Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Paradigma

21/2/2018 05:31
Paradigma
(Dok MI)

BUDDHA mengajarkan, "Kita adalah apa yang kita pikirkan, we are what we think." Keberhasilan atau kegagalan tergantung bagaimana kita melihatnya. Ketika kita berpikir tentang keberhasilan, yang terbangun ialah sikap optimisme. Sebaliknya, kalau kita takut gagal, yang menonjol ialah pesimisme.

Kita sengaja angkat masalah ini karena sebagai bangsa kita pernah melakukan lompatan luar biasa. Ketika Presiden Soeharto mencanangkan agar kita tidak hanya memikirkan penerimaan dari minyak dan gas, kampanye besar yang dilakukan ialah bagaimana kita meningkatkan ekspor nonmigas.

Dengan paradigma itulah maka yang kita lakukan kemudian ialah industrialisasi. Semua orang berpikir bagaimana lalu memberikan nilai tambah dari sumber daya alam yang kita miliki. Hasil hutan yang semula diekspor dalam bentuk gelondongan, kita olah menjadi kayu lapis, pulp, kertas, hingga furnitur.

Impor kapas kita olah menjadi tekstil dan produk tekstil untuk kemudian diekspor kembali. Minyak dan gas kita olah menjadi pupuk sampai bahan baku plastik. Ketika semua berpikir membangun industri dan ekspor, hasilnya kita mampu mendorong ekspor nonmigas jauh melewati ekspor migas.

Itulah yang kemudian membawa Indonesia naik kelas menjadi negara industri baru. Sayang rumah besar yang sedang kita bangun ambruk karena krisis keuangan yang melanda Asia Timur pada 1997. Setelah era reformasi, kita asyik membangun demokrasi. Namun, kita lupa bahwa tujuan demokrasi bukanlah sekadar untuk menggapai kekuasaan, melainkan juga meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Motor untuk membangun kesejahteraan itu ialah mengajak dunia usaha membangun industri yang kukuh dan berorientasi ekspor. Presiden Joko Widodo menghardik kesadaran kita untuk mendorong kembali ekspor. Memang ironis negara yang kaya dengan sumber daya alam kalah nilai ekspornya ketimbang Singapura, Malaysia, Thailand, dan bahkan Vietnam.

Keunggulan yang dulu kita miliki seperti kayu lapis, tekstil dan produk tekstil, sepatu, dan elektronik sekarang hanya tinggal cerita. Peringatan yang disampaikan Presiden membangunkan kesadaran kita untuk segera bangkit. Kita menangkap geliat itu di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Bersama para pengusaha, pemerintah mulai duduk bersama untuk memperbaiki kendala yang dihadapi.

Senin lalu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengundang para pengusaha di sektor kimia, tekstil, dan aneka industri untuk membahas bagaimana meningkatkan ekspor. Menperin ingin mendengar langsung apa yang dihadapi para pengusaha untuk meningkatkan produksi dan ekspor.

Agar persoalan bisa tuntas dihadirkan juga Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Oke Nurman, dan Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi. Sudah sering kita mendengar kata Indonesia Incorporated, tetapi tidak pernah kita bisa jalan bersama-sama.

Bukan hanya pemerintah dan dunia usaha yang jalan sendiri-sendiri, bahkan di antara pemerintah pun sering langkahnya tidak terkoordinasi. Begitu sulitnya kita untuk berkoordinasi sehingga persoalan bukan diselesaikan, melainkan terus saja menghambat kinerja. Keuntungan zaman Orde Baru, komando memang berada di satu tangan.

Dengan otoritasnya, Presiden bisa menetapkan, misalnya berapa alokasi gas untuk pabrik pupuk dan juga industri. Oleh karena orientasinya peningkatan produksi pangan, penurunan penerimaan dari penjualan gas bukan sebuah kerugian karena ada kepentingan nasional lebih besar yang ingin dicapai.

Di zaman demokrasi, Presiden memang tidak mungkin bisa berjalan sendiri. Akan tetapi, orientasi pembangunan tidak berubah, yakni harus tertuju kepada kesejahteraan rakyat. Bersama lembaga legislatif, Presiden membangun kesepakatan tentang arah pembangunan yang ingin dicapai.

Semua harus mengarah pada peningkatan nilai tambah dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Dalam pertemuan Senin lalu di Kementerian Perindustrian terungkap harapan bagi kualitas listrik yang lebih baik serta harga gas yang lebih terjangkau. Wakil Menteri ESDM memahami keinginan tersebut dan pemerintah tengah berupaya untuk bisa menyediakan harga gas yang lebih terjangkau.

Terutama untuk sumur-sumur gas yang baru, pemerintah telah menetapkan harga jual yang memberikan profit margin bagi operator migas, tetapi tidak memberatkan pengusaha. Namun, untuk sumur-sumur gas yang sudah ada kontraknya, pemerintah tidak bisa seenaknya mengubah kesepakatan yang ada.

Dari segi lalu lintas barang di pelabuhan, baik Kementerian Perdagangan maupun Kementerian Keuangan telah berupaya mempermudah arus barang. Pemerintah sepakat memberikan reward kepada pengusaha yang baik dalam membayar pajak ataupun pengadministrasian, tetapi tidak akan memberi ampun kepada mereka yang terbukti menyalahgunakan kepercayaan.

Bahkan Menteri Keuangan menjamin untuk mempercepat restitusi pajak kepada pengusaha yang baik. Dengan semangat saling mengerti dan saling percaya, kita pantas menatap hari depan yang lebih baik. Indonesia Incorporated harus diterapkan dengan membangun kebersamaan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kita meraih kemajuan untuk kesejahteraan kita bersama.

Tentu harapan untuk membangun kembali industri dan mendorong ekspor itu tidak sekali jadi. Kita harus melakukan terus-menerus dan konsisten. Yang terpenting kita harus selalu menggaungkan niat untuk mendorong ekspor, dan pikiran positif itulah yang akan membawa kita meraih semua harapan tersebut.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.