratorium angkasa Tiangong, dan produksi kapal induk yang 100% dikerjakan putra-putri Tiongkok.

Adakah kini ada negara yang tak digempur barang-barang dari Tiongkok?

Dengan sistem satu partai dan presiden berkuasa tanpa batas waktu di Tiongkok, sungguh habis posisi daulat rakyat.

Kini dunia menunggu Tiongkok.

Menunggu Xi Jinping.

Kekuasaan tanpa batas ialah sebuah keserakahan. Ia memupus potensi dan harapan pada tunas-tunas muda.

Asumsinya ialah hanya ia yang 'sempurna', yang lain 'pelengkap penderita'.

Pengangkatan pemimpin untuk seumur hidup sama saja menghancurkan kualitas pemimpin terbaik. *



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.