Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Labirin Damai Afghanistan

Djadjat Sudradjat/Dewan Redaksi Media Group
06/3/2018 05:15
Labirin Damai Afghanistan
(DOK TIM MEDIA WAPRES)

PERDAMAIAN di Afghanistan kini dalam penantian.

Tak hanya untuk negeri itu, tapi juga untuk dunia.

Memang, jalan damai negeri yang telah dikoyak kekerasan dan konflik selama 40 tahun pastilah dinujum akan menghadapi jalan terjal.

Bahkan, ada yang mengamsalkan perdamaian di negeri itu mesti melewati labirin.

Namun, bukan berarti dalam labirin tak ada noktah harapan.

Artinya, proposal damai yang ditawarkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang mengajak Taliban ikut bersama membangun negeri, ialah sebuah tekad dan keyakinan bahwa di dalam gelap itu juga ada harapan.

Harapan yang dijemput, bukan ditunggu.

Ashraf meminta Taliban yang pernah berkuasa di Afghanistan 1996-2001 menjadi partai politik.

Dengan demikian, bersama dengan berbagai pihak yang berkonflik, mereka ikut membangun Afghanistan, negeri yang kini didera korupsi tinggi keterbelakangan ekonomi.

Persoalannya ialah Taliban tak mengakui pemerintahan Afghanistan.

Sejak menara kembar World Trade Center di New York, AS, diluluhlantakkan pada 11 September 2001, entah oleh siapa, sebulan kemudian Presiden George W Bush memerintahkan tentaranya menggempur Taliban.

Alasannya gerakan itu menolak menyerahkan Osama bin Laden, yang dituduh Amerika sebagai otak penyerangan menara kembar itu.

Osama memang bermukim di Afghanistan waktu itu yang berada di bawah kekuasaan Taliban.

Itu sebabnya Taliban merasa tak perlu bicara perdamaian dengan pemerintah Afghanistan, tetapi dengan Amerika Serikat yang membombardir mereka.

Bush mengerahkan tentaranya bersama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hingga 150 ribu serdadu.

Afghanistan pun jadi medan 'kurusetra' kekerasan yang tidak pernah reda.

Sudah begitu banyak korban jiwa dalam konflik panjang di 'Bumi Pasthun' itu.

Namun, Taliban tak sepenuhnya meluruh meski digempur besar-besaran.

Setelah Amerika menarik tentara mereka pada 2014, Taliban kembali menguat.

Namun, Indonesia, negeri yang tak terlibat konflik, justru jadi tumpuan harapan damai Afghanistan.

Indonesia yang teruji hidup bersama dengan keberagaman dipilih untuk mengupayakan perdamaian Afghanistan.

Jalan awal itu ialah Forum Tripartit antara ulama Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia yang akan dihelat medio Maret ini di Indonesia.

Jika sukses, itu akan menjadi modal penting pada forum selanjutnya dalam bina damai (peace building) dan proses damai di Afghanistan.

Forum ulama itu ialah yang pertama digelar untuk merajut perdamaian Afghanistan.

Pelaksana forum pertemuan ulama nanti ialah Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pemerintah Indonesia hanya sebagai fasilitator.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, pekan silam, telah pula kembali mengikuti Konferensi Proses Kabul II di Afghanistan.

Mereka yang hadir ialah pejabat dari 25 negara, para tokoh, dan ulama.

Indonesia memang tidak saja negara netral, tapi juga memiliki Jusuf Kalla, sosok yang punya banyak pengalaman menangani konflik.

Perdamaian Aceh salah satunya, yang dipuji dunia.

Kehadiran Jusuf Kalla di Kabul ialah kelanjutan dari kunjungan Presiden Joko Widodo di Afghanistan akhir Januari lalu yang juga bertujuan mendorong perdamaian.

Inilah kunjungan Presiden Indonesia yang kedua setelah Presiden Soekarno pada 1961.

Beberapa hari sebelum kunjungan Joko Widodo, Kabul juga diguncang rentetan bom yang mematikan banyak nyawa manusia.

Jusuf Kalla juga sama, ia datang dalam situasi keamanan Afghanistan yang rentan.

Namun, keduanya tak gentar.

Atas keteguhan dan keberanian itu, Joko Widodo diberi penghargaan Medal of Ghazi Amanullah 29 Januari silam.

Itu penghargaan tertinggi bagi mereka yang berjasa besar bagi Afghanistan.

"Perdamaian itu bukan situasi yang datang dari langit. Perdamaian harus diupayakan," kata Joko Widodo.

Kedua pemimpin tertinggi kita telah 'berjudi' dengan keselamatan mereka.

Itu artinya betapa serius Indonesia mengemban tanggung jawab untuk terlibat dalam perdamaian Afghanistan.

Konstitusi kita memang mengamanatkan soal itu.

Karena itu, jika tugas mulia sebagai juru damai kita berhasil, bangsa ini pula yang mestinya merasakan kehormatan itu.

Kini, sebagian kita yang hobi membangun kebencian dan adu domba mestinya menyadari bahwa negeri kita tengah melaksanakan tugas mulia.

Tak semua negara mendapat kepercayaan itu.

Alangkah pandirnya sebagian kita yang kini punya hobi saling membenci dan memisahkan.

Mestinya justru kita kian mendapatkan elan vital persatuan justru ketika tengah mendapat tugas mulia merajut perdamaian Afghanistan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.