Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Gagasan Menteri Tjahjo Kumolo

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
01/2/2018 05:31
Gagasan Menteri Tjahjo Kumolo
(ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

ADA macam-macam tipe menteri, sekarang ini. Baiklah dipetakan berdasarkan sudut pandang isu kepublikan yang menjadi urusan tiap-tiap menteri. Yang pertama menteri yang berbicara dengan data yang sulit dipercaya, hanya pencitraan kinerja. Contohnya, Menteri Pertanian perihal data produksi pangan dan panen raya.

Bahwa kita sudah swasembada, mulai bawang merah sampai beras. Untuk meyakinkan publik, menteri itu sampai perlu membawa Ketua DPR dan Ketua MPR panen, yang disebutnya sebagai panen raya. Yang kedua menteri yang nyaris tiada terdengar. Contohnya, Menpan dan Reformasi Birokrasi. Isu kepublikan menyangkut aparatur sipil negara memang jarang mencuat.

Lagi pula reformasi birokrasi sepertinya tidak banyak dapat diceritakan kemajuannya. Yang ketiga menteri yang bicara seperlunya saja. Contohnya, Menteri BUMN. Sebagian karena mengurus BUMN jelas ukuran kinerjanya, sebagian lain karena kelakuan aneh DPR yang menolak kehadiran sang menteri.

Yang keempat menteri yang bicaranya terukur. Contohnya Menteri Keuangan serta Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Urusan fiskal menyangkut kecanggihan pengkajian yang akhirnya dikuantifikasikan dalam angka. Postulat yang sama kiranya berlaku untuk urusan hutan dan ekologi.

Yang kelima menteri suka-suka. Contohnya Menteri Kelautan dan Perikanan yang cenderung tidak mendengarkan stakeholder-nya, yaitu nelayan. Juga tidak ingin mempertimbangkan pendapat, daripada kapal ditenggelamkan menjadi besi tua tiada berguna, kenapa tidak kejahatannya diadili, lalu kapalnya disita untuk negara sehingga bermanfaat?

Yang keenam menteri yang berani menghadapi isu kepublikan yang kontroversial. Contohnya, Menteri Perdagangan tentang impor beras dan Menteri Dalam Negeri tentang jenderal polisi menjadi penjabat gubernur di Jawa Barat dan Sumatra Utara. Beras urusan perut rakyat.

Perut lapar tidak dapat dikenyangkan dengan data produksi pangan yang kinclong. Stok beras perkara fakta empiris. Perut lapar tidak kenal prestise nasional swasembada pangan atau kecaman oposisi terhadap impor beras. Membuat dan menjamin perut jutaan rakyat terisi jelas substansial perintah konstitusi.

Karena itu, menterinya wajib berani menghadapi kontroversi. Kontroversi yang sedang hangat saat ini perihal jenderal polisi menjadi penjabat (bukan pelaksana tugas) gubernur Jawa Barat dan Sumatra Utara. Penjabat gubernur diangkat presiden karena masa jabatan petahana berakhir dan yang bersangkutan tidak maju lagi di pilkada (Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi) atau sudah dua kali masa jabatan (Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan), sedangkan pelaksana tugas gubernur ditunjuk menteri, berhubung sang petahana harus cuti di luar tanggungan karena menjadi peserta pilkada.

Sesuai tanggal pelantikan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho lima tahun lalu, yang kemudian digantikan Tengku Erry, masa jabatan Erry berakhir 17 Juni 2018. Adapun masa jabatan Ahmad Heryawan berakhir lebih cepat, 13 Juni 2018. Jelaslah pengisian dua penjabat gubernur tersebut bukan sekarang ini, melainkan kurang lebih empat bulan lagi, sebelum pencoblosan pilkada yang berlangsung 27 Juni 2018 dan rekapitulasi hasil penghitungan suara sampai 9 Juli 2018.

Timbul kontroversi, kenapa jenderal polisi yang digadang-gadang menjadi penjabat gubernur? Kenapa keamanan alasannya? Apakah Mendagri tidak percaya kepada kapolda? Tidak ada bukti bahwa pilgub di dua provinsi itu ricuh. Kecurigaan timbul, bukankah salah seorang cawagub Jabar yang diusung PDIP, partainya Mendagri, jenderal polisi?

Semua pertanyaaan itu mengabaikan fakta objektif bahwa Kementerian Dalam Negeri tidak punya cukup petinggi untuk serentak, sebagian diangkat menjadi penjabat gubernur, sebagian lagi menjadi pelaksana tugas gubernur. Kenapa? Pilgub 2018 serentak berlangsung di 17 provinsi.

Padahal jumlah sekjen, irjen, dirjen, total 9 petinggi. Terjadi defisit 8 petinggi. Bila semua eselon I dikerahkan, Kemendagri mengalami absenteisme petinggi. Pilkada serentak jelas merepotkan Mendagri dalam perkara deployment. Mengimpor pejabat dari kementerian lain atau kepolisian menjadi keniscayaan.

Ada preseden, Irjen Carlo Brix Tewu, yang kariernya sebagai reserse menjulang setelah menangkap Tommy Soeharto, menjadi penjabat Gubernur Sulawesi Barat (30 Desember 2016-12 Mei 2017), sampai pelantikan gubernur baru hasil pilkada. Tidak ada kegaduhan. Dari uraian itu, gagasan Mendagri Tjahjo Kumolo punya basis empiris. "Saya siap terima teguran dari Presiden," katanya. Terus terang, saya suka jawaban itu. Menteri mesti berani pasang badan, bukan malah buang badan.



Berita Lainnya
  • Korupsi Kapan Mati?

    25/3/2026 05:00

    KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.

  • Obor Optimisme

    24/3/2026 05:00

    PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.

  • Merawat Takwa

    23/3/2026 05:00

    PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.

  • Merayakan Perbedaan

    18/3/2026 05:00

    TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.

  • Melonggarkan Sabuk Fiskal

    17/3/2026 05:00

    APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?

  • Silaturahim yang Menyejahterakan

    16/3/2026 05:00

    SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.

  • Perdamaian

    13/3/2026 05:00

    KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia

  • Tepuk Tangan Messi

    12/3/2026 05:00

    BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.

  • Semringah Secukupnya

    11/3/2026 05:00

    PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.

  • Gharbzadegi

    10/3/2026 05:00

    PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.

  • Donny Fattah dan Editorial

    09/3/2026 05:00

    'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai

  • Energi Dunia di Ujung Hormuz

    07/3/2026 05:00

    DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.

  • Dari 25 Hari ke 90 Hari

    06/3/2026 05:00

    APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.

  • Manzelat-e Iran

    05/3/2026 05:00

    DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.

  • Dunia tanpa Tatanan

    04/3/2026 05:00

    HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.

  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.