Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH berjumpa 11 ekonom selama hampir 2 jam dan sekitar 40 menit bersua Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah, yang menjadi 'guru' banyak kalangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, ada tanda-tanda kuat sebelum Lebaran Presiden bakal merombak susunan kabinet di bidang ekonomi.
Akan tetapi, persoalan bukan lagi siapa bakal diganti karena Presiden telah memiliki rapor merah yang bersangkutan. Persoalan justru mencari pengganti, yaitu ekonom bintang, figur menteri yang bisa meyakinkan pasar. Presiden berkata, "Kalau hari ini ketemu orangnya, akan saya lantik.
"Mengagetkan nama yang muncul semata wayang, Sri Mulyani, menteri keuangan di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang kemudian mengundurkan diri untuk menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia. Suka atau tidak suka, terkuaklah keprihatinan baru bahwa negara ini sepertinya mengalami krisis ekonom bintang.
Bayangkan betapa merosotnya kecerdasan anak bangsa ini bila presiden hanya mendapat satu nama dari begitu banyak ekonom di negeri ini. Padahal, inilah negara yang diselamatkan dari keambrukan ekonomi di zaman Orde Lama berkat duduknya ekonom bintang di Kabinet Pembangunan, di periode awal Orde Baru. Mereka ialah Soemitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, M Sadli, Ali Wardhana, Subroto, dan Emil Salim.
Memburuknya perekonomian negara jelas masalah besar. Masalah besar itu bisa kian membengkak jika benar bangsa ini mengalami krisis ekonom bintang yang dipercaya pasar. Hal yang sebaiknya tidak usah cepat dipercaya, sedikitnya karena tiga alasan.
Pertama, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) perhimpunan paling menonjol jika dibandingkan dengan ikatan sarjana lain.
Sejak berdiri 14 Januari 1955, ISEI bersidang pleno 17 kali dan berkongres 18 kali. Sekarang dipimpin Dr Darmin Nasution, ISEI bakal berseminar nasional dan berkongres ke-19 pada 7-9 Oktober 2015 di Surabaya. Para ekonom telah diminta mengirimkan makalah dengan tema Menghidupkan kembali sektor industri sebagai penggerak ekonomi nasional untuk disaring dan dinilai bobotnya oleh ekonom andal.
Setelah krisis besar Asia satu setengah dasawarsa lalu, menurut ISEI, sektor industri manufaktur tidak mampu pulih kembali pada peran semula. Sebuah tema yang membuktikan ISEI masih merupakan perhimpunan profesi yang peka, tajam, mumpuni, dan terpanggil memecahkan masalah ekonomi khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya sesuai tujuan ISEI.
Faktor kedua, kayaknya pasarlah yang sulit dipercaya belakangan ini. Di mana-mana pasar sedang marah, mirip orang kalap sehingga sulit memercayai banyak hal. Ada ekonomi di negara bermata uang euro yang mengalami pertumbuhan negatif. Bank Sentral Tiongkok, raksasa cadangan moneter, sejak November lalu menurunkan suku bunga sampai empat kali, hal yang tidak pernah terjadi dalam sejarah.
Ketiga, jangan-jangan yang terjadi ialah bintang yang tertutupi awan politik sehingga belum tampak amat bersinar di mata pasar, semata karena belum atau tidak jadi menteri. Bukankah sentimen pasar yang waras sekalipun juga terpicu post-factum, bukan pre-factum?
Saya hanya terganggu oleh harga cabai di pasar karena makan tak pedas terasa hambar di lidah dan juga terkadang di hati yang sedang murung. Sambil makan malam yang pedasnya cukup menggigit, terpikir rasanya perlulah membuka kembali 'pertukaran' pikiran dan perbedaan 'keyakinan' antara Dr Boediono selaku Gubernur BI di satu pihak dan Dr Sri Mulyani selaku menteri keuangan dengan Dr Darmin Nasution selaku Dirjen Pajak di lain pihak. Semuanya ekonom bintang bersinar. Boediono disebut berdiri di sisi keyakinan bakal terjadi dampak sistemis bila Bank Century tidak diselamatkan. Sebaliknya, Sri Mulyani dan Darmin Nasution disebut berdiri di sisi berlawanan.
Sekadar saran kepada Presiden Jokowi, ada baiknya mempertemukan kembali Sri Mulyani dan Darmin Nasution masing-masing dalam kedudukan yang lebih tinggi, yang satu menko perekonomian yang lain menkeu.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved