Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
KITA gembira proyek-proyek infrastruktur yang dibangun sebagian sudah mulai selesai dan bisa digunakan. Tahun ini kita akan merasakan dampak ekonomi dari hasil pembangunan infrastruktur yang sudah selesai dibangun itu, mulai jalan, pelabuhan, bandar udara, kereta api, waduk, irigasi, hingga embung-embung.
Masih banyak proyek yang sedang dalam proses pembangunan. Kita berharap semua bisa berjalan baik dan tidak ada kendala yang harus dihadapi. Alokasi anggaran pemerintah untuk keperluan itu sudah jelas di dalam anggaran pendapatan dan belanja negara. Yang masih kita tunggu ialah investasi yang akan dilakukan swasta.
Satu yang ingin kita ingatkan, di samping persoalan jumlah infrastruktur yang perlu kita bangun, yang tidak boleh dilupakan ialah kualitas. Bahkan, kualitas itu tidak hanya pada hasilnya, tetapi juga yang tidak kalah penting ialah kualitas dalam proses pembangunan. Empat kali sudah setidaknya kita mendengar kabar adanya kecelakaan dalam proyek pembangunan infrastruktur.
Satu di Jawa Timur ketika balok beton jembatan jatuh dan menimpa pekerja hingga tewas. Kemudian kita mendengar dinding beton proyek mass rapid transit di Jakarta jatuh menimpa sepeda motor. Kemudian balok beton di sekitar Jalan Antasari Jakarta ambruk tertabrak truk proyek.
Pekan lalu, grinder light rail train di Rawamangun, Jakarta, roboh. Kecermatan dalam bekerja menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Semua harus dilakukan secara saksama agar tidak menimbulkan korban. Apalagi, proyek infrastruktur berkaitan dengan beban yang berat sehingga kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.
Proses kerja yang baik akan berdampak pada hasil yang baik. Kita bukan sekadar ingin membangun infrastruktur, melainkan juga infrastruktur yang berkualitas. Tanpa hasil pembangunan yang berkualitas, kita akan menghadapi dua kerugian sekaligus. Pertama, biaya perawatan yang lebih mahal.
Kedua, biaya logistik yang tidak menjadi lebih murah. Kita perlu belajar dari pembangunan Tol Cipularang. Kualitas yang buruk dari infrastruktur yang kita bangun itu membuat perjalanan Jakarta menuju Bandung menjadi tidak nyaman karena jalan bergelombang. Belum lagi perawatan yang harus setiap saat dilakukan.
Semua itu bukan hanya merugikan pengguna tol, melainkan juga pihak pengelola yang harus terus-menerus mengeluarkan biaya perbaikan. Hal yang sama kita rasakan di tol lingkar luar dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Jagorawi. Mulai di kawasan Ciledug sampai kawasan Ampera, tidak pernah ada hari tanpa perbaikan.
Itu terjadi pada kedua arah jalan. Bongkar dan lapis jalan setiap hari terjadi. Ironisnya, cara pemberitahuan perbaikan jalan dilakukan secara asal-asalan. Baru menjelang mendekati tempat perbaikan, kita tahu ada tanda jalan menyempit di kiri atau kanan jalan. Akibatnya, setiap malam ada kemacetan luar biasa menuju tempat perbaikan jalan tersebut.
Sering kita bertanya, mengapa kita tidak pernah mau belajar membangun infrastruktur secara benar? Mengapa proyek yang sudah dengan susah payah kita bangun dan menghabiskan ribuan triliun rupiah dikerjakan secara asal-asalan? Apakah tidak bisa para insinyur kita menghasilkan infrastruktur yang berkualitas?
Bayangkan Tol Jagorawi yang selesai dibangun pada 1978 bisa masih mulus terbentang sampai sekarang. Tol pertama milik kita itu dibangun kontraktor asal Korea Selatan. Sementara itu, dua jalur tambahan di sebelahnya yang kita bangun sendiri selalu bergelombang dan tidak bisa dilalui dengan mulus.
Kita tentu tidak bisa mengatakan kontraktor Korea lebih menguasai know-how pembangunan jalan. Sebabnya, kalau kita pergi ke negara tetangga, seperti Singapura atau Malaysia, kualitas jalan yang mereka miliki pun jauh lebih baik daripada kita. Bahkan, nontol di Kuantan, Malaysia, misalnya, bisa mulus dan tidak berlubang sama sekali di tengah jalan.
Kita perlu memperbaiki diri karena kalau tidak, kerja keras kita akan menjadi sia-sia. Jangan lupa tidak lama lagi kita akan menjadi tuan rumah Asian Games XVIII. Setidaknya orang dari 45 negara Asia akan melihat Indonesia dan merasakan infrastruktur yang kita bangun ini. Jangan sampai mereka memandang sebelah mata karena kita tidak mampu menghasilkan pembangunan yang berkualitas.
Kita tidak ingin itu sampai terjadi, yaitu berbagai infrastruktur yang kita bangun menjadi tontonan buruk. Ketika perhelatan Asian Games sedang kita lakukan, bangunan infrastruktur di tengah Jakarta itu ambruk saat sedang dipakai. Keinginan untuk memamerkan LRT produk anak bangsa justru berubah menjadi musibah.
Karena itu, kita harus bekerja lebih bersungguh-sungguh. Kita percaya para insinyur teknik Indonesia sudah menguasai teknologi. Banyak insinyur kita yang bekerja di luar negeri dan mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Persoalan kita bukan terletak pada kemampuan individu, melainkan pembangunan sistem.
Kita memerlukan sistem yang memungkinkan orang bisa bekerja baik dan benar. Sistem itu menghargai mereka yang bekerja baik dan benar, bukan memberikan jalan kepada mereka yang hanya merugikan negara.
KITA boleh saja bosan mendengar, membahas, mengulas, atau menulis tentang topik korupsi di negeri ini.
PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto dua pekan lalu agar bangsa ini bersiap menghadapi situasi yang kian sulit dan menantang patut dibaca bukan sekadar sebagai retorika politik.
PEKAN lalu, di pengujung Ramadan, saya mengikuti ibadah salat Tarawih di masjid sebelah rumah.
TAHUN 2026 menyajikan fenomena sosial keagamaan yang spesial bagi bangsa Indonesia. Jika kita mencermati kalender, ada deretan momentum keagamaan yang berdekatan.
APAKAH dunia kembali memasuki lorong gelap ketidakpastian?
SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran.
KALI ini saya ingin mengupas puisi perdamaian dari bumi Persia, Iran. Sajak tentang perdamaian dan kemanusiaan itu ditulis tiga penyair besar Persia
BANYAK yang bilang bahwa sepak bola ialah bahasa universial. Ia menembus batas negara, ras, ideologi, dan bahkan agama.
PEKAN depan, wajah Republik ini sepertinya akan tampak lebih semringah.
PADA pertengahan 1970-an, intelektual Iran Ali Shariati getol mewanti-wanti bahaya gharbzadegi.
'SERIBU badai silih menghempas Seribu luka perih membekas Ku tetap berdiri ada di sini ada di sini Meski letih lemah lunglai Aku di sini menggenggam nilai
DUNIA kembali diingatkan bahwa jalur sempit selebar sekitar 36 kilometer dapat menentukan stabilitas ekonomi global.
APA makna fakta bahwa daya tahan stok bahan bakar minyak kita cukup untuk 25 hari? Saya kira tidak ada kata lain selain 'rasa waswas'.
DALAM tiap peperangan selalu ada keyakinan. Keyakinan tentang kemenangan kilat.
HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya.
SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved