Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Separatisme Catalonia

Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group
11/1/2018 05:31
Separatisme Catalonia
(AFP PHOTO / PAU BARRENA)

SEBAGAI penggemar Barcelona, terus terang saya kerap tergelitik pertanyaan, ke manakah klub itu akan bergabung bila Catalonia merdeka memisahkan diri dari Spanyol? Pertanyaan itu kian menggelitik terlebih karena pada pemilu regional tiga pekan lalu (21/12) partai-partai prokemerdekaan Catalonia total meraih 70 dari 135 kursi parlemen.

Catalonia terlalu sempit untuk Barca yang besar. Akan tetapi, ke mana mereka bergabung untuk berlaga? Manajer Arsenal Arsene Wenger menyatakan menolak Barcelona bergabung di Liga Inggris. Semula saya sulit mengerti bahwa seorang yang dibahasakan sebagai profesor seperti Wenger berpikiran tertutup.

Namun, sekarang menilik kehebatan Manchester City saya paham, kenapa Wenger menolak kehadiran Barcelona. Sampai awal pekan ini, di musim ini City di bawah asuhan mantan Manajer Barcelona Pep Guardiola tidak terkalahkan dalam 22 pertandingan. Publik penggemar Liga Inggris bisa menyaksikan Pep mengenakan lambang prokemerdekaan Catalonia di dada kirinya.

Dia pendukung berat Catalonia berpisah dari Spanyol. Barcelona sendiri membahasakan dirinya 'Mes que un club', lebih daripada sebuah klub, yakni catalanisme. Pertanyaannya, apa yang menghidupi catalanisme itu? Raphael Minder, koresponden The New York Times untuk Spanyol dan Portugal, menjawabnya dalam bukunya yang terbaru, The Struggle for Catalonia (Hurst & Company, London, 2017, tebal 355 halaman).

Sedikitnya ada tiga kekuatan besar yang menghidupi perjuangan Catalonia memisahkan diri dari Spanyol. Pertama, di Catalonia sepak bola dan politik tidak pernah terpisah. Bahkan, klub sepak bola Barcelona merupakan senjata nonmiliter Catalonia. Selain mutu pertandingan berkelas dunia, Barca versus Real Madrid ialah pertarungan yang mewakili aspirasi prokemerdekaan melawan pusat.

Tidak mengherankan jika El Clasico dramatik dan atraktif. Kedua, peranan bahasa. Raphael Minder menemukan bahwa tidak ada yang memberi identitas kuat orang Catalan lebih daripada bahasa mereka. Mereka ekstrem membela bahasa Catalan menjadi satu-satunya bahasa resmi di Catalonia.

Akan tetapi, 'Dalam berbagai pertemuan, saya tidak pernah merasa terasing berada di satu meja dengan mereka, karena seketika mereka berubah berbahasa Spanyol Castilian karena saya tidak berbahasa Catalan', tulis Raphael Minder.
Ketiga, peranan media.

Polarisasi politik Spanyol nyata terlihat di media. Tiap media punya ideologi, tetapi surat kabar El Punt Avui menyebut dirinya berideologi lebih jelas dan lebih transparan. Pada 20 November 2011, Mariano Rajoy terpilih sebagai Perdana Menteri Spanyol. Fakta itu menjadi berita di halaman depan. Rajoy terpilih, tetapi kalah di Catalonia.

El Punt Avui tidak mengambil kemenangan itu sebagai sudut pandang pemberitaan, melainkan kekalahan Rajoy, dengan memberinya frame lebih besar. Koran itu menurunkan kepala berita berjudul 'Catalonia bukan Spanyol'. PM Rajoy hingga sekarang bertindak sangat keras terhadap para pemimpin Catalonia yang prokemerdekaan.

Sebaliknya, kendati separatisme Catalonia merupakan agenda politik yang panas, ketika pada 10 Januari 2016 Carles Puigdemont terpilih menjadi Presiden Catalonia, tidak satu pun televisi Spanyol mewawancarainya. Bahkan, Puigdemont sekarang dalam pelarian di Belgia menghindari penangkapan rezim Rajoy.

Pemilu regional Catalonia yang berlangsung tiga pekan lalu merupakan keinginan PM Rajoy. Hasilnya, di luar harapannya, prokemerdekaan unggul. Kata Puigdemont dari pelariannya di pusat Uni Eropa, hasil pemilu itu tamparan ke muka Rajoy. Pernyataannya 'Slap in the face for Rajoy' dikutip menjadi judul berita di berbagai media internasional.

