Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Labirin Damai Afghanistan

Djadjat Sudradjat Dewan Redaksi Media Group
06/3/2018 05:05
Labirin Damai Afghanistan
(AFP)

PERDAMAIAN di Afghanistan kini dalam penantian.

Tak hanya untuk negeri itu, tapi juga untuk dunia.

Memang, jalan damai negeri yang telah dikoyak kekerasan dan konflik selama 40 tahun pastilah dinujum akan menghadapi jalan terjal.

Bahkan, ada yang mengamsalkan perdamaian di negeri itu mesti melewati labirin.

Namun, bukan berarti dalam labirin tak ada noktah harapan.

Artinya, proposal damai yang ditawarkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang mengajak Taliban ikut bersama membangun negeri, ialah sebuah tekad dan keyakinan bahwa di dalam gelap itu juga ada harapan.

Harapan yang dijemput, bukan ditunggu.

Ashraf meminta Taliban yang pernah berkuasa di Afghanistan 1996-2001 menjadi partai politik.

Dengan demikian, bersama dengan berbagai pihak yang berkonflik, mereka ikut membangun Afghanistan, negeri yang kini didera korupsi tinggi keterbelakangan ekonomi.

Persoalannya ialah Taliban tak mengakui pemerintahan Afghanistan.

Sejak menara kembar World Trade Center di New York, AS, diluluhlantakkan pada 11 September 2001, entah oleh siapa, sebulan kemudian Presiden George W Bush memerintahkan tentaranya menggempur Taliban.

Alasannya gerakan itu menolak menyerahkan Osama bin Laden, yang dituduh Amerika sebagai otak penyerangan menara kembar itu.

Osama memang bermukim di Afghanistan waktu itu yang berada di bawah kekuasaan Taliban.

Itu sebabnya Taliban merasa tak perlu bicara perdamaian dengan pemerintah Afghanistan, tetapi dengan Amerika Serikat yang membombardir mereka.

Bush mengerahkan tentaranya bersama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hingga 150 ribu serdadu.

Afghanistan pun jadi medan 'kurusetra' kekerasan yang tidak pernah reda.

Sudah begitu banyak korban jiwa dalam konflik panjang di 'Bumi Pasthun' itu.

Namun, Taliban tak sepenuhnya meluruh meski digempur besar-besaran.

Setelah Amerika menarik tentara mereka pada 2014, Taliban kembali menguat.

Namun, Indonesia, negeri yang tak terlibat konflik, justru jadi tumpuan harapan damai Afghanistan.

Indonesia yang teruji hidup bersama dengan keberagaman dipilih untuk mengupayakan perdamaian Afghanistan.

Jalan awal itu ialah Forum Tripartit antara ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia yang akan dihelat medio Maret ini di Indonesia.

Jika sukses, itu akan menjadi modal penting pada forum selanjutnya dalam bina damai (peace building) dan proses damai di Afghanistan.

Forum ulama itu ialah yang pertama digelar untuk merajut perdamaian Afghanistan.

Pelaksana forum pertemuan ulama nanti ialah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pemerintah Indonesia hanya sebagai fasilitator.

Presiden Jusuf Kalla, pekan silam, telah pula kembali mengikuti Konferensi Proses Kabul II di Afghanistan.

Mereka yang hadir ialah pejabat dari 25 negara, para tokoh, dan ulama.

Indonesia memang tidak saja negara netral, tapi juga memiliki Jusuf Kalla, sosok yang punya banyak pengalaman menangani konflik.

Perdamaian Aceh salah satunya, yang dipuji dunia.

Kehadiran Jusuf Kalla di Kabul ialah kelanjutan dari kunjungan Presiden Joko Widodo di Afghanistan akhir Januari lalu yang juga bertujuan mendorong perdamaian.

Inilah kunjungan Presiden Indonesia yang kedua setelah Presiden Soekarno pada 1961.

Beberapa hari sebelum kunjungan Joko Widodo, Kabul juga diguncang rentetan bom yang mematikan banyak nyawa manusia.

Jusuf Kalla juga sama, ia datang dalam situasi keamanan Afghanistan yang rentan.

Namun, keduanya tak gentar.

Atas keteguhan dan keberanian itu, Joko Widodo diberi penghargaan Medal of Ghazi Amanullah 29 Januari silam.

Itu penghargaan tertinggi bagi mereka yang berjasa besar bagi Afghanistan.

"Perdamaian itu bukan situasi yang datang dari langit. Perdamaian harus diupayakan," kata Joko Widodo.

Kedua pemimpin tertinggi kita telah 'berjudi' dengan keselamatan mereka.

Itu artinya betapa serius Indonesia mengemban tanggung jawab untuk terlibat dalam perdamaian Afghanistan.

Konstitusi kita memang mengamanatkan soal itu.

Karena itu, jika tugas mulia sebagai juru damai kita berhasil, bangsa ini pula yang mestinya merasakan kehormatan itu.

Kini, sebagian kita yang hobi membangun kebencian dan adu domba mestinya menyadari bahwa negeri kita tengah melaksanakan tugas mulia.

Tak semua negara mendapat kepercayaan itu.

Alangkah pandirnya sebagian kita yang kini punya hobi saling membenci dan memisahkan.

Mestinya justru kita kian mendapatkan elan vital persatuan justru ketika tengah mendapat tugas mulia merajut perdamaian Afghanistan.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.