Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ruang Kosong Keterwakilan

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
19/2/2018 05:31
Ruang Kosong Keterwakilan
(MI/ROMMY PUJIANTO)

PENYEDERHANAAN jumlah partai sementara ini gagal. Jumlah partai peserta Pemilu 2019 bukannya berkurang, malah bertambah 40%, dari 10 menjadi 14. Banyaknya partai baru peserta pemilu kiranya sedikit atau banyak petunjuk bahwa partai yang ada belum berhasil memaksimalkan derajat keterwakilan partai politik.

Dalam sistem pemilu yang kita anut yang dihitung ialah perolehan suara partai yang sah. Suara sah yang diperoleh calon legislatif merupakan kontribusi yang penting, tetapi semua perolehan suara itu total bermuara menjadi perolehan suara partai yang kemudian secara proporsional dikonversikan menjadi kursi di DPR.

Karena itu, partailah yang memikul tanggung jawab keterwakilan konstituen. Partailah yang mengekspresikan suara, pendapat, perspektif konstituen di dalam kebijakan publik. Seberapa jauh semua itu terwujud?

Jawab yang halus ialah partai yang ada umumnya tidak optimal bertindak mewakili aspirasi konstituen sehingga tersedia 'ruang kosong keterwakilan' yang dapat diisi partai baru.

Sebetulnya persyaratan mendirikan partai cukup berat. Dari sudut persyaratan, UU Partai Politik sudah jauh melangkah dari euforia tumbangnya Orde Baru, yaitu dari semula negara memaksa hanya ada tiga partai, kemudian negara memberi kebebasan mendirikan sebanyak-banyaknya partai, lalu negara memperketat persyaratan pendirian partai.

Setelah melalui empat pemilu (1999, 2004, 2009, 20014), sekalipun hambatan partai baru untuk masuk ke sistem politik diperketat, sistem multipartai belum selesai berproses.

Setelah lima pemilu (2019), tidak ada jaminan bahwa penambahan empat partai baru sekarang ini merupakan puncaknya. Salah satu kelemahan UU Parpol ialah hambatan untuk masuk ke sistem dibikin ketat, tetapi setelah di dalam dibikin enak.

Rasanya sampai lima pemilu sulit dicapai kesepakatan di DPR untuk membuat ambang batas parlemen menjadi 5%, apalagi 7%. Penaikan ambang batas parlemen itu dapat membuat ada partai yang bunuh diri secara legal menurut undang-undang, padahal tepatnya dibunuh konstituen secara politik melalui kontestasi dan kompetisi karena gagal bertindak mewakili aspirasi konstituen.

Ambang batas yang ringan itu sesungguhnya merupakan faktor penting bagi terciptanya 'ruang kosong keterwakilan', kasarnya menambah buruknya keterwakilan, yang mendorong orang membikin partai baru, sekalipun hambatan untuk masuk ke sistem begitu ketat.

Akibat semua itu banyak partai di dalam sistem, tetapi sejauh ini tidak ada partai yang punya suara mayoritas. Mari berandai-andai Pemilu 2019 menghasilkan kedudukan baru.

Katakanlah ada partai yang meraih 30% suara sehingga partai itu sendirian lebih dari cukup dapat mencalonkan presiden pada Pemilu 2024. Katakanlah pula calon itu terpilih menjadi presiden.

Namun, satu perkara tetap eksis, partai itu tidak kuat sendirian memimpin pemerintahan tanpa koalisi di parlemen. Pengakuan tidak kuat sendirian bagi partai yang berkuasa merupakan kejujuran yang kiranya dapat mendorong dipupuk dan dirawatnya kebersamaan partai jangka panjang di dalam pemerintahan dan juga di dalam parlemen.

Pemilu ialah kontestasi dan kompetisi, sesudahnya giliran kemampuan bersama untuk memerintah (governabilitas). Di sisi lain bagi partai guram, kejujuran tidak kuat sendirian kiranya melahirkan kesadaran kolektif untuk melebur berupa gabungan partai yang sepaham.

Bagi yang guram, verifikasi partai untuk tetap bisa berada di dalam sistem kiranya juga terlalu mahal untuk ditanggung sendirian. Semua pernyataan itu terdengar indah, tetapi tetap tidak ada jaminan penyederhanaan jumlah partai bakal terwujud.

Kenapa? Karena partai yang ada sibuk berkuasa dan tetap gagal memaksimalkan derajat keterwakilan partai politik. Karena itu, terbukalah 'ruang kosong keterwakilan' yang menggiurkan elite yang berenergi dan kepincut bikin partai baru.

Dengan kata lain, lahirnya partai baru juga gara-gara partai yang ada menyia-nyiakan aspirasi konstituen.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.