Sampai kapan gairah memperjuangkan Catalonia merdeka bertahan atau malah kian kencang berlanjut? Raphael Minder menutup bukunya dengan menjawab pertanyaan itu menggunakan faktor demografi, yaitu orang muda yang tinggal di luar negeri. Sebagai ilustrasi, ia menginterviu Marc Blay, seorang Catalanian muda yang setelah lulus dari Universitas Pompeu Fabra di Barcelona mulai bekerja di Amsterdam.

Sekalipun bisa mencoblos secara online, pada Pemilu 9 November 2014 Blay memutuskan berangkat ke Brussels. Di situ, di kantor perwakilan Catalonia di Uni Eropa, ia antre 4 jam untuk memberikan pilihannya bersama sesama warga yang prokemerdekaan.
Anak muda itu menyadari bahwa suaranya tidak membuat Catalonia merdeka.

Namun, dia merasa telah menunjukkan gestur politik yang penting. Gestur pertanda bahwa api separatisme tetap membara. Buku yang dibicarakan ini enak dibaca, ditulis dengan kesetiaan bertutur seorang jurnalis yang pernah menjadi koresponden di Paris, Brussels, Sydney, Hong Kong, Spanyol, dan Portugal. Kelemahannya ialah penulis buku langka beropini, juga karena kesetiaan memisahkan fakta dan opini.



Berita Lainnya
  • Tercekik Selat Hormuz

    03/3/2026 05:00

    SELAT Hormuz bukan sekadar ruas perairan sempit sepanjang sekitar 39 kilometer yang memisahkan Iran di utara dan Oman serta Emirat Arab di selatan.

  • Cinta dan Kepedihan

    02/3/2026 05:00

    'HIDUP hanyalah sekejap bayang. Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.

  • Jalan Sunyi Industrialisasi

    27/2/2026 05:00

    POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita

  • Mengorupsi Korupsi

    26/2/2026 05:00

    SOAL korupsi, negeri ini benar-benar jagonya.

  • Membersihkan Seragam Kusam

    25/2/2026 05:00

    SERAGAM cokelat polisi sejatinya bukan sekadar identitas institusi. Seragam itu ialah representasi negara yang paling sering ditemui rakyat di garis depan

  • Utang Budi

    24/2/2026 05:00

    JIKA paspor bisa berganti warna, semoga nurani tak ikut memudar'.

  • Membaca Arah

    23/2/2026 05:00

    PERUBAHAN kian ke sini kian cepat. Ruang dan waktu digilas dalam hitungan detik. 

  • Rem Keserakahan

    20/2/2026 05:00

    "SEANDAINYA anak Adam memiliki dua lembah emas, niscaya ia akan mencari yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian)."  

  • Cuci Tangan ala Jek

    19/2/2026 05:00

    SEJUMLAH tokoh besar menekankan bahwa berani bertanggung jawab ialah salah satu syarat wajib bagi seorang pemimpin.

  • Imsak Kebangsaan

    18/2/2026 05:00

    MARHABAN ya Ramadan. Ramadan kembali mengetuk pintu di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah sepenuhnya reda. Seperti sebelum-sebelumnya.

  • Bahlil Melawan Abuleke

    16/2/2026 05:00

    LIMA tahun lalu (21 Januari 2021), di forum Podium ini saya menulis tentang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

  • Sunyi yang Mematikan

    13/2/2026 05:00

    ADA sejumlah pertanyaan terkait dengan peristiwa bunuh diri anak SD berumur 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur, dua pekan lalu.

  • BPJS yang Mendadak Hilang

    12/2/2026 05:00

    DI negeri ini, yang kerap mendadak bukan cuma banjir bandang, melainkan juga kebijakan. Akibatnya sami mawon, sama-sama menyusahkan rakyat.

  • Antara Empati dan Kepuasan Tinggi

    11/2/2026 05:00

    DUA fakta kontradiktif terkait dengan pemerintahan saat ini baru saja tersaji.

  • Ketika Moral Rapuh

    10/2/2026 05:00

    SAYA tidak habis mengerti, mengapa seorang ketua pengadilan negeri dan wakil ketuanya masih menceburkan diri dalam kubangan korupsi, padahal penghasilan mereka sudah dinaikkan

  • Melampaui Sejarah

    09/2/2026 05:00

    TANGIS Hector Souto pecah saat lagu Tanah Airku bergemuruh membelah Indonesia Arena.