Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Demokrasi Lintah Darat

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
15/1/2018 05:05
Demokrasi Lintah Darat
(Ilustrasi)

ONGKOS demokrasi mahal, sangat mahal. Bahkan, tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan demokrasi kita ialah demokrasi lintah darat.

Lintah hewan air seperti cacing yang pada kepala dan ujung badannya terdapat alat pengisap darah.

Untuk mengembalikan uang mahar, uang kampanye, uang serangan fajar, uang tim sukses, kepala daerah yang terpilih ditengarai bakal berkelakuan seperti lintah darat, mengisap anggaran negara serakus-rakusnya.

Sejauh ini tidak ada angka yang layak dipercaya, seberapa besar dan bagaimana struktur pengeluaran untuk seorang calon kepala daerah menang pilkada.

Berapa persen dari total biaya itu untuk mahar, membeli kursi partai pengusung?

Jawabnya ada kecenderungan biaya mahar kian menjulang tinggi. Untuk Pilkada 2018, mahar menjadi fenomenal.

Gara-gara mahar, sejumlah pasangan calon kepala daerah baru mendapat kepastian partai pengusung di hari-hari terakhir menjelang pendaftaran.

Mahar itu enak dan juga perlu.

Enak karena tanpa bersusah payah, partai atau oknum pengurus partai mendapat dana segar miliaran rupiah.

Perlu karena mahar itu gizi, vitamin, energi.

Yang enak dan perlu itu nyata terjadi, tetapi barang terlarang itu ditutup-tutupi.

Hanya NasDem satu-satunya partai yang tegas tanpa mahar.

Bahwa mahar itu racun yang faktual, bukan verbal, bukan cerita burung dari mulut ke mulut, baru sekarang ada korban yang berani memaparkannya, membongkarnya.

Kiranya itu perkara bagus, yaitu koreksi bagi demokrasi kita yang telah berjalan amat jauh dalam urusan uang, menjadi demokrasi lintah darat.

Apakah keberanian serupa juga dimiliki Bawaslu RI untuk membongkarnya, setuntas-tuntasnya?

Bawaslu RI punya momentum untuk bermanuver lebih jauh dan lebih dalam.

Cobalah buka pintu lebar-lebar, siapa tahu terjadi surprise.

Begitu banyak orang yang telah membayar mahar, tapi tidak mendapat rekomendasi yang dijanjikan.

Sebetulnya itu tergolong penipuan kelas rendah bertopeng kecanggihan elite partai, mengira korban bakal diam. Sekarang korban berteriak.

Teriakan itu penting untuk dituntaskan kebenarannya.

Mahar awal korupsi yang harus dibabat agar demokrasi kita tidak berkelanjutan menjadi demokrasi lintah darat.

Sebetulnya UU telah berisi ketentuan yang bagus untuk mencegah korupsi, yaitu calon kepala daerah menyerahkan daftar kekayaan pribadi, sehingga ada patokan.

Membengkaknya harta, melampaui patokan itu secara tidak wajar setelah menjabat, petunjuk bagi KPK untuk menelusurinya.

Karena itu, orang mestinya berpikir panjang untuk membayar mahar bermiliar rupiah yang memaksanya kemudian menjadi lintah darat terhadap anggaran negara.

Berdasarkan data yang diperbarui pada 14 Januari 2018 pukul 05.59.43 WIB yang dipublikasikan KPK, sudah 91% calon kepala daerah yang melaporkan harta kekayaan pribadi.

Dari data itu yang paling kaya ialah Jamaluddin Jafar, calon Bupati Pinrang, Sulawesi Selatan, dengan kekayaan Rp8,3 triliun lebih. Persisnya Rp8.358.947.729.645.

Yang paling miskin ialah Nur Salam, calon Wali Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, dengan kekayaan hanya Rp5 juta.

Melaporkan kekayaan yang mencapai Rp8,3 triliun dapat ditengarai punya keberanian untuk jujur, sebaliknya orang luar biasa jujur hanya punya Rp5 juta bertarung dalam pilkada.

Namun, semua itu pernyataan spekulatif karena persoalan besar bangsa ini buruknya kejujuran.

Kecewa perihal mahar politik membuat ada korban yang sekarang berani jujur membukanya.

Kejujuran dalam kecelakaan. Orang bisa berandai-andai, jika yang bersangkutan mendapat rekomendasi maju pilkada, berapa pun mahar yang disepakati bukan soal.

Kata Gombloh, jigong pun terasa cokekat.

Apa urusan dengan demokrasi lintah darat?



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.